Transaksi REPO (Repurchase Agreement) Part 2

Mengenai apa itu pengertian dan penjelasan awal mengenai REPO, klik saja linkini. Untuk selanjutnya mengenai bagaimana sebenarnya REPO itu, apa keuntungan dan kerugiannya bagi investor? Apakah model transaksi ini memberikan manfaat bagi investor atau justru malah merugikan? Bagaimana risikonya?berikut seperti dilansir okezone.com.

Pada dasarnya transaksi repo adalah bentuk perjanjian pinjam-meminjam uang dengan satu jaminan. Jaminannya bisa berupa saham, surat utang, maupun obligasi. Seperti diketahui, saham dan atau obligasi adalah aset keuangan yang punya nilai. Karena keduanya merupakan aset yang bernilai, maka keduanya bisa dipergunakan sebagai jaminan untuk mendapatkan pinjaman dari pihak ketiga.

Ada juga yang mengartikan repo sebagai transaksi penjualan efek antara dua belah pihak yang diikuti dengan perjanjian di mana pada waktu yang telah disepakati akan dilaksanakan pembelian kembali efek yang sama dengan harga yang telah disepakati.

Dari pengertian di atas, ada lima komponen yang perlu diperhatikan dalam transaksi repo, yakni pihak yang meminjam atau memerlukan uang (seller), pihak yang memberikan pinjaman (buyer), nilai repo, bentuk jaminan (saham, obligasi, atau efek lainnya), suku bunga pinjaman, dan masa jatuh tempo.

Berdasarkan masa jatuh temponya, ada tiga jenis transaksi repo yakniovernight,term, dan open. Overnight berarti transaksi repo dengan masa jatuh tempo satu hari, term berarti transaksi repo di mana tanggal jatuh tempo tertentu sesuai kesepakatan antara kedua pihak yang bertransaksi, dan open berarti transaksi repo yang tidak ditentukan masa jatuh temponya.

Dari sisi transaksi, ada dua jenis repo, yakniclassicrepo dansell/buy backrepo.Classicrepo adalah transaksi repo yang tidak diikuti perpindahan kepemilikan efek atau jaminan. Efek atau jaminan tetap merupakan milik penjual. Jaminan atau efek tidak bisa dijual sebelum repo jatuh tempo. Sedangkansell/buy backrepo adalah transaksi repo yang diikuti oleh transfer efek dan dana antara pihak seller danbuyer.

Gambarannya begini, investor X memiliki saham ABC sebanyak 2.000 lot (atau setara dengan satu juta saham). Harga saham ABC di pasar adalah Rp6.000 per lembar. Artinya, total nilai saham ABC tadi adalah Rp6 miliar. Karena X membutuhkan dana segar dan di sisi lain ia merasa sayang melepas saham ABC ke pasar karena yakin harga saham ABC akan naik, maka X meminjam dana ke Y senilai Rp4 miliar untuk jangka waktu enam bulan dengan bunga 10 persen per tahun. Berdasarkan kesepakatan itu, X menerima uang Rp4 miliar dari Y dan menyerahkan saham ABC sebanyak 2.000 lot ke Y. Tipe Repo yang digunakan adalah sell/buy back repo.

X dan Y sepakat bahwa nilai jaminan minimal adalah 80 persen dari pokok pinjaman. Artinya, jika harga saham ABC turun sehingga total nilainya di bawah Rp5 miliar, maka X harus menambah jaminan ke Y. Baik X dan Y juga sepakat bahwa jika X tidak menambah jaminan sehingga mencapai minimal 80 persen dari pokok pinjaman, maka Y berhak menjual saham ABC ke pasar.

Disepakati juga bahwa, jika saat jatuh tempo kemudian X tidak bisa membayar, maka Y akan menyita dan menjual saham ABC ke pasar. Dan jika hasil penjualan saham ABC masih di bawah utang pokok, maka X wajib membayar kekurangannya plus kewajiban bunga yang belum dibayar.

Nilai repo yang 80 persen dari nilai jaminan di atas hanya sekadar contoh. Dalam praktiknya, treatment terhadap nilai jaminan ini berbeda-beda menurut jenisnya. Jika jaminannya berupa obligasi, maka biasanya nilai reponya sekira 70 persen dari nilai obligasi. Jika reponya saham, maka nilainya mungkin hanya sekira 50 persen dari nilai saham yang dijaminkan. Hal ini karena obligasi dinilai lebih tinggi dari saham karena harga obligasi relatif stabil dibandingkan saham.

Nah, Jika harga saham ABC misalnya turun menjadi Rp5.000, maka X belum wajib menambah (top up) jaminan. Akibat turunnya harga saham di bursa, nilai jaminan turun menjadi Rp5 miliar. Nilai pinjaman tersebut masih 80 persen dari nilai saham yang dijadikan jaminan. Tapi jika harga saham turun menjadi Rp4.500 misalnya, maka X harus melakukan top up sebanyak Rp1 miliar. Jika X tidak melakukan top up, maka Y berhak menjual semua saham milik X tadi. Inilah risiko dari transaksi repo yang harus diketahui investor.

| updated

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *