Tips Menguatkan Skill Menulis di Media Sosial

Siapa di antara anda yang belum punya sebuah akun media sosial? Dari deretan pilihan akun yang ada, pasti anda paling tidak punya salah satu akun tersebut. Terlepas anda aktif atau tidak dalam menggunakannya, kita tentu tahu betapa besar peluang akun-akun media sosial tersebut dalam proses pemasaran sebuah produk di benak masyarakat.

Namun sebelum kita menuju ke sana, ada masalah mendasar yang perlu kita perhatikan, yaitu skill anda dalam menggunakan media sosial. Salah satu skill yang dibutuhkan adalah skill menulis di media sosial. Bila anda punya skill yang cukup baik, biasanya informasi yang anda update di media sosial dibaca oleh akun lain. Bagaimanapun penulisan di media sosial ini adalah sebuah aliran baru dalam dunia tulis menulis. Untuk itu anda harus menguasai teknik tersebut untuk membuat tulisan anda dibaca. Sama sekali tak ada ruginya anda meluangkan waktu barang 15 menit setiap harinya untuk melatih kemampuan ini. Apa saja panduannya?

  1. Ikutilah Aturan Media Sosial

Hal yang sering terjadi adalah seseorang kehilangan follower Twitter, atau tweet orang tersebut tidak pernah dibaca oleh follower karena dia melanggar aturan jejaring sosial. Menulis di jejaring sosial bukanlah semudah anda menuliskan di buku harian anda, setidaknya ada beberapa aturan, atau lebih tepatnya panduan, untuk anda patuhi. Gunanya adalah untuk membangun audiens anda dan membuat diri anda dikenal sebagai sesuatu.

Baca Juga:

Apa saja aturan tersebut? Pertama, berhentilah menuliskan kalimat penjualan yang konstan alias itu-itu saja. Apalagi bila anda menuliskan kalimat yang sama setiap kali pada setiap akun media sosial yang anda gunakan untuk menjual produk anda. Kedua, berinteraksilah dengan audiens anda. Adalah sebuah tubuh tanpa jiwa apabila anda menggunakan media sosial tetapi tidak berinteraksi dengan audiens. Mulailah percakapan, turut share update-an dari audiens yang menarik. Jangan pernah abaikan setiap percakapan yang mereka mulai. Ketiga, bentuklah kesan personal. Meskipun hanya melalui media sosial, orang tentu saja akan lebih nyaman bila tahu bahwa dia sedang berkomunikasi dengan seseorang, bukan mesin penjawab.

Keempat, jadilah profesional. Hal ini dilakukan dengan cara menjaga postingan anda tetap merepresentasikan diri anda sebagaimana anda membentuk citra diri anda selama ini. Kelima, janganlah lupa membangun jaringan. Lewat media sosial yang anda miliki, hubungkan diri anda dengan relasi-relasi lain yang penting dan berpotensi mengembangkan diri anda. Jaringan itu juga akan membuat personal branding anda akan naik di mata audiens.

  1. Membangun Strategi Media Sosial

Anda bisa saja memiliki akun pada setiap jenis media sosial yang populer saat ini. Anda bisa langsung mengupdate postingan anda pada media sosial itu sekarang juga atau kapanpun anda mau selama ada jaringan internet. Namun pertanyaannya adalah, apakah anda memiliki strategi media sosial untuk anda terapkan dalam aktivitas tersebut? Bukannya mau membuat masalah menjadi lebih ribet, tetapi kalau kita tidak memiliki strategi yang tepat, kita hanya akan seperti menuang air di lautan. Bagaimana tidak? Dari akun Twitter saja, di Indonesia ada sekitar 30 juta akun twitter. Katakanlah lima puluh persennya adalah akun palsu ataupun akun yang tidak aktif, ada 15 juta akun Twitter yang update setiap harinya. Kalau anda tidak menggunakan strategi, sebuah update-an anda hanya akan tenggelam oleh ratusan tweet lainnya.

Strategi media sosial ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan strategi yang ada pada poin sebelumnya. Hal yang paling utama adalah berinteraksilah dengan follower atau akun yang menjadi teman anda. Interaksi ini bisa dimulai dengan memulai komunikasi terlebih dahulu, serta menanggapi setiap komentar yang disampaikan oleh akun lain (kecuali komentar spam). Kemudian ketahuilah waktu yang tepat untuk mengepos sesuatu dalam media sosial anda. Ketahuilah pola perilaku orang-orang ketika menggunakan media sosial.

Baca: Kapan Waktu yang Tepat untuk Posting di Facebook?

  1. Teruslah Gali Hal Baru untuk Membuat Konten Progresif

Internet menyediakan beragam informasi, benar-benar beragam dalam jumlah yang sangat besar. Ragam informasi ini sebenarnya adalah peluang bagi kita untuk menyajikan narasi-narasi baru yang penting bagi audiens kita. Narasi tersebut bisa saja kita dapatkan inspirasinya dari cerita—pengalaman orang lain, berita, kutipan, serta menelisik apa yang sedang menjadi hot topic di media-media sosial kita. Menggali harta karun dari sini tentu saja akan menaikkan level kemampuan menulis anda di media sosial. Dengan kata lain, ketika anda mengabaikan proses menggali hal baru ini bisa dipastikan update-an anda di media sosial tak lagi menarik.

Bagaimana cara menggali informasi yang baik? Mau tidak mau kita harus meminjam metode yang sering digunakan oleh para jurnalis untuk menuliskan isu yang akan banyak diminati audiens: peka terhadap hot topic. Untuk bisa mengetahui ini anda memang harus meluangkan waktu barang beberapa menit untuk melihat topik-topik apa sajakah yang sedang ramai diperbincangkan di media, terutama yang relevan dengan bahasan anda. Atau anda juga bisa mengecek tanda pagar atau hastag yang ramai di Twitter. Bila anda dibekali kemampuan yang baik, serta audiens yang loyal, anda juga bisa menjalankan survei untuk menjaring informasi apa saja yang menarik bagi audiens. Namun ketika anda benar-benar tertekan situasi, cobalah memeras kreativitas dengan menulis sesuatu yang berangkat dari kutipan orang-orang tersohor soal sesuatu yang sedang booming belakangan ini.

  1. Pelajarilah Trik Menulis di Media Sosial Twitter

Barangkali Twitter adalah media sosial tersederhana yang bisa anda miliki saat ini. Berbeda dengan media sosial lainnya, Twitter menawarkan timeline yang cepat sekali berganti dalam hitungan menit saja. Namun jangan pernah anda bayangkan menulis di media sosial Twitter adalah hal mudah yang bisa anda kuasai dalam hitungan menit saja. Menulis tweet mungkin memang mudah, tetapi menyampaikan sesuatu dengan jelas, menarik, dan mengena di benak audiens dalam (maksimal) 140 karakter bisa jadi menimbulkan kesulitan sendiri bagi anda. Menurut riset yang ada, orang-orang cenderung akan lebih mudah menuliskan di media sosial sebanyak 170 karakter untuk menyampaikan maksudnya dengan jelas. Bahkan ada anekdot yang mengatakan bahwa menulis novel bisa jadi lebih mudah daripada menulis di Twitter karena lebih bisa mengeksplorasi ide anda tanpa harus memampatkan sana sini.

Ada sebuah teori yang sedikit rumit untuk menjelaskan masalah ini. Cobalah anda bandingkan ketika anda membaca tweet yang berisi 50-70 karakter dengan tweet sepanjang 140 karakter. Dari situ anda diminta untuk melihat ‘jeda’ atau ‘ruang kosong’ yang ada pada kedua jenis tweet tersebut. Ruang kosong itu hanya bisa dirasakan ketika anda membaca. Semakin sedikit ruang kosong yang ada, maka semakin efektiflah tweet anda untuk dibaca oleh audiens. Metode lain yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi tweet yang baik adalah anda bisa membacanya dengan satu tarikan nafas saja.

  1. Mencantumkan Tautan Sumber Informasi

Di dunia ini barangkali tidak ada hal yang benar-benar baru, begitu pula dalam dunia maya. Sesuatu yang baru itu mereferensi pada hal lain yang sudah terlebih dahulu ada. Dalam penulisan pada media sosial, seringkali anda akan menemukan diri anda tidaklah menuliskan hal yang baru, tetapi lebih kepada penguatan atau penyangkalan argumentasi, ataukah sekadar deskripsi dan tambahan informasi saja. Nah, untuk itu bersikaplah fair dengan cara mencantumkan tautan sumber informasi tersebut dengan benar. Selain untuk menjaga etika bisnis di media sosial, mencantumkan tautan tersebut akan menghindarkan diri anda dari tuduhan plagiasi. Tentu saja keuntungan lainnya adalah anda berpeluang untuk membangun jaringan yang lebih luas dengan berbagai sumber yang anda jadikan referensi. Jangan lupa, jaringan tersebut akan menaikkan kredibilitas anda di mata audiens anda.

Ada beberapa bentuk mencantumkan tautan yang bisa anda gunakan ketika menulis. Misalnya, menggunakan kalimat “Kerja keras adalah hal mutlak yang harus dilakukan untuk menjadi kaya,” tulis carajadikaya.com. Atau bisa juga anda menuliskan “Sebagaimana dipaparkan dalam carajadikaya.com, kerja keras adalah hal mutlak..bla..bla..” Metode-metode pengutipan atau sekadar penyebutan sumber referensi anda ini bisa anda gunakan seturut kreativitas anda masing-masing.

  1. Singkirkan Ego Diri Ketika Menulis di Media Sosial

Sesuai dengan istilah sosial yang melekat di belakang kata media, hal ini menunjukkan bahwa perkara ini adalah perkara berhubungan dengan orang banyak, dengan komunitas anonim dunia maya yang secara kuantitas lebih besar dari diri anda. Maka bisa dipahami ketika anda harus menyingkirkan ego anda sebagai satu-satunya penggagas konten di media sosial yang menghasilkan kekuatan untuk mengubah dunia. Lantas apa kata kunci paling tepat untuk menyingkirkan ego ini? Jawabannya tak lain adalah saling keterhubungan atau interkonektivitas.

Interkonektivitas adalah kunci di mana informasi dapat disebarluaskan dan memberikan sifat edukatif bagi para audiens. Ada berbagai strategi untuk itu, paling tidak ada dua yang bisa kami tuliskan di sini. Pertama, jalinlah hubungan baik dengan media. Hal ini bisa diwujudkan dengan berinteraksi secara konsisten dengan jurnalis, ataupun admin yang mengelola media sosial mereka. Pilihan cara kedua adalah jalinlah hubungan dengan sebuah gerakan atau komunitas yang gencar bergerak pada bidang tertentu. Hal ini akan membuat nama akun anda dikenal di benak admin yang bertugas. Gunanya adalah mereka akan terus melibatkan anda dalam diskusi ataupun penyebaran informasi mengenai suatu hal.

  1. Gunakan Media Sosial untuk Membangun “Merek” Diri Anda

Jangan lupa, media sosial juga bisa anda gunakan untuk membangun merek atau citra yang ingin anda bangun di benak publik soal diri anda. Seorang penulis yang handal barangkali akan dengan cepat menuliskan apa yang sedang nge-hits belakangan ini di kalangan audiens. Namun seorang penulis media sosial yang baik akan melakukan hal itu sambil tetap memperkuat branding diri anda melalui setiap update-an tulisan yang anda bagikan.

Itu tadi tujuh tips menguatkan skill atau kemampuan menulis anda di media sosial. Seperti halnya keterampilan yang lain, peningkatan kemampuan ini juga membutuhkan proses yang panjang dan seringkali melelahkan. Namun tetaplah pegang teguh goal yang telah anda tentukan pada awal perjuangan, jagalah diri untuk tetap produktif, dan kemudian bersiaplah menikmati tuaian dari banyak hal baik yang telah anda tanam.

 

Artikel Menarik

loading...

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Artikel Diatas?

Komentar Dengan Facebook

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *