Tips Menabung Untuk Dapatkan Barang Impian Seperti Handphone

Menabung itu sebenarnya sesederhana melatih disiplin dalam mengelola uang. Tidak menggunakan uang secara berlebihan yang menyebabkan kekurangan apalagi sampai berhutang. Lebih baik Anda memiliki simpanan, kan, daripada hutang? Tapi, menabung juga bukan perkara mudah untuk diterapkan.

Siapapun ingin rumah, mobil, sepeda motor atau barang lainnya yang harganya mahal. Dengan melihat kenyataan yang ada, barang-barang tersebut mahal harganya. Mau tidak mau keinginan pun harus dipendam. Padahal siapapun bisa memiliki mobil, rumah atau benda-benda mahal lainnya. Asalkan tahu cara dan kiatnya, barang-barang tersebut pasti bisa diperoleh. Berikut tips-tipsnya.

Tentukan Prioritas Harga

Perlu diingat dengan kemampuan keuangan diri sendiri. Selain perencanaan yang matang, tidak mungkin semua barang idaman bisa langsung didapatkan dengan segera. Untuk barang mahal perlu dikelompokkan pada skala prioritas.

Tak jarang kita menjadi bingung dengan prioritas kebutuhan. Misal pilih rumah atau kendaraan. Bila keduanya demikian penting, kita bisa mengelompokkan dengan melihat harganya. Mulai dari harga yang mahal, sedang atau murah. Berbeda dengan pekerja kantoran, mungkin kebutuhan akan kendaraan berada di nomor urut kesekian. Yang utama adalah tempat tinggal. Bukan tidak mungkin, setelah kebutuhan rumah sudah terpenuhi, kebutuhan berikutnya adalah barang-barang elektronik. Apapun wujudnya, setiap keluarga harus memprioritaskan kebutuhannya berdasarkan pada skala kepentingan.

Menentukan skala harga juga penting. Barang-barang dengan harga sedang atau murah biasanya tidak perlu adanya perencanaan matang. Bahkan bisa langsung dibeli begitu diperlukan. Berbeda dengan barang dengan harga jutaan rupiah. Perlu rencana matang sekaligus disiplin menabung dalam jangka waktu tertentu.

Rencana Matang

  1. Menabung rutin per bulan. Misal gaji Anda 3 juta rupiah. Sisihkan 10~20% yakni antara Rp 300.000~ Rp 600.000. Keuntungannya dana yang terkumpul bisa dihitung. Masalahnya jarang ada orang yang memiliki komitmen tinggi untuk melakukan hal ini, apalagi secara konstan dengan nilai yang sama apalagi lebih.
  2. Menabung non rutin tapi pada saat dapat bonus. Keuntungannya dana yang diperoleh langsung besar tapi dana yang terkumpul membutuhkan waktu yang relatif lama.
  3. Menabung rutin ditambah bonus. Lakukan hal ini. Dengan begitu tarjet lebih mudah terealisasi. Misal dalam satu tahun uang tabungan Anda Rp 3.600.000 ~ Rp 7.200.000 ditambah bonus satu tahun misal Rp 4.000.000 bisa dihitung sendiri total angka yang diperoleh.

Masalah klasik dan sering muncul adalah komitmen menabung begitu rendah. Seberapa besar gaji seseorang jika ia tidak pandai mengatur, pada bulan berikutnya akan selalu habis.

Motivasi dan komitmen tinggi

Ada orang rela mengurangi kebutuhan lainnya. Misal ia ingin membeli motor. Dia berhitung cermat pengeluaran setiap hari agar ia memperoleh motor tersebut dalam waktu setahun. Dari contoh kasus ini dapat disimpulkan bahwa keberhasilan seseorang mendapat barang idaman ditentukan oleh motivasi dan komitmen yang tinggi.

Pilih sistem

Bagus tidaknya sistem menabung menjadi pilihan turut menentukan keberhasilan seseorang. Contohnya tidak semua orang merasa cocok dengan menabung datang ke bank untuk menabung.

Nah, tipe ini bisa meminta perusahaan untuk memotong uang gajinya kemudian mentransfer ke rekening bank yang ditunjuk. Bisa juga menyimpan uang dalam bentuk logam mulia atau emas. Intinya, semakin ora merasa cocok saat menabung, semakin menentukan keberhasilan seseorang dalam memenuhi keingiannya.

Jangan memaksa diri

Masalah yang sering terjadi adalah minimnya uang simpanan semenara gaji pas-pasan. Sebaiknya jangan mematok tarjet yang tinggi bila jelas-jelas tak mampu meraihnya. Hitung kembali uang yang diperoleh, uang tabungan, pengeluaran tiap bulan. Katakanlah downpayment sebuah rumah adalah Rp 30.000.000 dan kita bertekad mendapatkan uang sebesar itu dalam waktu satu tahun. Itu berarti kita harus menabung Rp 2,5 juta per bulan. Padalah jika gaji Rp 3 juta, yang tersisa hanya Rp 500.000 saja. Kalau ini dipaksakan bisa merusak stabilitas kehidupan.

Namun jika tarjet tidak hendak diubah, mau tidak mau kita harus menutup kekurangan tersebut dengan mencari penghasilan tambahan. Strategi lainnya adalah dengan memperpanjang tarjet pembelian. Bila sebelumnya 3 tahun bisa diubah menjadi 6 tahun. Langkah ini bisa mengurangi pengeluaran dan menambah jumlah tabungan tiap bulannya. Namun cara ini sulit dilakukan apalagi tidak ada kebutuhan lain yang bisa dikurangi. Tarjet haruslah realistis sesuai kemampuan. Yang perlu diingat adalah harga barang cenderung naik. Kita harus pula mempersiapkan kemungkinan ini.

Kredit pilihan

Bagi mereka yang tidak cocok dengan menabung, ada cara lain yang pas yakni kredit. Tapi harga total barang bisa jauh lebih mahal. Misal dengan cash harganya 30 jutaan tapi kalau kredit bisa mencapi 50 juta. Ini karena ada tambahan bunga.

Bila kredit jadi pilihan, sebaiknya angka angsuran tidak lebih dari 30% dari total pendapatan setiap bulan. Jika pendapatan berkisan tiga jutaan, maka nila angsuran jangan lebih dari 900 ribu.

Jika hal ini dipaksakan secara keseluruhan, maka keuangan pasti akan terganggu. Bukankan kita juga harus memikirkan pengeluaran yang lain. Transportasi makan, maupun pengeluaran bulanan seperti telpon, listrik dan air.

Hal yang perlu diperhatikan dalam mengambil kredit adalah uang muka. Bila rumah yang hendak dibeli seharga Rp 200 juta. Maka uang muka yang harus dibayarkan adalah Rp 60 juta. Bila tidak memiliki simpanan, itu artinya harus berjuang mengumpulkan dulu. Begitu terkumpul segera ambil kredit.

Jangan utak-atik gaji

Suatu saat, setiap keluarga pasti memiliki pengeluaran yang tak terduga. Tutuplah pengeluaran tak terduga itu dari dana simpanan. Jangan dari gaji. Gaji tetap digunakan untuk pengeluaran harian.

Untuk mengetahui apakah pengeluaran itu termasuk rutin atau bukan, cobalah golongkan lewat pengeluaran per hari atau per bulan. Contohnya adalah biaya pangan, transportasi, telpon, listrik adalah biaya rutin. Sedangkan membeli baju, handphone, tas, sepatu bukan masuk dalam pengeluaran rutin.

Dengan begitu, kalau uang simpanan memang tidak ada, tunda dahulu pembelian barang yang tidak masuk pengeluaran rutin. Kalau dipaksakan akan mengganggu stabilitas keuangan.

| updated

22 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *