Strategi Investasi Properti Cipto Junaedy

Anda pasti tahu bahwa harga investasi properti bisa dikatakan investasi yang paling ganas kenaikannya. Harga tanah di suatu tempat bisa melambung hingga beberapa kali lipat dalam jangka waktu beberapa tahun saja. Terutama bila di daerah tersebut ada perencanaan yang jelas soal pembangunan, pendirian sekolah, pusat perbelanjaan, dan sebagainya.

Lantas, apa yang biasanya dilakukan seseorang untuk memiliki sejumlah properti untuk dijadikan investasi? Bisa dipastikan mereka akan mengeluarkan sejumlah uang yang banyak dari tabungan mereka untuk membeli properti tersebut. Properti bisa berupa tanah, rumah, rumah kos, toko, gedung, dan sebagainya. Atau sebagian yang lainnya memanfaatkan fasilitas KPR yang disediakan oleh sejumlah bank.

Beberapa di antara anda juga mungkin akan membutuhkan jasa perencana keuangan untuk menimbang investasi yang akan anda lakukan dilihat dari kondisi keuangan yang anda miliki saat ini. Hal ini penting supaya anda tidak salah langkah ketika ambil investasi, bukanya mendapat untung tapi malah buntung kantong yang anda bawa pulang.

Baca: Mengapa Kita Butuh Financial Planner?

Di Indonesia, perbincangan tentang investasi properti ini banyak dilakukan oleh sejumlah kalangan. Beberapa nama pembicara yang memiliki gagasan-gagasan yang mencengangkan tentang bisnis dan investasi mulai menyeruak di antaranya. Salah satu yang ramai diperbincangkan adalah sosok bernama Cipto Junaedy, dengan kutipan terkenalnya ?angan suka mengutang.?r

Dalam berbagai seminar dan buku yang dia terbitkan soal bisnis dan investasi, kata utang itu hampir selalu dia cantumkan. Namun kita didorong untuk tidak berutang, justru kita dilarang untuk berutang. ?arangan?untuk berutang itu menurutnya perlu untuk diterapkan dalam setiap sendi kehidupan dan bisnis kita, termasuk pada investasi properti.

Beli Properti Tanpa Utang

Kutipan ini jelas berbau kontradiktif dengan apa yang selama ini kita dapatkan dari situs ini. Kami telah menginformasikan kepada anda soal bagaimana cara pengajuan KPR, take over KPR, dan hal-hal yang mendorong anda untuk tidak takut berutang pada bank untuk kemudian menjalankan uang yang ada lewat berbagai investasi. Namun tenang, kami tidak bermaksud kontradiktif, tetapi lebih kepada memberikan anda perspektif yang lebih luas mengenai banyak hal. Pada akhirnya nanti, andalah yang hendak memutuskan akan melakukan apa untuk menanamkan investasi dalam hidup anda.

Menurut informasi yang beredar, Cipto Junaedy memang memiliki strategi tersendiri untuk bisa menerapkan prinsipnya tersebut. Sekadar informasi, prinsip ini dianggap menjadi antitesis dari prinsip investasi yang dikemukakan oleh Kiyosaki maupun Dolf De Roos. Dolf De Roos, seorang pakar properti dunia, menekankan kepada kita untuk tidak menggunakan emosi maupun rasa suka-tidak suka terhadap calon properti yang hendak kita beli. Kesampingkan perasaan itu dan fokuslah pada untung dan rugi saat akan membeli. Bahkan kita dilarang untuk fokus pada pemikiran yang berharap nanti harganya akan naik, melainkan kita diminta fokus untuk mendapatkan untung pada saat membeli.

Dolf De Roos mengingatkan kita menggunakan rumus 100:10:3:1 yang berarti bahwa anda perlu melihat 100 properti, kemudian melakukan penawaran atas 10 properti yang telah anda lihat itu. Dari 10 itu pilihlah 3 properti untuk dibuat rencana pembiayaannya, setelah itu barulah beli 1 properti yang harganya di bawah harga pasar. Nah, Dolf De Roos dalam ajarannya ini tidak melarang kita untuk berutang ketika akan membeli properti. Inilah satu hal besar yang dilawan habis-habisan oleh Cipto Junaedy.

Dari berbagai sumber disebutkan bahwa Cipto Junaedy ini memiliki tiga pantangan yang menjadi dasar bagi dirinya untuk berhasil di bidang properti. Tiga pantangan ini jugalah yang kemudian dibagikan kepada audiens yang hadir di seminarnya, ataupun sebagian di antara anda yang membaca bukunya. Pantangan tersebut pasti akan membuat kita bertanya-tanya, tetapi ketika kita sudah mengetahui argumentasinya, anda akan memahami mengapa tips yang dia bagi memang cenderung masuk akal.

Jangan membayar properti dari hasil bisnis atau gaji. Ini adalah pantangan pertama, kita tidak disarankan untuk menggunakan pemasukan kita, baik dari bisnis ataupun gaji untuk membayar investasi properti. Alasannya cukup masuk akal bagi kita, yaitu kedua sumber dana tersebut terlalu berrisiko bila dijadikan sumber dana kita untuk membayar investasi properti. Keuntungan bisnis kita bisa berfluktuasi, kadang tinggi, kadang juga rendah. Kalau tinggi kita merasa aman untuk membayar, tetapi bagaimana jika bisnis kita sedang mencapai titik yang rendah?

Jangan membayar properti dari hasil sewa. Seringkali strategi yang kita pikirkan sungguh berbanding terbalik dengan pantangan kedua ini. Kita barangkali berpikir untuk melakukan kredit atas sebuah properti, katakanlah rumah sewa ataupun rumah toko. Properti tersebut kemudian kita sewakan dengan besaran tertentu kepada mereka yang akan menggunakannya. Di negara yang ekonominya sudah mapan, strategi ini bisa diterapkan. Namun ketika diterapkan di Indonesia yang suku bunganya bisa mencapai 12 hingga 14 persen per tahun, belum ditambah dnegan angsuran pokoknya, biaya sewa yang dibayarkan kepada anda tidak akan mencukupi. Ketika kita menaikkan harga sewa hingga begitu tinggi, ada kekhawatiran tidak akan ada pihak yang sanggup menyewa. Nah, itulah mengapa pantangan kedua ini muncul.

Jangan membayar properti dari bisnis yang dianggap sebagai sumber passive income. Pertama-tama kita sepakati dulu bahwa passive income adalah penghasilan yang kita dapatkan secara terus menerus tanpa kita harus melakukan aktivitas pekerjaan tertentu secara berkala. Hal ini bisa anda dapatkan dari beberapa ceruk bisnis seperti sewa properti, royalti, lisensi, uang pensiun, dan sebagainya. Bisnis ini bisa dibilang menguntungkan karena anda hanya perlu melakukan sesuatu yang besar di awal, di tengah-tengahnya anda hanya melakukan pemantauan bisnis saja. Apa sebab tidak boleh digunakan untuk membayar properti? Layaknya bisnis lainnya, fluktuasi juga terjadi di sini. Pendapatan yang berasal dari passive income tak bisa dikatakan stabil, mengingat selalu ada inflasi dan penurunan nilai barang. Itulah yang jadi alasan mengapa tidak disarankan.

Baca: Meraup Rupiah dari Passive Income

Namun kita tentu tahu bahwa pantangan saja tidak cukup untuk menjelaskan strategi investasi Cipto Junaedy. Mengetahui pantangan saja tidak cukup menjawab pertanyaan, ?ika bukan dari utang, lantas dari mana kita bisa bayar properti??r

Nah, jawaban itu sebenarnya ada di dalam setiap seminar yang ditawarkan oleh Cipto Junaedy, dan di dalam tiap buku yang ditulis olehnya. Seminar ini barangkali relatif mahal, tetapi anda bisa mendapatkan beragam keuntungan dan pengetahuan soal investasi properti.

Meski demikian kami akan menyinggung sedikit prinsip yang menjadi petunjuk atas jawaban tersebut. Prinsipnya tadi kan membeli properti tanpa utang, tanpa uang. Kami menangkap maksudnya adalah bukannya tanpa uang, tetapi tanpa kita harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang banyak. Caranya adalah dengan menggunakan uang orang lain, misalnya, dengan memanfaatkan media/advertising spot. Cara ini mengajarkan strategi untuk menawarkan pada perusahaan periklanan untuk memasang iklan di lahan yang kita inginkan. Cara kedua adalah turut menjadi agen properti dan melakukan lobi serta memanfaatkan jaringan pemasaran yang bagus.

Demikian petunjuk yang bisa kami sampaikan kepada anda. Pada dasarnya memang ada banyak cara dan strategi yang bisa anda terapkan untuk dapat menguasai properti yang anda inginkan. Selamat berupaya!

Artikel Terkait