Prospek Harga Batubara

Bisnis batubara di Indonesia adalah peluang bisnis yang terkesan sangat makro, terutama bagi anda yang masih awam dalam dunia energi dan pertambangan. Meski demikian, tampaknya kita tetap perlu memahami apa yang terjadi dalam area bisnis ini, supaya suatu saat nanti ketika kesempatan itu datang kita tahu apa yang harus kita lakukan. Untuk itu lewat artikel ini kami akan membagikan kepada anda, baik yang sudah berkecimpung di dunia batubara atau belum, soal prospek harga batubara di Indonesia pada tahun 2015 ini.

Pada dasarnya kita tentu telah mengetahui bahwa batubara adalah salah satu sumber energi terpenting untuk pembangkitan listrik dan berfungsi sebagai bahan bakar pokok untuk produksi baja dan semen. Fungsi yang demikian tentu saja sangat vital bagi berlangsungnya kehidupan negara ini, baik dalam penyediaan listrik maupun pembangunan.

Meski begitu, batubara rupanya juga mengandung karakter negatif yaitu disebut sebagai sumber energi yang paling banyak menimbulkan polusi akibat tingginya kandungan karbon. Kita tentu pernah lihat bagaimana asap pabrik yang keluar berwarna hitam, bukan? Bila dibandingkan dengan sumber energi penting lain, sepertigas alam, memang ini memiliki tingkat polusi yang lebih sedikit namun lebih rentan terhadap naik turunnya harga di pasar dunia. Maka dapat dipahami ketika semakin banyak industri di dunia mulai mengalihkan fokus energi ke batubara.

Indonesia-investmen.com mencatat dengan baik soal produksi batubara di dunia. Bila kita melihat tingkat produksi batubara saat ini, para peneliti memprediksi bahwa cadangan batubara global akan habis sekitar 112 tahun lagi. Namun ini terjadi apabila tidak ada cadangan baru yang ditemukan. Untuk saat ini, cadangan batubara terbesar ada di Amerika Serikat, Russia, Cina, dan India.

Sepuluh Besar Negara Produsen Batubara Tahun 2014

1. Cina 1840.0 Mt 6. Rusia 165.1 Mt
2. USA 500.5 Mt 7. Afrika Selatan 144.7 Mt
3. Australia 269.1 Mt 8. Kazakhstan 58.4 Mt
4. Indonesia 258.9 Mt 8. Polandia 57.6 Mt
5. India 228.8 Mt 10. Kolombia 55.6 Mt

Sumber: BP Statistical Review of World Energy 2014


Produksi dan Ekspor Batubara Indonesia

Negara kita adalah salah satu produsen dan eksportir batubara terbesar di dunia. Sejak tahun 2005, semenjak kita mengungguli produksi dari Australia, Indonesia saat ini adalah eksportir terdepan batubara thermal. Sebagian besar batubara thermal yang diekspor terdiri dari jenis kualitas menengah (antara 5100 dan 6100 cal/gram) jenis kualitas rendah (di bawah 5100 cal/gram) di mana sebagian besar permintaan berasal dari Cina dan India. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Kementerian Energi Indonesia, cadangan batubara Indonesia diperkirakan habis sekitar 83 tahun apabila tingkat produksi saat ini diteruskan. Berkaitan dengan cadangan batubara global, Indonesia saat ini menempati peringkat ke-13 dengan sekitar 0.6 persen dari total cadangan batubara global terbukti berdasarkan Tinjauan Statistik BP tentang Energi Dunia. Sekitar 60 persen dari cadangan batubara total Indonesia terdiri dari batubara kualitas rendah yang lebih murah (sub-bituminous) yang mengandung kurang dari 6100 cal/gram.

Sejumlah kantung cadangan batubara yang lebih kecil terdapat di pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, namun demikian tiga daerah terbesar sumberdaya batubara Indonesia adalah:

1. Sumatra Selatan
2. Kalimantan Selatan
3. Kalimantan Timur

Industri batubara Indonesia agaknya hanya dikuasai oleh produsen besar dan banyak pelaku skala kecil yang memiliki tambang batubara kecil dan konsesi tambang batubara (terutama di Sumatra dan Kalimantan).

Sejak awal tahun 1990an, ketika sektor pertambangan batubara dibuka kembali untuk investasi luar negeri, Indonesia mengalami peningkatan produksi, ekspor dan penjualan batubara dalam negeri. Penggunaan batubara dalam negeri secara relatif masih rendah. Ekspor batubara Indonesia berkisar antara 70 sampai 80 persen dari produksi batubara total, sisanya dijual di pasar domestik. Produksi, ekspor dan penjualan dalam negeri diperkirakan meningkat paling sedikit sepuluh persen setiap tahun selama lima tahun ke depan.


Produksi, Ekspor dan Konsumsi Domestik Batubara di Indonesia:

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
Produksi 194 217 240 256 275 353 383 421
Eksport 144 163 191 198 208 272 304 349
Konsumsi 49 61 49 56 67 80 79 72

dalam juta ton
Sumber: KementerianEnergi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)

Lantas, apa yang mendorong peningkatan produksi dan ekspor batubara di Indonesia?

  • Batubara adalah kekuatan dominan di dalam pembangkitan listrik. Paling sedikit 27 persen dari output energi total dunia dan lebih dari 39 persen seluruh listrik dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga batubara karena kelimpahan batubara, perolehan batubara yang relatif mudah dan murah, termasuk murahnya kebutuhan infrastruktur dibandingkan dengan sumberdaya energi lain.
  • Indonesia memiliki cadangan berlimpah untuk batubara kualitas menengah dan rendah. Jenis batubara ini dijual dengan harga kompetitif di pasar internasional (sebagian karena upah tenaga kerja Indonesia yang rendah).
  • Indonesia memiliki posisi strategis untuk pasar raksasa China dan Indonesia. Permintaan batubara kualitas rendah dari kedua negara ini naik tajam karena kedua negara ini membuka beberapa pembangkit listrik tenaga batubara baru suplai kebutuhan listrik penduduk yang besar. Permintaan batubara global pada kenyataannya diperkirakan melampaui produksi batubara untuk lima tahun ke depan sehingga berimplikasi pada naiknya harga batubara.
  • Konsumsi batubara dalam negeri di Indonesia masih cukup rendah. Meningkatnya produksi nasional dan permintaan internasional menghasilkan ekspor yang lebih tinggi.

Negara tujuan utama ekspor untuk batubara Indonesia adalah China, India, Jepang dan Korea. Batubara memiliki peran yang sangat jelas untuk pendapatan dalam negeri Indonesia karena komoditas ini menghasilkan sekitar 85 persen dari pendapatan sektor pertambangan.


Prospek Masa Depan Sektor Pertambangan Batubara Indonesia

Peningkatan komoditas pada era 2000an menghasilkan keuntungan yang signifikan untuk perusahaan-perusahaan yang bergerak di dalam ekspor batubara. Kenaikan harga komoditas ini – sebagian besar – dipicu oleh pertumbuhan ekonomi di negara berkembang. Namun demikian, situasi yang menguntungkan ini berubah pada saat terjadinya krisis keuangan global pada tahun 2008 ketika harga batubara menurun begitu cepat. Indonesia terkena pengaruh faktor eksternal karena ekspor komoditas (untuk batubara danminyak sawit) menghasilkan sekitar 50 persen dari ekspor total Indonesia, sehingga membatasipertumbuhan PDBtahun 2009 sampai 4.6 persen (yang boleh dikatakan masih cukup baik, terutama didukung oleh konsumsi domestik). Pada paruh akhir tahun 2009 sampai awal 2011 harga batubara global mengalamirebound. Namun demikian, penurunan aktifitas ekonomi global telah menurunkan permintaan batubara, sehingga menyebabkan penurunan harga batubara yang dimulai dari awal tahun 2011.

Hal ini menunjukkan bahwa – pada umumnya – keuntungan di dalam industri batubara akan dibatasi di masa mendatang. Akan tetapi, apabila kita mempertimbangkan jangka waktu yang lebih panjang – saat aktifitas ekonomi global kembali pulih – permintaan dari Cina dan India diperkirakan mengembalikan bisnis batubara menjadi sangat menguntungkan (permintaan Cina diperkirakan meningkat dua kali lipat antara tahun 2011 dan 2016 menjadi 6 miliar ton). Gambaran masa depan yang menjanjikan ini adalah alasan utama selama beberapa tahun belakangan banyak perusahaan Indonesia telah memulai – atau berencana untuk memulai – memperluas usaha ke industri pertambangan batubara nasional, bahkan dalam beberapa contoh mengganti kegiatan usaha pokok perusahaan. Dengan memperhatikan peningkatan harga energi dan kelangkaan sumber energi, harga pasaran batubara akan menjadi lebih mahal di masa mendatang. Untuk sebagian besar perusahaan di Indonesia, fakta ini adalah rangsangan untuk mulai memperoleh cadangan batubara saat ini. Banyak Perusahaan besar sepertiAstra International,Semen Indonesia(industri semen) danPerusahaan Listrik Negara(listrik) – dua perusahaan yang disebutkan terakhir di atas sangat bergantung pada suplai batubara – saat ini sedang melakukan investasi pertambangan batubara untuk membangun rantai nilai menyeluruh di dalam bidang usaha pertambangan dan energi sekaligus menjamin pasokan di kemudian hari dan untuk melindungi perusahaan dari fluktuasi harga batubara global. Saat ini, memiliki perusahaan batubara telah menjadi tren bagi masyarakat kaya dan perusahaan di Indonesia.

Walaupun kesadaran global telah dibangun untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, perkembangan sumberdaya energi terbarukan tidak menujukan indikasi bahwa ketergantungan pada bahan bakar fosil (terutama batubara) akan menurun secara signifikan dalam waktu dekat, sehingga batubara terus menjadi sumberdaya energi vital. Namun demikian, teknologi batubara bersih pertambangan batubara akan sangat diperlukan di masa mendatang (sebagian karena faktor komersil) dan Indonesia diharapkan dapat terlibat secara aktif di dalam proses tersebut sebagai pelaku utama di sektor pertambangan batubara. Teknologi batubara bersih ini difokuskan untuk mengurangi emisi yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga batubara namun belum berkembang cukup baik. Kegiatan hulu yang terkait dengan pertambangan batubara, seperti pengembangan wadukcoalbed methane(CBM) yang potensinya dimiliki oleh Indonesia, telah menerima perhatian belakangan ini.

Kebijakan Pemerintah Indonesia akan mempengaruhi industri pertambangan batubara nasional. Untuk memperoleh suplai dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral Indonesia meminta para produsen batubara untuk mencadangkan jumlah produksi tertentu untuk konsumsi dalam negeri. Selain itu, pemerintah dapat mengenakan pajak ekspor untuk mengurangi ekspor batubara. Pemerintah bertujuan agar konsumsi domestik batubara lebih banyak untuk suplai batubara sekitar 30 persen dari pencampuran energi nasional pada tahun 2025:

Energy Mix
2011
Energy Mix
2025
Minyak Bumi 50% 23%
Batubara 24% 30%
Gas Alam 20% 20%
Energi Terbarukan 6% 26%

Sumber: KementerianEnergi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)

Perkembangan terkini lainnya adalah bahwa pemerintah Indonesia bermaksud untuk membatasi pengiriman seluruh bahan mentah (kecuali batubara), dan mewajibkan sektor pertambangan untuk menambahkan nilai pada produk sebelum pelaksanaan ekspor. Pada awalnya, rencana ini dibuat untuk melarang ekspor bahan mentah dari tahun 2014 dan seterusnya. Saat ini, pemerintah menyatakan untuk bersikap lebih fleksibel untuk pelarangan ini dan mengungkapkan bahwa sebagian ekspor dapat dilanjutkan dengan syarat tertentu. Sektor batubara tidak akan terpengaruh oleh pelarangan ini sesuai dengan pernyataan pemerintah pada tahun 2012, sehingga dapat terus diekspor tanpa diolah terlebih dahulu.

Sumber lain menyebutkan bahwa Kementerian ESDM kemungkinan besar membatasi produksi batu bara maksimal 425 juta ton per tahun yang akan dimasukkan dalam peta jalan produksi batu bara nasional periode 2015-2030. Sekretaris Ditjen Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Paul Lubis mengatakan pembuatan peta jalan (roadmap) itu bertujuan mengendalikan produksi batu agar tidak mengalami kelebihan produksi.

Selain skenario pembatasan tersebut, Paul melanjutkan pemerintah juga tengah mengkaji dua skenario alternatif, yaitu produksi dipatok naik 1% per tahun, kemudian konsumsi lokal diasumsikan naik 8% per tahun dan cadangan dipatok tidak mengalami kenaikan. Skenario kedua, produksi batu bara dibatasi di angka 425 juta ton per tahun, konsumsi lokal diasumsikan naik 8% per tahun dan cadangan batu bara diasumsikan naik 1% per tahun.

Sedangkan, sumber lain menyebutkan bahwa pemerintah juga mengambil strategi lain yang tidak langsung berkaitan dengan batubara, yaitu transportasi. Pemerintah Indonesia pada tahun 2015 membuka empat belas pelabuhan khusus ekspor batubara yang berada di Kalimantan dan Sumatera, pelabuhan tersebut antara lain berlokasi di Balikpapan, Berau, Tobaneo, Pulau Laut, Sungai Danau, Batu Licin, Aceh, Padang, Riau, Jambi, Bengkulu , dan beberapa daerah yang lain. Kebijakan ini akan berdampak pada efisiensi biaya yang membuat harga batubara Indonesia akan bersaing.