Mitos dalam Berkarir dan Fakta di Baliknya

Setelah kemarin membahas tentang mitos keuangan, saatnya kali ini membahas kembali mengenai mitos-mitos dalam dunia karir. Seperti yang kita ketahui bahwa dunia karir adalah dunia yang dinamis dan cepat.Selain menjadi lahan untuk mencari sumber pendapatan demi kelangsungan hidup, terkadang karir juga dijadikan medium untuk mencari jati diri.Kadang ada pula mitos-mitos dalam berkarir yang sebenarnya bisa menghambat jalannya karir Anda.Berikut adalah empat mitos seperti yang dilansir oleh kabar24 dan fakta di baliknya yang perlu Anda ketahui dalam berkarir.

Jika semua orang melakukan suatu hal, maka saya pun perlu melakukannya juga

Dalam berkarir, seringkali pengaruh dari mayoritas rekan kerja membuat keputusan personal seorang pekerja dikesampingkan. Alasannya adalah jika suatu hal dilakukan ‘berjamaah’ oleh mayoritas rekan kerja, maka hal tersebut sekilas akan tampak sebagai hal lumrah. Perkara baik atau buruk terkait jalan yang ditempuh secara beramai-ramai tersebut adalah nomor sekian, karena toh jika pun menuai masalah di masa depan, maka akan diemban bersama pula.

Segera lupakan hal tersebut dan bekerjalah di jalur yang Anda yakini dan tidak melanggar aturan yang telah disepakati. Selain itu, jika Anda merasa bahwa ide Anda akan lebih efektif dan tepat guna, maka segera eksekusi dan tunjukkan buktinya pada lingkungan karir Anda.

Saya akan membereskan semua pekerjaan di kantor hingga larut malam

Masih banyak orang beranggapan bahwa menyelesaikan pekerjaan hingga larut malam di kantor adalah bukti akan sebuah performa tinggi dalam bekerja. Tidak masalah memang jika sedang dikejar target atau tenggat waktu.

Namun jangan memaksakan untuk melakukan hal ini, jika Anda masih memiliki waktu cukup banyak, dan beralasan agar pekerjaan di hari-hari selanjutnya lebih ringan karena telah diselesaikan terlebih dahulu.

Ingatlah bahwa tubuh perlu beristirahat agar performa tetap terjaga. Waktu istirahat yang kurang secara tidak langsung akan memengaruhi penurunan performa Anda dalam berkarir ke depannya.

Saya belum menemukan gairah bekerja atau saya tidak memiliki gairah bekerja

Apakah Anda yakin bahwa pekerjaan Anda bukanlah hal yang membuat Anda bergairah? Apakah kebosanan yang melanda Anda di tempat kerja adalah akibat dari tidak adanya gairah tersebut?

Pikirkan lagi baik-baik mengapa Anda menggerutu seperti itu. Karena tidak selamanya hal tersebut disebabkan karena Anda tidak memiliki gairah dalam bekerja, dan bisa jadi justru diakibatkan oleh faktor eksternal.

Pikirkan juga apakah Anda telah berhasil menaklukan tantangan di pekerjaan yang tengah Anda jalani saat ini? Bisa jadi Anda menggerutu karena tidak berhasil atau bahkan tidak mau menerima tantangan pekerjaan yang ada di hadapan Anda.

Saya benci pekerjaan saya, tapi saya akan bahagia jika saya U (dipromosikan/ selesai mengerjakan proyek/ mendapat bonus)

Memang menyenangkan ketika meraih imbalan positif dalam bekerja, seperti dipromosikan naik jabatan, mendapat bonus, atau bahkan mendapat apresiasi karena sukses mengerjakan proyek dengan baik. Tapi apakah Anda yakin bahwa Anda akan terus bahagia setelah mendapatkan semua hal tersebut?

Faktanya adalah hal-hal tersebut merupakan kesenangan yang bersifat temporer. Anda akan kembali menggerutu jika ternyata nantinya kondisi yang tidak Anda sukai terulang, semisal seperti gaji yang tidak juga naik padahal fluktuasi biaya hidup semakin tinggi.

Jadi lagi-lagi disarankan untuk tetap belajar beradaptasi dengan dinamika pekerjaan dengan baik, dan berani bersikap kritis terkait isu aktual yang penting untuk karir Anda.

|

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *