Mengapa Gojek akan gagal

Setengah tahun terakhir, Gojek (ojek online) telah menjadi fenomena di tanah air. Walaupun banyak kompetitor lainnya seperti GrabBike dan Blujek, namun nama Gojek lebih populer. Hal ini didukung oleh pemasaran jitu yang dilakukan oleh Gojek, mulai dari perekrutan besar-besaran driver Gojek yang pada saat itu menyebabkan kemacetan dan banyak diliput media. Kemudian ada pula berita bahwa penghasilan driver Gojek bisa mencapai 10 juta per bulan, dan ada manajer yang mengundurkan diri demi menjadi driver Gojek. Secara pribadi saya salut dengan Gojek yang pandai mengemas berita untuk publisitasnya.

Namun seiring berjalannya waktu, banyak sekali masalah yang dihadapi oleh Gojek, yaitu:

  • Issue privacy dimana driver Gojek memiliki nomor telepon konsumen sehingga memungkinkan driver Gojek mengajak kenalan penggunanya.
  • Server atau aplikasi yang sering down atau bermasalah. Hal ini menurut Nadiem karena banyaknya pengguna Gojek. Untuk mengatasinya Gojek merekrut puluhan programmer dari India, yang menunjukan kepercayaan mereka terhadap programmer Indonesia rendah. Padahal awalnya Gojek membanggakan produknya sebagai produk Indonesia. Yang patut disayangkan adalah banyaknya komplain dari driver Gojek di Facebook resmi Gojek yang terkesan dibiarkan oleh admin halaman Facebook Gojek.
  • Keinginan demo oleh Driver Gojek yang tidak puas dengan pembagian hasil dengan Gojek, namun hal tersebut tidak terjadi. Gojek mengancam driver Gojek jika mereka ikut demo maka akan diberi sanksi.
  • Insiden pelemparan kepala obeng ke kantor Gojek di kawasan Kemang yang sempat membuat heboh. Menurut beberapa media online, diindikasikan hal tersebut dilakukan oleh mantan pegawai Gojek yang telah diberhentikan dan tidak suka dengan Gojek.
Pengemudi menggoda penumpang @techinasia

Pengemudi menggoda penumpang @techinasia

Masalah-masalah di atas secara umum bisa memberi gambaran tentang manajemen Gojek. Dari segi bisnis, berikut adalah faktor-faktor yang kemungkinan menyebabkan Gojek gagal:

  • Ojek bukan merupakan salah satu sarana transportasi penumpang yang diperbolehkan menurut Keputusan Menteri Nomor 35 Tahun 2003. Artinya ojek sebenarnya adalah ilegal, namun karena kebutuhan masyarakat yang ilegal ini terkesan dibiarkan dan rakyat akan marah jika dihilangkan. Sebagai angkutan penumpang motor tidak diperbolehkan, namun sebagai angkutan barang motor diperbolehkan. Motor bukanlah sarana transportasi penumpang yang aman, karena seperti kita tahu bahwa motor adalah kendaraan yang paling banyak terlibat dalam kecelakaan. Apa yang akan terjadi ketika terjadi kecelakaan fatal ketika penumpang menggunakan ojek. Sudah banyak cerita horor yang kita dengar mengenai kecelakaan motor. Mudah-mudahan saja ini tidak terjadi kepada Gojek.
  • Gojek (ojek online) tidak mendapatkan perhatian khusus dari perusahaan. Artinya pikiran dan uang perusahaan dihabiskan untuk bisnis lain yang lebih prospek misalnya Go-Box atau Go-Food. Dengan adanya perang harga antara Gojek dengan GrabBike, dan Gojek yang menghabiskan uangnya di area yang lainnya seperti GoBox, GoFood, maka itu berarti uang GoJek tidak digunakan untuk melawan GrabBike secara langsung.
  • Ketika sistem transportasi Jakarta sudah baik dengan adanya LRT (Light Rail Transit) dan MRT (Mass Rapid Transit) maka Gojek akan mulai ditinggalkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *