Membeli saham murah terkadang berbahaya

Akhir tahun 2015 sampai April 2016 sulit untuk mencari saham yang bagus sesuai kriteria yang saya miliki, yaitu saham yang memiliki pertumbuhan bagus dan harga yang bagus. Walaupun pasar di tutup -10% lebih tahun 2015 sulit untuk mencari saham yang ingin di beli. Akibatnya beberapa saham yang dibeli berdasarkan value bukan growth. Saham-saham tersebut growthnya kurang atau malah tidak growth, namun saham tersebut murah sampai diskon 50% dari harga wajarnya. Beberapa diantaranya, BTPN, BNGA, CFIN, PNIN. Masalah ketika membeli saham ini, ketika growthnya mulai lambat adalah kita melawan waktu menunggu orang lain membeli diharga murahnya. Bisa menunggu 1 tahun, 2 tahun atau mungkin 5 tahun. Akibatnya performa portofolio tertinggal dari IHSG sekitar 3-4%.

Menyadari hal tersebut dan setelah membaca annual letter Berkshire Hathaway, saya mulai lebih memperhatikan growth book value. Buffet berpendapat yang penting book value perusahaannnya tumbuh walau harga sahamnya turun. Ini artinya secara nilai apa yang dimiliki terus tumbuh. Logikanya ketika anda ingin aset yang tumbuh 15% setahun, tentu perlu memiliki perusahaan yang book valuenya pun tumbuh 15%.

Saya switching dari saham murah yg book valuenya kurang tumbuh dengan saham yang harganya masih standard atau sedikit murah, namun growth book valuenya baik. Kita lihat hasilnya 2-3 bulan mendatang. Setelah switching seminggu kebetulan selisih dengan IHSG sekarang tinggal 2.7% ketika pasar terlihat bearish.