Mau Jual Saham? Jangan Pakai Alasan Ini!

Investasi bisa dilakukan melalui berbagai macam produk keuangan. Anda bisa menyesuaikannya dengan besaran dana yang anda miliki, serta apa tujuan finansial anda. Tujuan finansial itu bisa mencakup hal-hal detil semacam berapa lama anda akan membutuhkan dana tersebut, berapa nominalnya, dan sebagainya. Bila anda adalah seorang pemula, anda bisa meminta bantuan dengan menyewa jasa perencana keuangan.

Bagi anda yang sudah memiliki saham, berapapun jumlahnya, kadang anda harus melakukan beberapa pilihan sulit. Salah satu pilihan sulit yang seringkali dialami investor adalah untuk menentukan waktu yang tepat untuk menjual saham yang mereka miliki. Hal ini bisa dikatakan sangat wajar, mengingat tak banyak orang yang membahas soal topik ini. Kalau kita perhatikan, begitu banyak pelatihan investasi dan buku-buku di pasaran itu hanya membicarakan soal membeli saham: kapan saat yang tepat untuk beli, apa saham yang dibeli, di mana tempat untuk membeli, dan sebagainya. Namun bagaimana dengan menjual saham? Itulah mengapa kegiatan menjual saham masih merupakan ranah tak terjangkau para investor pemula. Ranah itu penuh rumor, insting, dan segala yang tak mereka miliki yang membuatnya menjadi keputusan sulit.

Maka akan menjadi begitu mudah dipahami ketika kesalahan dalam menjual saham berpotensi lebih besar untuk membuat para investor itu gagal mencapai tujuan investasi yang mereka tentukan. Sama halnya dengan keputusan investasi lainnya, anda harus memiliki alasan yang rasional dan tersistem untuk menjual saham anda sehingga terbebas dari hal emosional dan sebagainya.

Artikel ini akan menjelaskan dua alasan salah yang sering dipakai para investor untuk menjual saham mereka. Apa saja kedua alasan itu?

1. Mengikuti Arus yang Ada

Alasan pertama seringkali digunakan oleh para investor sebagai alasan untuk menjual saham yang mereka miliki. Menurut para pakar investasi, alasan mengikuti arus ini disebabkan oleh dua perasaan yang paling dominan ketika memutuskan untuk bermain saham: ketakutan dan keserakahan.

Perasaan ketakutan ini menjadi berbahaya bagi investor yang membeli saham ritel lantaran mereka sangat sensitif terhadap belanja konsumen dan naik turunnya kondisi ekonomi. Ketika pasar berpikir mengenai ?ky is falling?para investor ini akan dianggap sebagai mereka yang berjuang keras karena semua sektor mengalami penurunan. Secara teori keadaan ini memang menciptakan kesempatan bagus untuk membeli saham berkualitas tinggi, tetapi pada kenyataannya kita akan menghadapi penurunan harga yang akan menurunkan tingkat penjualan.

Pada kenyataannya banyak investor memilih untuk mengikuti arus yang ramai dan menjual saham karena mereka merasa tidak bisa menangani volatilitas jangka pendek. Volatilitas adalah standar deviasi dari perubahan nilai suatu instrumen keuangan dengan jangka waktu spesifik; digunakan untuk menghitung risiko dari instrumen keuangan pada suatu periode waktu umumnya secara tahunan. Pada saat itulah biasanya investor kemudian menarik saham mereka dari bisnis-bisnis besar yang ada.

Di sisi lain studi yang ada menunjukkan bahwa sebenarnya kecenderungan kita untuk menjual saham secara rendah berkaitan secara langsung dengan kinerja investor yang buruk. Kendati kita mengetahui hal ini, kita tetap saja masih melakukannya karena otak kita sudah terpatri dengan kuat untuk mengikuti keramaian, terutama ketika dalam kondisi ketidakpastian.
Ketika anda bisa memegang saham yang berkualitas baik selama terjadi kepanikan di pasar, anda akan mendapatkan peluang yang lebih besar nantinya untuk mendapatkan nilai return yang tinggi. Jadi silakan berupaya sebaik yang anda bisa untuk membuat keputusan menjual saham hanya berdasarkan fakta dan kualitas kerja bisnis di balik saham. Maka jangan sekalipun memutuskan untuk menjual saham berdasarkan pada kondisi harga saham menurun dan tidak pernah menginvestasikan uang yang anda butuhkan dalam lima tahun ke depan.

2. Harga Saham Sedang Sangat Tinggi

Tampaknya adalah keputusan yang sangat tepat untuk menjual saham ketika harganya sedang terlalu tinggi. Namun percayalah bahwa salah satu kesalahan investasi yang paling sering dilakukan oleh investor adalah menjual saham terlalu dini. Biasanya, alasan yang digunakan mereka seperti ini: ?aya selalu menjual saham setelah harganya dua kali lipat,?serta ungkapan-ungkapan lain yang sejenis.

Menjual saham yang harganya sedang tinggi tentu akan membuat anda percaya diri, karena anda berpikir memperoleh sebuah kemenangan baru. Namun seperti yang selama ini biasa kita lihat dalam perdagangan saham, sebuah saham yang bagus bisa mengalami kenaikan secara cepat. Beberapa saham di luar yang memiliki nilai bagus misalnya Amazon.com, Walmart, Home Depot, dan banyak lainnya. Saham mereka bisa melonjak hingga dua kali dari nilai IPO mereka.

Yang ingin ditekankan dalam poin ini adalah jangan terlalu terburu-buru menjual saham ketika harganya sedang sangat tinggi. Beberapa malah menunjukkan mereka menjual saham pada titik di mana saham tersebut masih punya nilai yang melaju pesat. Nah, ini adalah sebuah kesalahan, anda tidak hanya melepaskan peluang untuk dapat yang lebih besar, tapi anda juga akan mendapatkan rugi karena demikian.

Kerugian itu didapatkan misalnya dari portofolio anda yang tidak begitu memuaskan karena anda menjual bisnis/saham yang anda miliki sebelum mereka mencapai kesuksesan tertinggi dalam pencapaian bisnis yang ada. Maka fokuslah pada kegiatan bisnis, jangan fokus pada pergerakan harga saham yang kian meningkat.

Namun sebetulnya kesalahan-kesalahan ini menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang punya kelemahan. Kita punya orientasi ekonomi yang lemah, yang membuat kita merasa lebih baik ketika kita turut menjual apa yang orang lain jual. Namun ketika kita bisa mengendalikan perasaan dan emosi kita, serta fokus pada performa bisnis dari saham yang kita miliki, niscaya kita akan memiliki keputusan-keputusan penjualan yang lebih baik.

Artikel Terkait