Mahasiswa : Investasi Ilmu Sekaligus Investasi Uang, Why Not?

Tentu saja, menjadi seorang mahasiswa itu berarti memiliki tujuan-tujuan tertentu yang ingin dicapai. Mendapat ilmu yang kemudian bisa digunakan untuk menjalani kelangsungan hidup dikemudian hari. Hal tersebut sebutlah sebagai investasi ilmu. Menjadi mahasiswa tidaklah seperti saat menjalani kegiatan pendidikan pada saat sekolah dasar/menengah dimana doktrin untuk belajar dengan baik merupakan tuntutan bagi siswa masih sangat besar. Namun, jika hal tersebut masih diterapkan ketika telah menjadi ‘mahasiswa’ sangatlah disayangkan. Menjadi mahasiswa akan lebih baik ketika dibarengi dengan keberanian menggunakan kreativitas dengan batasan-batasan tertentu yang tentu saja batasan tersebut lebih luas dibanding masih menjadi siswa.

Kreativitas menjadi mahasiswa bisa dilakukan dalam berbagai macam cara. Salah satunya adalah Anda tertarik pada hal investasi dan bermaksud berkecimpung dalam dunia investasi, seperti saham misalnya. Apalagi jika Anda adalah mahasiswa dengan jurusan ekonomi. Itu akan menjadi nilai plus bagi Anda. Selain memahami teori yang ada, Anda juga berkecimpung langsung menjadi seorang praktisi ekonomi.

Hanya saja, jangan sampai ketika memutuskan untuk menjadi seorang praktisi dalam dunia investasi, sampai mengganggu aktivitas kuliah yang menjadi kewajiban utama atau juga menggangu keuangan yang harusnya menjadi biaya untuk berkuliah hanya karena ketagihan’gambling’ di dunia investasi. Tetap saja, semuanya harus pada porsi yang benar agar dalam menjalaninya, Anda tidak merasa ‘tergusur’ tetapi berjalan beriringan dengan itu, yang tentu saja akan membawa kebaikan bagi Anda, bukan malah membawa malapetaka.

Lalu, bagaimana untuk mahasiswa agar bisa memasuki dunia investasi, dengan asumsi Anda berinvestasi dengan membagi-bagikan uang yang diberikan oleh orang tua. Gampangnya, analogikan saja kendaraan yang bisa mengantar Anda ke suatu tempat tujuan. Jadi akan lebih penting menentukan tujuan dari investasi terlebih dahulu baru selanjutnya menentukan kendaraan yang akan digunakan.
Selain itu, pemilihan kendaraan investasi juga memperhatikan seberapa lama investasi akan dilakukan. Ibaratnya jika ingin menuju Yogyakarta dengan waktu lebih cepat, maka bisa menggunakan pesawat, tetapi jika mempunyai waktu yang cukup lama bisa menggunakan kereta api tentunya dengan mencocokkan jadwal keberangkatan kereta, atau bisa juga menggunakan kendaraan pribadi jika tidak ingin terikat pada jadwal kereta api.

Demikian juga dengan investasi, jika hanya sebentar saja ingin menginvestasikan dana Anda, maka pilihannya hanya instrumen deposito atau tabungan saja agar ketika dana benar-benar harus dicairkan nilainya tidak berbeda jauh dengan nilai awal investasi, tetapi tentu saja hasilnya pun bisa dikatakan relatif sangat kecil. Jika memiliki waktu investasi yang cukup panjang misalnya di atas 5 tahun, maka pilihan instrumen menjadi lebih beragam. Jika berinvestasi dalam paper asset misalnya, bisa dikatakan berdasarkan data historis terbukti bahwa makin panjang jangka waktu (horison) investasi, maka imbal hasil yang didapatkan makin besar.

Jika dalam jumlah yang besar dikatakan sulit, lakukanlah investasi dalam jumlah yang kecil, bahkan sangat kecil. Coba deh, masa dari uang bulanan, tidak bisa menyisihkan Rp 30.000 saja untuk ditabung? Nanti setelah tabungannya terkumpul, barulah dibelikan reksadana saham melalui bank. Saat ini, ada sebuah bank BUMN yang sudah memiliki fasilitas membeli reksadana dalam jumlah kecil, mulai dari Rp 100.000. Sehingga, berinvestasi bukan cuma milik orang-orang berdompet tebal saja!

Ini dia tips untuk keuangan untuk mahasiswa:

1. Bagi uang jajan dari orangtua langsung untuk kebutuhan hidup selama empat minggu.
2. Usahakan untuk punya satu ponsel saja, supaya biaya pulsa tidak mahal.
3. Mulai menyisihkan Rp 1.000 setiap hari ke tabungan. Artinya target harus punya Rp 30.000 di saldo tabungan.
4. Jangan pernah ambil saldo tabungan ini untuk belanja.
5. Setelah jumlahnya mencapai Rp 200.000, datanglah ke Bank BUMN besar yang menjual reksadana saham.
6. Belilah reksadana saham tersebut, dan jangan diambil hingga usia kamu mencapai 40 tahun.

|

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *