Krisis 2015

Akhir Juli

Pada akhir Juli kinerja portofolio masih +0.22%

Sabtu 22 Agustus

Krisis semakin terasa dengan Dollar hampir mencapai 14000. Dow turun 3% jumat kemarin dan oil turun di bawah $40. Dari indonesia perusahaan dapat buyback saham tanpa RUPS. Portofolio saat ini sudah -6.8% dibanding ihsg -17%. Porsi saham masih 58%. Strategi saat ini menunggu ada saham murah yg dapat dibeli. Sudah dimapping list saham berdasarkan fair valuenya. Akan switching dari yg paling mahal ditukar beli saham yg murah

Senin 24 Agustus

Market China melanjutkan penurunan 8% dan IHSG -3.9%. Hari ini portofolio turun tidak sebanyak IHSG sehingga selisih antara portofolio dan IHSG membesar menjadi 11% dari 11%. Return portofolio ytd -8.9%. Kurs rupiah usd tembus 14,000. Pasar Amerika masih lesus Futures on the Nasdaq 100 fell 5 percent to 3,992.25 at 8:55 a.m. in New York.

Selasa 25 Agustus

IHSG rebound 1.7%, tapi sayangnya selisih antara IHSG dan portofolio turun menjadi 9.3%. Hari ini dirilis ketentuan maximal turun saham 10%. GMTD turun 10% yang menyebabkan penurunan performa portofolio. Hari ini menjual RAJA dan masuk 3.5% di NRCA. It seems a mistake. I realize in this turnmoil harus membeli big cap. Target yang diincar menjual NRCA dan masuk ke BBNI.

Rabu 26 Agustus

IHSG melanjutkan penguatan 0.22% Banyak berita buy back saham BUMN. Hari ini berhasil mejual rugi NRCA dan masuk ke BBNI yang langsung posisi untung 3.8%. RAJA close di bawah harga penjualan kemarin. Saham yang diamati RAJA, CFIN, AMDF, AISA. Selisih portofolio dan IHSG membesar menjadi 9.5%. YTD -9.3%. Persentase di saham membesar menjadi 61% karena penurunan nilai portofolio.

Kamis 26 Agustus

Pasar US Hari Rabu naik signifikan. IHSG hari ini naik 4.55%. Posisi portofolio yang berubah menjual BBNI dengan posisi untung 10% dan BBRI, dan membeli RAJA dengan harga rata-rata lebih rendah daripada penjualan kemarin. Selisih portofolio dan IHSG mengecil dan YTD -6.2%. Hari Kamis pasar US naik signifikan kemarin dan harga minya naik 10% diberitakan karena adanya cover short.

Jumat 27 Agustus

IHSG sempat naik diatas 1%, namun hanya ditutup naik 0.3%. Bursa US turun tipis -0.07%. Kinerja portofolio YTD -6.14%. Posisi saham sekarang tinggal 53% setelah menjual BRI dan BNI kemarin.

Senin 31 Agustus

Hari terakhir bursa disambut kenaikan 1%. Portofolio di tutup -5.9% ytd

Selasa 1 September

Setelah bursa rebound, hari ini pasar saham jatuh lagi 2.15% akibat negatifnya data manufaktur China diperkuat kekhawatiran investor tentang kecepatan perlambatan ekonomi dunia terbesar kedua. Hari ini mulai fokus trading dan masuk ke CTRP dan KAEF. Hari ini penurunan portofolio hanya 0.27% sehingga selisih portofolio dan IHSG membesar kembali menjadii 9.5%. Sepertinya hari Rabu akan turun lagi dengan banyaknya gap yang perlu di tutup. Peluang untuk masuk ke BNI dan BRI kembali.

Rabu 2 September

Hari ini kurang ada pergerakan yang berarti.

Kamis 3 September

Bursa ditutup naik 0.7%. Hari ini burs China tutup untuk merayakan berakhirnya perang dunia ke dua. Posisi trading masih positif CTRP dan KAEF. Dow masih ditutup positif 0.14%

Jumat 4 September

IHSG turun 0.4%. Hari ini BNGA naik 10% lebih dengan volume yang cukup baik. Hal ini menyebabkan selisih antara portofolio dan IHSG membersar menjadi 9.24%. ytd = -5.9%. Dow turun 1.66%. Data tenaga kerja Amerika menunjukkan ekonomi Amerika menambah jumlah pekerja yang lebih rendah dari estimasi, namun tingkat unemployment turun ke 5.1%, level terendah sejak April 2008. Hal ini menyebabkan kemungkinan Amerika menaikkan suku bunganya menjadi lebih besar.

Senin, 7 September

Hari ini IHSG ditutup -2.5%. Dollar sempat menembus 14300. PGAS turun 11.43% dipicu rencana pemerintah memangkas harga gas untuk industri demi memicu laju ekonomi yang tengah kendur. Transaksi PGAS sangat besar mencapai 205Milliar dan terkena aturan auto reject. RAJA juga turun 9.5% namun dengan volume yang kecil hanya 258juta, dengan bid di paling bawah sekitar 1 milliar rupiah. Penurunan RAJA di portofolio terbantu oleh kenaikan BNGA (1.98%) dan BJBR (3.6%). Selisih antara IHSG dan portofolio membesar menjadi 11.23%. YTD = -6.4%

Selasa 8 September – jumat 11 September

Tidak banyak hal yang terjadi 1 minggu ini. Pemerintah mengumumkan paket kebijakan ekonomi tahap pertama pada September 2015. Portofolio ytd menjadi -5.5%, selisih dengan IHSG = 11.05%.

Selasa 15 September

IHSG turun 0.9% menjelang keputusan Fed fund rate. Trading di CTRP makin baik, harganya terus naik dan membantu selisih dengan IHSG menjadi 12.15%.

Jumat 19 September

The Fed menunda kenaikan Fed fundrate untuk klebih melihat kondisi mendatang, dan khawatir jika perlambatan China akan efek ke US. Namun sepertinya suka bunga kemungkinan akan tetap naik tahun ini. Sudah close posisi di CTRP dan masuk di INKP. Selisih dengan IHSG 11.09%. Ytd -5%

Rabu 23 September

USD/IDR tembus 14600 hari ini disertai data China yang kurang bagus. IHSG turun 2.2%. Selisih portofolio dan IHSG membesar menjadi 13.3%. YTD -5.4%

Senin 5 Oktober

Hari ini IHSG ditutup menguat 3,23% ke level 4343.70 dengan investor asing kembali mencatatkan net buy sebesar Rp 335.35 miliar ditengah bergulirnya rencana pemerintah menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Melihat bahwa harga saham sudah murah, maka mulai meningkatkan porsi di saham dan hari ini sudah selesai membeli CFIN.

JumatĀ  9 Oktober

Minggu ini Rupiah dan IHSG menguat tajam. Rupiah dari 14700 ke 13300. IHSG naik tajam lebih dari 5% dari 4274 ke 4589 . Terlihat bahwa penguatan rupiah mendukung penguatan IHSG. Penyebabnya antara lain, kemungkinan di tundanya kenaikan fed fund rate ke Maret 2016 dan paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah. Portofolio juga naik cukup banyak. Minggul lalu sempat masuk BNI di bottom dan close di akhir mingu ini dengan profit 20%. Minggu ini juga telah masuk ke LTLS dan BTPN. YTD portofolio sudah positif saat ini.

19 December 2016

Tahun ini index sempat naik tinggi +16%, namun pada November 2016 turun 5%. Selisih performa dengan index sempat mencapai 13%, padahal tahun lalu saya hanya unggul 9% dari IHSG. Namun pada saat artikel ini di update, selisih performadengan IHSG hanya 6.4%. Artinya dalam 2 tahun masih unggul performanya dibanding IHSG. Tahun ini banyak kesalahan dalam berinvestasi di beberapa saham dan kemudian salah menjual. Ketika menjual, harga kemudian naik, contohnya BNGA dan PNIN. Lalu ada kesalahan membeli obligasi jangka panjang. Jika kesalahan tersebut tidak terjadi kinerja akan bertambah 2% lebih. Melihat apa yang terjadi dalam 1 tahun terakhir, seharusnya kita pasar jatuh tahun lalu, saya membeli reksadana saham /index dan menjualnya ketika naik 10% atau kembali ke index sebelum ia jatuh. Jika memasukkan 20% dana ke reksadana tersebut, dalam satu tahun akan menambah kinerja portofolio sebesar 20% * 10%= 2%.