Kondisi Ekonomi Indonesia Saat Ini

Sebagai pengusaha maupun yang tidak bekerja pada bidang keuangan, kita tentu harus mengetahui apa kondisi ekonomi yang sedang dialami oleh negara kita saat ini. Pengetahuan ini bukan hanya akan menambah wawasan anda dalam bidang ekonomi, tetapi juga akan membantu anda ketika harus mengambil keputusan-keputusan finansial dalam hidup anda. Dengan mengetahui kondisi ekonomi, anda akan dituntun untuk mengambil keputusan yang tidak meraba-raba tetapi didasarkan dari argumen-argumen rasional yang bisa diperhitungkan.

Nah, kali ini kami akan membagikan artikel ini kepada anda. Kondisi ini terutama terjadi pada kuartal I tahun 2015. Barangkali setiap kuartal akan menyajikan kondisi ekonomi yang berbeda, tetapi kondisi ini paling tidak bisa menjadi rujukan anda untuk memprediksi kuartal-kuartal berikutnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, perekonomian Indonesia di tingkat sektor riil, baik itu usaha kecil, menengah, maupun besar, mengalami kelesuan yang luar biasa. Beberapa perusahaan besar seperti Astra International (ASII), Perusahaan Gas Negara, Gudang Garam (GGRM), Semen Indonesia (SMGR), hingga Jasa Marga (JSMR), semuanya mencatat penurunan laba bersih pada Kuartal I 2015. Sementara di bidang usaha yang lebih kecil, kondisinya juga tidak jauh berbeda.

Misalnya, pada bidang furniture, seorang pengusaha di Jakarta menuturkan bahwa sedang mengalami masa-masasulit.Sejak bulan Januari hingga artikel ini ditulis, usahanya mengalami penurunan omzet. Beberapa rekan bisnis yang bermain di bidang bangunan, sembako, dan ban rupanya juga mengalami kemerosotan yang sama. Hal ini ditambah pula dengan melonjaknya beban operasional. Lebih parah lagi, bukannya pemerintah memberikan insentif ke pengusaha kecil, mereka malah mengambil keputusan-keputusan yang memberatkan seperti menaikkan tarif dasar listrik, menaikkan pajak, dan sebagainya.

Masih di Jakarta, seorang pengusaha di bidang pembuatan besi kawat dan produk turunannya juga sedang mengalami penurunan omzet. Biasanya dia membeli bahan baku pabrik baja di dalam negeri seperti Krakatau Steel (KS) dan Gunung Garuda. Terkadang dia juga melakukan impor bahan baku dari Tiongkok. Kemerosotan omzet ini terjadi pada semua sektor, karena permintaan besi kawat menurun. Pelanggannya ada pabrik pakan ayam, pabrik kertas, dan pabrik konstuksi. Biasanya ketiga jenis pabrik itu bergantian, kadang banyak kadang sedikit, tetapi kini semua permintaan merosot.

Hal ini mengakibatkan pabrik rekanan yang memproduksi kawat melakukan PHK pada tenaga kerjanya karena produksi memang menurun. Parahnya lagi, pabrik baja di Tiongkok juga sedang mengalami penurunan permintaan, sehingga mereka menurunkan harga rata-rata 10% hingga 20%. Tentu saja pabrik kawat di sini lebih memilih impor daripada beli di pabrik lokal karena lebih hemat. Kondisinya sekarang pabrik lokal sudah protes ke pemerintah agar memberikan peraturan bea masuk bagi bahan baku impor tersebut. Jika aturan berlaku dan pabrik kawat harus beli dari pabrik lokal, perkara akan makin rumit.

Sedangkan di Surabaya ada seorang pengusaha tekstil yang melaporkan kondisi ekonomi perusahaannya yang tak kalah miris. Dia bermain pada penjualan sprei, bedcover, dan bahan baku untuk memproduksi kedua produk tersebut. Dia bercerita bahwa sejak awal 2015 lalu hingga akhir kuartal I ini omzet penjualan terus menurun, bahkan terpuruk hingga 50% pada bulan tiga.

Menurut perkiraannya, ada dua hal besar yang membuat bisnisnya anjlok hingga sejauh ini. Pertama, harga bahan baku kain yang meleonjak karena harus melakukan impor. Lonjakan harga ini diperparah dengan melemahnya nilai tukar rupiah hingga mencapai Rp13.000 per US Dollar. Nilai tukar ini sangat menentukan hidup matinya industri yang mengharuskan mengimpor bahan baku mereka. Kedua, harga kebutuhan pokok yang terus saja naik membuat UMR di Surabaya ikut naik. Akibatnya, pengusaha harus mengeluarkan biaya lebih untuk gaji pekerja. Ditambah dengan biaya listrik dan bensin yang naik membuatnya harus menaikkan harga jual antara 5%-10%. Akibatnya konsumen jadi menunda pembeli bahan kain ini.

Gambarannya adalah ketika biasanya para pelanggan membelanjakan uang lebih dari Rp3 juta setiap kali membeli bahan baku kain, sekarang mereka rata-rata hanya mengeluarkan Rp1 juta. Bahkan beberapa pelanggan darinya justru menghilang sama sekali. Mengapa demikian? Rupanya semua pembeli sprei sangat sepi karena harganya menjadi sangat mahal. Bahkan ada perusahaan kompetitor yang sudah melakukan PHK terhadap sejumlah pekerja sejak awal 2015 karena sepi pesanan.

Dirinya melaporkan juga penurunan omzet yang luar biasa juga terjadi pada beberapa keluarga dan rekannya yang membuka usaha di daerah lain. Misalnya, toko emas milik kakaknya yang di Solo mengalami penurunan omzet. Rekan bisnis yang di Solo yang juga drop hingga tidak berani ambil risiko untuk membeli barang lagi dan hanya bisa menghabiskan sisa stok di gudang. Keluarga yang berjualan rokok dan minuman kemasan partai besar juga mengalami anjlokan omzet. Hingga rekan pengusaha truk ekspedisi di Surabaya juga mengeluh sepi. Rekan itu mengeluhkan juga mengenai naik turun harga BBM yang membuat bingung harus menentukan harga berapa kepada pelanggannya.

Tidak hanya di Jakarta dan Surabaya, seorang pengusaha dari Semarang juga melaporkan penurunan performa bisnis pada beberapa bidang. Pertama, dia melihat penurunan omzet pada pengusaha angkutan di daerah Pecinan Semarang. Berdasarkan informasi yang dia berikan, biasanya sehari mendapatkan omzet Rp1,5-2 juta. Namun sekarang maksimal hanya mendapatkan Rp900 ribu ketika sedang lumayan. Kedua, pada toko bangunan dan keramik. Dia tidak mendapatkan informasi berapa penurunan yang didapatkan. Tetapi asumsi ini muncul dari sepinya jalan yang ada di depan toko tersebut. Biasanya toko itu membuat jalanan sampai macet karena parkir pelanggan, tetapi saat itu dia melewati daerah tersebut sangat lengang. Ketiga adalah penjualan mobil di Semarang yang merosot. Dia mendapatkan informasi tersebut dari para sales baik yang bekerja di Toyota Nasmoco, Nissan, Datsun Madukoro, Toyota Pemuda Semarangm hingga Honda. Semuanya serempak mengatakan bahwa kini sepi pembeli.

Proyeksi ke depan?

Berbagai pihak menyepakati bahwa penurunan performa bisnis di segala lini dan di banyak tempat adalah akibat dari kebijakan pemerintahan baru di Indonesia. Kebijakan ekonomi yang dimaksud adalah menghapus banyak subsidi dengan relatif cepat. Selain itu ada juga kebijakan penaikan tarif pajak atau mengenakan banyak pajak baru bagi para pengusaha maupun masyarakat umum. Kebijakan ini dipertanyakan mengingat sejak awal pemerintahan kondisi ekonomi sudah lesu sekali karena pelemahan rupiah dan penurunan harga komoditas.

Hal ini diperparah dengan berbagai rencana pembangunan infrastruktur yang digadang-gadang sejak Jokowi dilantik sebagai Presiden pada Oktober lalu, sampai sekarang realisasinya masih belum begitu kelihatan. Alhasil, seperti yang sudah diinformasikan oleh BPS beberapa waktu lalu, perekonomian nasional hanya tumbuh 4.7% pada awal tahun 2015, atau jauh dibawah rekor 6.9% pada tahun 2011 lalu.

Meski kondisinya tampak buruk, para pakar bersepakat bahwa pelaku usaha (terutama yang besar-besar) hanya mengalami penurunan laba saja, dan tidak sampaimenderita kerugianapalagibangkrut. Juga, sama sekali tidak terdengar adanya bank yang harus dilikuidasi seperti pada tahun 1998 dan 2008 lalu. Kalau anda pengusaha, maka omzet anda mungkin memang berkurang, tapi secara umum mereka yakin kalau usaha anda masih bisa berjalan. Maka jangan terlalu khawatirk kalau ada yang bilang bahwa krisis moneter akan terulang. Hal tersebut dipandang terlaluberlebihan. Perekonomian kita belakangan ini memburuk, dan itu memang benar, tapi kita sudah pernah mengalami situasi yang jauh lebih buruk dari kondisi sekarang.

Pertanyaannya, bagaimana proyeksi kondisi ekonomi ke depannya? Apakah akan ada perbaikan atau tidak dalam jangka waktu dekat? Jika kita perhatikan, sebenarnya akar penyebab pemerosotan bisnis ini sudah jelas. Maka perekonomian nasional akan bisa membaik jika, dan hanya jika, pemerintah bersedia mengubah atau melonggarkan kebijakannya terkait subsidi dan pajak. Selain itu pemerintah juga perlu segera merealisasikan pembangunan infrastuktur yang pastinya akan kembali menggerakkan roda perekonomian.

Di luar itu, kita bisa berharap harga komoditas seperti batubara dan CPO akan kembali naik. Ketika harga sudah naik, nilai ekspor Indonesia akan meningkat, rupiah akan menguat, dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan kembali mengalami kenaikan. Data menunjukkan bahwa pada awal tahun 2009 lalu perekonomian Indonesia juga tercatat hanya tumbuh 4.1% gara-gara krisis global setahun sebelumnya. Namun berkat berbagai kebijakan Pemerintah (salah satunya menggelontorkan Rp4 trilyun untuk buyback saham-saham BUMN) plus adanya ?nugerah?berupa booming harga CPO, maka hanya dalam setahun berikutnya perekonomian tersebut dengan cepat tumbuh lagi hingga menembus 6.2%.

Apakah ekonomi kita bisa tumbuh 5% lagi? Beberapa pakar ekonomi optimis pertumbuhan bisa mencapai titik itu, bahkan lebih tinggi lagi. Namun, ada begitu banyak faktor untuk menentukan apakah ekonomi kita akan membaik atau malah tambah buruk. Jika Pemerintah tidak kunjung memberikan insentif tertentu bagi dunia usaha dan tidak segera merealisasikan pembangunan infrastruktur, sementara di sisi lain harga-harga komoditas masih terus melemah dan nilai rupiah juga masih tetap terpuruk, maka ya apa boleh buat: Jangankan membaik, angka pertumbuhan ekonomi yang hanya 4.7% tadi bisa saja kembali turun hingga menjadi lebih rendah lagi.

Namun sedikit pencerahan, baru-baru ini Presiden Jokowi berkunjung ke Kawasan Indonesia Timur termasuk Provinsi Papua, untuk meresmikan dimulainya pembangunan beberapa proyek besar seperti pembangunan Jalan Trans Papua,food estatedi Merauke, hingga jaringan kabel optik milik PT Telkom di Manokwari. Jadi apakah ini merupakan tanda bahwa Pemerintah sudah mulai merealisasikan pembangunan infrastruktur? Kita boleh berharap akan hal itu. Maka, tetaplah optimis dan perhatikan apa saja langkah-langkah yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi kondisi ekonomi yang seperti ini.

Artikel Terkait