Kelesuan Ekonomi Bukan Penghalang untuk Sukses

Seringkali kita sudah menentukan goal yang tinggi untuk bisnis kita, tetapi ternyata kondisi ekonomi di sekitar kita sedang lesu. Istilahnya, ?estakung?alias semesta mendukung hanyalah slogan belaka. Sekeras apapun kita berusaha, sekuat apapun niat yang kita bangun, rasanya tidak mengunduh hasil yang optimal karena kondisi itu.

Pada website ini telah dituliskan sebuah artikel soal kondisi ekonomi Indonesia saat ini. Ringkasnya, di berbagai daerah terutama di Pulau Jawa, sejumlah pengusaha mengaku sedang mengalami penurunan omzet karena satu dan berbagai macam hal. Beberapa yang dikeluhkan adalah penaikan tarif dasar listrik bagi industri dan penaikan berbagai pajak yang dibebankan pemerintah kepada pengusaha.

Baca: Kondisi Ekonomi Indonesia Saat Ini

Melihat ekonomi Indonesia sedang lesu seperti ini memang tidak menyenangkan karena berpotensi tidak membuat usaha kita meraih sukses. Apalagi buat anda yang sedang memulai hari ini, tentu saja kita tidak ingin kondisi kita menjadi seperti yang dialami oleh negara Yunani beberapa waktu lalu. Sebagai seorang warga negara dan pengusaha yang bermental positif, kita harus berani berdiri di atas kaki kita sendiri menghadapi kelesuan ini. Setuju?

Baca: Belajar dari Kondisi Ekonomi Yunani

Baiklah, maka pertama-tama yang kita lakukan adalah menentukan sikap kita untuk menghadapi kelesuan ekonomi di sekitar kita. Kita akan meratapi kelesuan ini? Tentu saja tidak! Meratapi tak akan mengubah apapun, baik kondisi ekonomi ataupun performa bisnis kita.

Baca Juga:

Fokus pada solusi

Seperti yang telah diajarkan oleh para motivator bisnis di berbagai seminar, kita harus fokus pada solusi, bukan fokus pada masalah. Apakah anda sudah melakukannya selama ini? Bukan berarti kita tidak memandang masalah sama sekali. Masalah itu perlu dikenali, dipelajari, dan diketahui penyebab utamanya. Namun tidak berhenti di situ saja, kita harus bernyali untuk memunculkan solusi yang tepat dan mengimplementasikannya dalam bisnis kita. Itulah arti fokus pada solusi dan bukan pada masalah.

Contohnya adalah ketika kita melihat tren adanya penurunan pada semua pergerakan saham. Tentu saja penurunan ini mempengaruhi berbagai sektor usaha yang ada, semua menjadi ikut lesu. Namun kita harus fokus untuk mengambil strategi bertahan dari kelesuan itu. Prestasi kita bukan hanya dilihat dari bagaimana kita mampu berlari cepat dan lama, tetapi bagaimana kita bisa bertahan tetap berjalan ketika perekonomian sedang memburuk.

Optimis yang proporsional

Seringkali kita didorong oleh para mentor bisnis kita untuk selalu optimis dengan keadaan. Optimisme yang tinggi akan menggerakkan kita pada pengambilan berbagai macam keputusan yang tak mungkin kita lakukan apabila kita masih terpenjara oleh rasa pesimisme dan tidak percaya diri. Optimisme membuat kita bernyali meskipun tidak tahu ke depannya akan bagaimana.

Namun untuk kali ini kita harus berhati-hati ketika memunculkan rasa optimisme itu. Kita tentu ingat bahwa segala macam hal yang berlebihan itu tidak baik. Layaknya api dan air, kalau berlebihan akan jadi kebanjiran atau kebakaran.

Dunia bisnis memang seringkali menghadapkan kita pada pilihan sulit. Optimisme yang terlalu tinggi akan meletakkan kita pada tindakan spekulasi yang, jujur saja, membahayakan. Misalnya, akhir-akhir ini perekenomian Tiongkok dikabarkan sedang sangat buruk. Beredar cerita bahwa ada seorang wanita yang berspekulasi dengan bermain di dunia saham ketika kondisi perekonomian sedang begitu buruk. Namun karena harga saham terus saja menurun, kerugian besar menghadang wanita tersebut. Akhirnya dia memutuskan untuk bunuh diri di sebuah pusat perbelanjaan di sana. Miris bukan?

Berpikir positif

Barangkali wanita tersebut merasa sangat tertekan dan hancur karena merasa tidak memiliki masa depan lagi setelah penurunan harga saham yang memang gila-gilaan di Tiongkok. Kita tentu prihatin dengan keadaan ini dan berharap kejadian ini tidak terulang lagi.

Jika kita mau mengubah pikiran kita untuk menjadi positif, kita semestinya melihat bahwa kelesuan perekonomian dunia bukan hanya terjadi sekali ini. Kita pernah mengalaminya beberapa kali sejak jaman pemerintahan Bung Karno, tetapi masih bisa bertahan dan berusaha menumbuhkan perekonomian supaya semakin baik dari hari ke hari.

Betul, perekonomian semakin membaik, bukan hanya sekadar angka pertumbuhan ekonomi yang disediakan oleh BPS tiap awal bulannya. Pikiran positif yang perlu ditanamkan adalah potensi kenaikan kita akan sebesar penurunan yang kita alami. Bukankah ini sangat baik? Kita tidak berfokus pada berapa penurunan yang kita alami, tetapi pada berapa besar potensi yang bisa kita tumbuhkan.

Maka benar yang dikatakan oleh para motivator dan pakar bisnis bahwa mindset atau pola pikir kita terhadap sesuatu adalah faktor penentu kita untuk sukses. Kita perlu jadikan kelesuan sebagai latihan untuk membuktikan kekuatan kehendak kita untuk meraih sukses.