Hindari Kata-Kata Ini dalam Wawancara Kerja

Kita pasti sering mendengar tentang banyak tips untuk menjawab pertanyaan dari pihak kantor ketika kita sedang menjalani tes wawancara kerja (job invterview). Barangkali banyak tips yang memang dapat untuk membantu anda untuk tenang dan percaya diri ketika menjawab. Namun jangan merasa tenang dulu, setiap kata dari anda bisa saja dimaknai secara berbeda oleh pewawancara. Terutama untuk jawaban atau pernyataan yang sudah menjadi sangat umum dan normatif. Alih-alih menaikkan posisi anda di mata pewawancara, jawaban itu justru bisa jadi bumerang bagi anda. Hal ini juga sering terlihat ketika di akhir wawancara anda diberi kesempatan untuk bertanya. Nah, ini adalah posisi yang kritis bagi anda, jangan sampai pertanyaan tersebut justru membuat nilai anda di mata pewawancara menjadi turun.

Lantas, apa saja kata-kata tersebut? Mari kita kupas beberapa poin berikut.

:: Pelamar Kerja: Saya punya motivasi tinggi dan lihai menyelesaikan masalah.

Bukankah ini yang seringkali kita katakan untuk mendeskripsikan diri kita? Lantas apa buruknya dari kata-kata ini? Dari pandangan pewawancara, mereka bisa jadi tidak menangkap pernyataan yang normatif seperti ini. Kata-kata seperti ini terlalu umum, terlihat seperti jargon yang bisa diucapkan dengan mudah oleh semua orang. Yang mereka butuhkan ketika anda mendeskripsikan diri anda bukanlah sifat, tetapi kemampuan yang anda bangun terkait dengan profesi/posisi yang anda lamar. Karena bersifat kemampuan (keahlian) maka sudah pasti ada buktinya, ada pengalaman yang bisa diceritakan, dan sebagainya.

:: Pelamar Kerja: Bagaimana aturan berlibur/cuti di perusahaan ini?

Ini adalah hal yang seringkali ditanyakan oleh pewawancara kerja ketika diberi kesempatan untuk bertanya. Barangkali anda memang ingin mengetahui bagaimana perusahaan ini memberikan kesempatan kepada karyawannya untuk berlibur. Namun yang perlu anda tahu adalah perusahaan akan merekrut anda karena mereka memiliki kebutuhan akan orang dengan keterampilan tertentu. Tugas anda sebagai seorang kandidat pekerja itu adalah membuktikan bahwa diri anda adalah orang yang mereka. Yakinkan mereka bahwa dengan kemampuan dan pengetahuan yang anda miliki saat ini, perusahaan akan mencapai goal besar yang sudah mereka susun sejak perusahaan ini berdiri.

:: Pelamar Kerja: Kelemahan terbesar saya? Saya seorang yang perfeksionis.

Jawaban ini barangkali muncul dari pertanyaan ?pa kelemahan terbesar saya??Bisa dikatakan bahwa pertanyaan ini adalah pertanyaan menjebak, atau pertanyaan yang tricky. Setiap jawaban yang anda lontarkan bisa menjadi bahan pertanyaan untuk mengorek tentang potensi diri anda secara lebih jauh. Ketika kita menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban ?aya perfeksionis!?itu sebenarnya tidak berkesan apa-apa bagi pewawancara. Pertanyaan ini kan sebenarnya bertujuan untuk melihat bagaimana anda akan dapat tumbuh dalam perusahaan ketika mendapati ada hal-hal yang harus dihadapi dengan kelemahan terbesar yang dia miliki. Lebih baik anda menjawab dengan menguraikan apa hal-hal yang meresahkan anda dalam konteks bekerja, kemudian jelaskan pula langkah-langkah yang akan anda ambil untuk menghadapi hal tersebut. Jawaban ?aya perfeksionis!?akan lebih mudah untuk dianggap sebagai jawaban yang palsu dan dibuat-buat. Anda justru terkesan sedang menyembunyikan sesuatu yang lebih buruk dari yang mereka harapkan.

:: Pelamar Kerja: Atasan terakhir saya? Mengerikan.

Barangkali ini sering disebut sebagai etika kerja. Anda yang akan bekerja di sebuah perusahaan tidak dibenarkan secara etika untuk menjelek-jelekkan lingkungan, atasan, atau apapun yang bisa dikomplain di perusahaan lama anda?ekalipun itu adalah kenyataan. Tidak dibenarkan secara etika, karena bagaimanapun perusahaan tersebut yang sudah membentuk dan turut mengantar anda hingga saat ini. Namun juga di sisi lain, pernyataan bahwa anda berbicara negatif mengenai atasan anda mengindikasikan bahwa anda bukanlah seorang yang profesional. Anda akan dianggap hanya sebagai seorang pekerja dengan sikap tak profesional yang hanya bisa mengeluh saja tanpa tahu harus bagaimana. Tentu saja sikap seperti ini bukan merupakan keuntungan bagi perusahaan.

:: Pelamar Kerja: Apa yang Anda Kerjakan di Sini?

Seringkali kita diberi kesempatan untuk bertanya apa saja di akhir wawancara. Wawancara itupun bertahap, seringkali kita menyebutnya sebagai wawancara HRD kemudian kalau lolos baru kita wawancara user/kepala bagian yang membutuhkan anda. Jangan sekalipun kita bertanya kepada user tersebut tentang apa saja pekerjaan yang mereka lakukan di perusahaan ini. Itu artinya kita tidak melakukan riset terlebih dahulu mengenai perusahaan terutama mengenai posisi yang anda lamar. Ini adalah sebuah kesalahan yang cukup fatal. Ketika anda tidak menyiapkan riset dalam hal begini, mereka akan bertanya: ketidaksiapan apa lagi yang akan anda buat berikutnya?

:: Pelamar Kerja: Saya Tidak Ada Pertanyaan.

Ini masih berkaitan dengan poin sebelumnya. Meskipun anda sudah melakukan riset terlebih dahulu, dan anda sudah mendengarkan banyak hal tentang perusahaan ketika proses wawancara ini, yakinlah bahwa anda tidak kemudian mengetahui segalanya. Ketika anda memutuskan untuk tidak bertanya apapun ketika diberi kesempatan, itu artinya anda sudah tidak berminat, tidak peduli untuk belajar lebih jauh tentang perusahaan. Maka sebaiknya siapkan diri anda dengan sejumlah daftar pertanyaan sebelum anda menjalani wawancara. Buatlah pertanyaan yang kritis, menarik, dan membuat anda bisa bertukar gagasan dengan pewawancara anda.

Apakah anda pernah melakukan beberapa atau semua poin yang telah disebutkan tadi? Kini anda sudah mengetahui hal tersebut, tentu kita berharap jawaban itu tak perlu terlontar lagi dalam wawancara. Selamat wawancara!