Diskon VS Low Price

Sale..sale..sale 75% + 25% di akhir tahun, buruan serbu sekarang juga !

Bagi sebagian wanita pengumuman di atas pasti bagaikan hujan di tengah padang pasir. Ya, menjelang perayaan hari besar biasanya para pedagang sibuk memasang bandrol diskon pada barang dagangan. Diskon atau yang dikenal dengan potongan harga ini memang bertujuan untuk menarik para pembeli pada produk-produk khusus yang dikenai diskon oleh para pedagang tersebut.

Diskon VS Low Price

Merujuk pada namanya, pemberian diskon yang merupakan potongan harga ini merupakan strategi pemasaran dengan memberikan pengurangan harga barang dari harga yang sesungguhnya. Barang dagangan yang mulanya seharga Rp. 100.000,- bisa anda di bawa pulang oleh konsumen hanya dengan membayar sebanyak Rp. 75.000,-. Hal ini karena barang tersebut telah dikenai diskon sebesar 25% dari harga sebenarnya. Bahkan pada hari besar seperti Lebaran dan Tahun Baru maka diskon besar dan berlipat bisa langsung ditawarkan oleh pedagang. Diskon berlipat ini maksudnya adalah pengenaan dua kali diskon pada satu barang.

Sumber : http://www.sinyal.co.id/

Sumber : http://www.sinyal.co.id/

Bagaimana jika kalian melihat bandrol diskon 75% + 25% digantung pada sebuah barang ? Wow, jika dijumlahkan akan menghasilkan diskon 100%. Gratis? Benarkah ? Tentu bukan seperti itu. Hal ini maksudanya anda dikenai diskon berlipat. Jadi jika harga baju Rp. 100.000,- maka anda akan mendapat harga Rp 25.000,- yang masih dikenakan diskon kedua yaitu 25%. Tentu ini sangat menarik bukan? Hal inilah mengapa banyak orang yang akan sangat tertarik dengan penawaran tersebut dan tidak segan serta merta merogoh kantong untuk membawa pulang barang tersebut.

Mendapatkan diskon besar-besaran akan dikaitkan oleh persepsi seseorang bahwa ia mendapatkan barang dengan harga murah atau low price. Akan tetapi sebenarnya low price ini berbeda dengan diskon. Low price ini lebih merujuk pada harga yang yang lebih rendah daripada harga benda sejenis pada umumnya. Jadi jika pada diskon anda bisa mengetahui harga yang sesungguhnya yang kemudian kita kalkulasikan dengan persen diskon yang digunakan, pada barang yang dijual dengan harga yang murah anda akan langsung memperoleh harga jual yang ditawarkan oleh pedagang. Anda hanya bisa menyimpulkan jika benda tersebut murah jika mengetahui harga pasar pada umumnya yang kemudian dibandingkan dengan harga yang kita ketahui.

Nah, apa yang anda pilih jika sudah dihadapkan pada dua pilihan ini ? Mari kita mengkajinya secara sederhana. Harga yang ditawarkan dengan sistem diskon tentu sangat menarik perhatian sehingga kita tanpa pikir panjang langsung membeli barang tersebut. Tetapi sadarkah anda jika penjual tentu tidak ingin rugi. Oleh karenanya sebelum memberikan diskon penjual pasti akan menaikan barang dari harga sebenarnya. Sehingga ketika kita mendapat diskon besar sekalipun penjual tersebut tidak akan mengalami kerugian. Meskipun diskon terlihat mengelabui namun low price juga tentu memiliki sisi yang sama.

Low price biasanya identik juga dengan harga yang tidak genap seperti misalnya Rp 98.879,-. Jika sudah melihat harga ini kita akan tertarik karena harganya tidak sampai Rp 100.000,-. Tapi sadarkah anda jika harga ini hanya berjarak kurang dari Rp 2.000,- dari angka Rp 100.000,-. Jadi, lembaran Rp 100.000,- anda tetap hilang bukan ? Bagaimanapun strategi yang diterapkan oleh pedagang akan lebih baik jika anda melihat terlebih dahulu budged yang anda anggarkan. Bagaimanapun jangan sampai anda menyesal karena membeli barang yang tidak penting akibat tergiur oleh harga yang murah dan juga diskon. Jika benda tersebut memang dibutuhkan dan sesuai dengan budged yang dianggarkan, pilihan ada di tangan anda untuk memilih barang diskon atau low price.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *