Cerita Orang Miskin Jadi Orang Kaya

Apa yang muncul pertama kali ketika kita melihat seorang yang sudah sukses secara finansial dengan dikelilingi harta yang bergelimang? Apakah kita terinspirasi dan menjadikan sosoknya sebagai motivasi kita? Ataukah kita justru menjadi sinis dan iri meliha sosoknya yang sudah dikejar-kejar oleh uang?

Apapun pandangan kita, ada satu hal yang jarang kita perhatikan: proses mereka menjadi sukses. Perlu diakui, banyak orang kaya yang memang berasal dari keluarga kaya, tapi ternyata banyak juga orang kaya yang berawal dari himpitan ekonomi. Kali ini kami akan membagikan kisah mereka yang kaya setelah sebelumnya berkubang di kemiskinan. Satu dari luar negeri, satu dari dalam negeri, saatnya untuk menimba inspirasi dari mereka.

LUAR NEGERI: J. K. Rowling dengan Novel Harry Potter yang Mendunia

via theguardian.com

Anda sudah pernah baca novel atau menonton film Harry Potter? Sekalipun belum pernah, hampir dipastikan anda pernah mendengar judul ini, meskipun hanya satu kali. Pasalnya novel yang berkisah tentang kehidupan penyihir ini sangat ramai dibicarakan pada tahun 2000an lalu. Bukan hanya karena mendulang kesuksesan yang teramat luar biasa, tetapi juga karena begitu banyak penolakan (pembakaran buku, larangan cetak, dsb.) dari berbagai kalangan ekstrimis agama karena persoalan ideologis.

Secara pribadi, saya menilai cerita novel itu sangatlah menarik. Namun cerita yang tak kalah menarik juga datang dari kehidupan penulis novelnya: J. K. Rowling. Ringkasnya, dia adalah salah satu orang yang patut kita jadikan sebagai motivasi kita dalam menggali potensi dan menguangkan potensi itu dalam karya. Pasalnya dia berangkat dari keterpurukan finansial yang parah, tapi kemudian memperoleh kekayaan yang nilainya tak bisa kita bayangkan. Bagaimana ceritanya? Berikut kami sarikan.

Rowling lahir 50 tahun lalu, tepatnya tanggal 31 Juli 1965 di kota Chipping Sodbury, Inggris. Dia mendapatkan pendidikan yang cukup baik hingga lulus dari jurusan Sastra Prancis dan Sastra Klasik pada Universitas Exter. Dengan bekal pendidikannya tersebut dia sempat bekerja pada beberapa perusahaan di negaranya. Namun pada tahun 1990 dia memutuskan untuk pindah ke Portugal dan menjadi guru Bahasa Inggris. Di sana dia menikah dengan seorang wartawan Portugis bernama Jorge Arantes hingga pada tahun 1993 lahir anak pertamanya, Jessica.

Namun naas, pernikahannya harus berakhir dengan perceraian yang menyakitkan. Di sinilah titik terberat dari awal perjuangannya. Di tengah himpitan ekonomi yang begitu pelik, dia harus membesarkan anaknya seorang diri. Dia terpaksa menjadi orang tua tunggal yang miskin. Di tengah keputus asaan itu dia lalu memutuskan untuk menulis sebuah buku yang ide awal ceritanya telah dia dapatkan beberapa tahun sebelumnya.

Pada tahun 1990, dalam perjalanan di atas kereta dari Manchester ke London dia menuliskan ide awal ceritanya di atas selembar kertas tisu. Berawal dari ide cerita tersebut dia mulai menuliskan sebuah naskah novel dengan segala kendala yang dimilikinya. Disebutkan kendala terbesar adalah soal fasilitas: dia tidak memiliki sebuah komputer untuk menuangkan ide ceritanya. Dengan bermodalkan sebuah mesin tik tua dia menulis naskahnya untuk dikirimkan ke beberapa penerbit. Masalahnya, dia juga tak punya uang untuk sekadar memfoto kopi naskahnya. Maka mau tak mau dia lalu mengetik ulang naskah tersebut hingga belasan kali.

Perjuangannya tak berhenti di situ. Berdasarkan informasi yang beredar, ada 12 penerbit buku yang menolak untuk menerbitkan naskahnya. Baru penerbit ke 13 ini yang mau menerbitkan naskahnya. Di sinilah hasil perjuangannya mulai terlihat, novel pertamanya (Harry Potter dan Batu Bertuah) dicetak massal dan dia mendapatkan uang sebanyak 4000 Dollar AS. Produktivitas menulisnya kemudian berkembang dan tak terbendung, begitu juga dengan pundi-pundi uang yang mengalir ke kantungnya. Tiga novel pertama Harry Potter (Harry Potter dan Batu Bertuah, Harry Potter dan Kamar Rahasia, serta Harry Potter dan Tawanan Azkaban) dicetak ulang sebanyak 35 juta naskah dalam 35 bahasa. Keuntungan yang dia peroleh? 480 juta Dollar AS!

via collider.com

Novel-novelnya disebut sebagai novel yang terlaris sepanjang sejarah di Britania Raya dan Amerika Serikat. Bisa ditebak, akhirnya mereka juga jadi yang terlaris di dunia. Uangnya tak berhenti pada keuntungan penjualan novel, karena akhirnya dibuatlah film dari novel pertamanya. Film tersebut mendulang keuntungan hingga 93,5 juta Dollar AS. Keuntungan tersebut berlipat ganda hingga beberapa kali karena dia terus produktif menulis buku Harry Potter hingga seri ke tujuh, dan tiap novelnya itu difilmkan dengan tingkat pendapatan yang fantastis.

Maka jadi sangat wajar ketika dia disebut-sebut sebagai salah satu wanita terkaya di dunia karena novel-novel yang dia tulis itu. Atas prestasinya tersebut dia diganjar dengan gelar kebangsawanan Order of the British Empire dari Kerajaan Britania Raya. Gelar itu diberikan tepat saat perayaan ulang tahun Ratu Elizabeth II di tahun 2000.

Kekayaannya tak membuat silau matanya, atas dasar solidaritas dan pengalaman buruk di masa lalunya dia menyumbangkan sebagian uangnya pada badan amal seperti Comic Relief, One Parent Families, serta Multiple Sclerosis of Great Britain, dan Lumos. Atas sifat dermawannya itu dia juga diganjar berbagai gelar kehormatan oleh berbagai lembaga.

Saat ini dia sudah menikah lagi dan memiliki dua anak dari pernikahan kedua. Hidupnya bahagia dan sudah mencapai kehidupan finansial yang jauh lebih baik, mengingat dia sangat miskin pada tahun 1990an. Semua ini karena kepercayaan diri akan kemampuan menulisnya, kegigihan untuk mengirimkan ke belasan penerbit, hingga semangatnya untuk terus produktif hingga mencapai kekayaan yang sedemikian besar.        

DALAM NEGERI: Bob Sadino—Pengusaha Nyentrik yang “Memilih” Untuk Jadi Miskin

via nasional.inilah.com

Siapa pengusaha Indonesia yang paling menginspirasi anda? Pasti ada sebagian dari anda yang menyebut Bob Sadino, biasa dipanggil Om Bob, untuk membakar semangat diri anda ketika berwirausaha. Anehnya, Bob Sadino bukanlah tipe pebisnis yang membagikan langkah-langkah terstruktur atau kunci-kunci sukses dalam berbisnis. Alih-alih mengajarkan hal yang biasanya diajarkan para pebisnis ulung, dia justru membolak-balikkan pandangan kita soal bisnis. Bagaimana awal keberhasilan dia dalam berbisnis?

Sebenarnya Bob Sadino bukan lahir dari keluarga miskin, bahkan bisa dibilang sangat berkecukupan. Lantas di mana perjuangannya dari titik awal hingga jadi pengusaha besar dan disegani? Pria yang telah meninggalkan ribuan inspirasi bisnis ini lahir di Lampung, 9 Maret 1933. Ayahnya adalah seorang guru yang sempat menjabat sebagai kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang. Bob Sadino adalah anak bungsu dari lima bersaudara.

Saat dia berusia 19 tahun kedua orang tuanya meninggal. Lantas dia mendapatkan warisan seluruh kekayaan keluarganya karena keempat kakaknya yang lain dianggap sudah mapan secara finansial. Anak muda mendapat harta warisan yang cukup banyak bagi anak seusianya. Apa yang dia lakukan? Diceritakan kalau dia menggunakan sebagian hartanya itu untuk keliling dunia. Pada satu periode waktu bahkan dia sempat singgah di Belanda selama 9 tahun.

Apa yang dia lakukan di benua Eropa tersebut? Rupanya dia bekerja di perusahaan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg hingga tahun 1967. Di Belanda itu dia menemukan pasangannya dan menikah hingga berkeluarga. Manuver besar dilakukan Bob Sadino pada tahun 1967, dia akhirnya pulang ke Indonesia dengan membawa serta keluarga kecilnya. Ketika pulang dia juga membawa dua mobil Mercedes buatan tahun 1960an miliknya.

Dia keluar dari pekerjaan dan memutuskan untuk berwirausaha di negaranya sendiri. Hal pertama yang dilakukan adalah menyewakan mobilnya tersebut dengan dirinya sendiri sebagai pengemudinya. Namun naas, suatu kali dia mengalami kecelakaan mobil yang parah. Jiwanya selamat tetapi mobil itu rusak sedemikian parahnya hingga dia tak punya uang untuk memperbaiki. Hal itu membuatnya jadi depresi karena rencananya berwirausaha seakan digagalkan oleh kecelakaan itu. Barangkali ini adalah titik terendah dalam hidupnya, sekaligus titik berangkat baginya untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik.

Untuk bertahan hidup, dia sempat menjadi tukang batu dengan gaji Rp 100. Pada tahun itupun uang Rp 100 masihlah kecil dan sangat tak mungkin untuk bisa hidup sejahtera dengan nominal itu. Sangat wajar jika depresi kemudian menghampiri hidupnya.

Namun karena hubungan baiknya dengan berbagai kenalan, keberuntungan menghampiri. Kawannya, Sri Mulyono Herlambang, tergerak untuk memberikan Bob Sadino 50 ekor ayam ras. Dia mendorong Bob Sadino untuk memelihara ayam untuk melawan depresi yang dia alami.

Akhirnya inspirasi wirausaha muncul dari ayam-ayam tersebut. Dengan modal seadanya dia akhirnya mengembangkan peternakannya dengan menjual beberapa kilogram telur ayam setiap harinya. Peternakannya lama kelamaan berkembang dengan pelanggannya yang sebagian orang asing. Kebetulan dia tinggal di Kemang, di mana banyak orang asing tinggal di sana. Selain itu juga karena dia dan istrinya fasih berbahasa Inggris karena sempat tinggal di Eropa bertahun-tahun.

via flickr.com

Dengan cara jungkir balik, hingga bertahan dimaki-maki oleh pelanggannya, Bob Sadino kemudian berhasil membangun pasar swalayan miliknya sendiri bernama Kem Chicks. Poin pentingnya adalah dia tak hanya membangun pasar swalayan, tetapi membangun pasarnya sendiri. Pasarnya, yang notabene adalah pelanggannya, dilayani dengan sepenuh hati. Dia menerima makian, keluhan, serta saran. Hal itu membuatnya meraih simpati pasar yang akhirya membesarkan pasar itu sendiri.

Tak tanggung-tanggung, bisnisnya berkembang pesat. Berawal dari peternakan ayam yang hanya 50 ekor, dia lalu berhasil merambah ke pasar swalayan, serta agribisnis, khususnya hortikultura. Pelanggannya semakin loyal dan besar, hingga dia juga menjalin kerja sama dengan petani-petani lokal untuk menyuplai produknya. Data yang beredar menunjukkan pada tahun 1985 perusahaanya berhasil menjual 40-50 ton daging segar, 60-70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.

Maka jadilah Bob Sadino yang anda tahu. Dia yang selalu sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendeknya, tetapi punya harta yang sangat besar dan disegani oleh pemerintah sekalipun. Kisah suksesnya berawal dari kejatuhan finansialnya karena kecelakaan, tetapi kegigihannya membuat dia mencapai kesuksesan finansial seperti yang diceritakan.

Tak lengkap rasanya bila kita tidak sedikit mengintip apa saja prinsip yang dia pegang, atau setidaknya anomali prinsip bisnis apa yang dia katakan kepada orang-orang. Berikut kami tunjukkan beberapa yang barangkali bisa anda jadikan inspirasi:

  • TUJUAN ITU BELENGGU.

Dengan adanya tujuan, maka seseorang hanya tertuju pada satu titik yang namanya tujuan. Dia tidak akan berusaha untuk mendapatkan hasil yang melebihi titik tersebut. Padahal potensi orang sangat mungkin melewati titik tersebut. Jadi sayang dong kemampuan saya, bila harus dipaku oleh tujuan.”

Bila anda mengikuti berbagai macam artikel di website ini, anda akan menemukan begitu banyak artikel mengenai betapa pentingnya kita menentukan tujuan atau target kita ketika memulai bisnis. Tujuan itu akan menentukan jalan dan bagaimana kita akan berusaha di jalan itu.

Namun ternyata nasehat itu ditolak mentah-mentah oleh Bob Sadino. Dia memilih untuk bermimpi besar dan menolak tujuan-tujuan kecil. Dia membebaskan dirinya untuk terbang bermanuver bebas di semesta bisnis yang arahnya sulit ditebak. Pada keleluasaan itu justru dia memperoleh kekuatan besar yang barangkali sulit dicapai jika hanya menetapkan target-target kecil dalam bisnis.

  • RENCANA ADALAH BENCANA.

Rencana itu cuma berlaku buat mereka yang belajar manajemen. Dari A, B, C, D, sampai Z. Padahal dalam bisnis tidak ada yang seperti itu, bisnis tidak mungkin lurus dan runut saja. Tapi sayangnya di sekolah kita sudah terlalu sering diajarkan bikin rencana. Padahal rencana  itu racun, bencana!

Kita juga telah didorong untuk membuat perencanaan bisnis yang matang sebelum kita memulai bisnis. Rencana itu dibuat sedetil mungkin untuk mencapai target kita. Tapi nyatanya hal itu jugalah yang ditolak Bob Sadino. Sama dengan target, dia membebaskan diri dari rencana-rencana bisnis yang jutru membuatnya kaku dan tak bisa luwes menghadapi lika liku bisnis.

Kelemahan banyak orang adalah terlalu banyak mikir membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. Padahal yang penting adalah action!

Alih-alih berencana, dia lebih memilih untuk langsung beraksi. Ibaratnya “pukul saja dulu lawanmu, urusan babak belur itu belakangan.” Aksi, baginya, jauh lebih berarti dari pada rencana-rencana indah di atas kertas.

  • MAU BERHASIL DI BISNIS? CARI KEGAGALAN DAN KERUGIAN

Orang sudah terlalu terbiasa berpikir secara linier. Kalau mau usaha, pasti mencari untung; mencari berhasil. Padahal dalam usaha itu ya pasti ada rugi dan gagal toh? Bagi kamu yang mau berhasil, justru cari kegagalan sebanyak-banyaknya. Sebab keberhasilan itu hanyalah sebuah titik di puncak gunung kegagalan.

Bukankah sebuah hal yang wajar bila kita berusaha untuk memperoleh keuntungan? Benar. Namun yang dimaksud oleh Bob Sadino adalah jangan takut rugi. Keberanian menghadapi kerugian, baginya, adalah jalan untuk memperoleh keuntungan yang besarannya tak bisa kita bayangkan. Pasalnya ketika pengusaha takut merugi, dia hanya akan ambil berbagai langkah kecil yang punya risiko kecil juga. Padahal keuntungan besar berpotensi diperoleh dari langkah-langkah berani itu.

  • JADI DIRI SENDIRI, BUKAN FOTOKOPI

Saya tidak pernah mau membagikan kunci sukses saya. Karena sekali lagi, semua itu ya mengalir saja. Lagipula kalau orang meniru saya, apa bedanya mereka dengan mesin fotokopi? Hina sekali jadi fotokopinya Bob Sadino. Kalau ada orang yang bertanya pada saya, saya bilang, ya jalankan saja. Alami saja pengalaman yang anda alami.”

Barangkali ini adalah prinsip terpenting yang dibagikan oleh Bob Sadino. Orang-orang mencari sosok yang menjadi panutannya dalam berbisnis, sedangkan dia sangat menghindari hal seperti itu. Dia mendorong pengusaha untuk menjadi dirinya sendiri. Kuncinya adalah aksi; kita didorong untuk menjalani saja apa yang ada di depan mata kita. Hal ini jadi penting karena fokus kita tidak akan terpecah antara menjalani bisnis kita atau menyerap ilmu dari orang lain. Coba bayangkan, kalau Bob Sadino tidak pulang ke Indonesia dan menjadi pegawai di Belanda, kalau dia tidak terpuruk karena kecelakaan, kalau dia tidak dimaki-maki oleh pelanggan, barangkali dia tidak menjadi dirinya yang sekarang.

Nah, itu tadi dua kisah dari luar negeri dan dalam negeri mengenai seorang kaya yang berawal dari kemiskinan. Apa benang merah yang bisa kita ambil? Pertama, kita bisa mengambil inspirasi dari kegigihan mereka dalam berjuang. Kedua, mereka sama-sama berhasil menemukan kemampuan diri mereka sendiri dan memonetisasinya menjadi pundi-pundi uang. Ketiga, mereka berhasil menciptakan pendapatan pasif bagi diri mereka: J. K. Rowling dengan royalti-royaltinya dan Bob Sadino dengan keuntungan dari perusahaannya yang telah dijalankan oleh karyawan. Jadi, tunggu apa lagi? Mari kita beraksi!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *