Penyebab Stress Di Tempat Kerja

Survey membuktikan bahwa sekitar 64% persen pekerja di duniamengalami stress di tempat kerja. Survey ini diambil contohnya dari16 ribu orang pekerja profesional di seluruh dunia. Ditambah lagi info bahwa kenaikan tingkat stress bertambah lagi dibandingkan tahun lalu.

Kini stress menjadi bagian hidup dari para pekerja di dunia, terutama di Indonesia. Pembangunan gedung-gedung untuk kantor, mall dan lainnya membuat jalan raya semakin macet. Mungkin ini juga menjadi salah satu sebab dari stress yang dialami pekerja di Indonesia.

Anda dapat menelusurinya dengan melihat kemacetan-kemacetan di setiap sudut atau jalan raya ibukota Indonesia, Jakarta. Jika anda sempat ke Jakarta, anda tidak akan pernah mendapati jalan raya yang lenggang di pagi hari. Mungkin hanya libur saja, itupun karena banyak pekerja yang merantau pulang ke kampung halaman mereka masing-masing. Belum lagi jika di musim hujan, jalan-jalan di Jakarta akan padat karena mengalami Kebanjiran.

Tak hanya di ibukota saja, kota-kota besar seperti Surabaya, Bandung atau Yogyakarta sudah hampir menyamai tingkat kemacetannya. Kemacetan, polusi udara ditambah lagi naiknya harga bahan-bahan pokok rumah tangga dan ketidakstabilan ekonomi Indonesia makin membuat pekerja di Indonesia makin stress.

Banyak akibat dari stress yang akan berbuntut kepada kualitas bekerja diantaranya pekerja mudah sakit, insomnia sehingga efisiensi dan produktivitas bekerja berkurang. Pekerjaan pun akan terus menumpuk dan tidak akan selesai hingga waktu deadline telah tiba. Mari kita telusuri lebih lanjut penyebab stress menurut Carry Cooper (dikutip Jacinta F, 2002):

1) Kondisi pekerjaan, meliputi

  • Kondisi kerja yang buruk berpotensi menjadi penyebab karyawan mudah jatuh sakit, jika ruangan tidak nyaman, panas, sirkulasi udara kurang memadahi, ruangan kerja terlalu padat, lingkungan kerja kurang bersih, berisik, tentu besar pengaruhnya pada kenyamanan kerja karyawan.
  • Overload. Overload dapat dibedakan secara kuantitatif dan kualitatif. Dikatakan overload secara kuantitatif jika banyaknya pekerjaan yang ditargetkan melebihi kapasitas karyawan tersebut. Akibatnya karyawan tersebut mudah lelah dan berada dalam tegangan tinggi. Overload secara kualitatif bila pekerjaan tersebut sangat kompleks dan sulit sehingga menyita kemampuan karyawan.
  • Deprivational stres. Kondisi pekerjaan tidak lagi menantang, atau tidak lagi menarik bagi karyawan. Biasanya keluhan yang muncul adalah kebosanan, ketidakpuasan, atau pekerjaan tersebut kurang mengandung unsur sosial (kurangnya komunikasi sosial).
  • Pekerjaan beresiko tinggi. Pekerjaan yang beresiko tinggi atau berbahaya bagi keselamatan, seperti pekerjaan di pertambangan minyak lepas pantai, tentara, dan sebagainya.

2) Konflik peran: Stres karena ketidakjelasan peran dalam bekerja dan tidak tahu yang diharapkan oleh manajemen. Akibatnya sering muncul ketidakpuasan kerja, ketegangan, menurunnya prestasi hingga ahirnya timbul keinginan untuk meninggalkan pekerjaan. Para wanita yang bekerja mengalami stres lebih tinggi dibandingkan dengan pria. Masalahnya wanita bekerja ini menghadapi konflik peran sebagai wanita karir sekaligus ibu rumah tangga.

3) Pengembangan karir: Setiap orang pasti punya harapan ketika mulai bekerja di suatu perusahaan atau organisasi. Namun cita- cita dan perkembangan karir banyak sekali yang tidak terlaksana.

4) Struktur organisasi: Gambaran perusahaan yang diwarnai dengan struktur organisasi yang tidak jelas, kurangnya kejelasan mengenai jabatan, peran, wewenang dan tanggung jawab, aturan main yang terlalu kaku atau tidak jelas, iklim politik perusahaan yang tidak jelas serta minimnya keterlibatan atasan membuat karyawan menjadi stres.

Anda tidak perlu khawatir lagi, selanjutnya saya akan membahas bagaimana menangani stress di tempat kerja.

|

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *