Bijak Memilih Memberi Uang Jajan atau Bekal

Seringkali banyak orangtua yang bingung dengan pilihan memberikan jajan atau membawakan bekal makan untuk anak? Bahkan banyak dari orangtua yang tidak tega kalau tidak memberikan uang jajan. Juga ada orangtua yang malas atau tidak sempat menyiapkan bekal anak karena harus berangkat kerja pagi hari dan pulang malam hari sudah dalam kondisi lelah. Untuk memberikan Anda sedikit ‘pencerahan’ dalam memutuskan bekal atau uang jajan, berikut penjelasannya.

bekal sekolah

Bekal

Antisipasi

Ketika anak lapar dan haus sehabis olahraga di sekolah atau sehabis main bersama teman-teman di jam istirahat, jadikan bekal sebagai antisipasi mereka untuk tidak jajan di kantin. Kalau mereka dibawakan bekal dan tidak diberi uang jajan, dalam situasi lapar dan haus, pilihannya adalah memakan bekal, bukan ke kantin. Lakukan ini demi kesehatan anak. Anda tidak pernah tahu, setiap hari ada jenis makanan dan minuman apa saja yang disediakan kantin sekolah.

Higienis

Sudah pasti bekal makan lebih bersih. Kalaupun makanan enak dan mahal tersedia di kantin, belum tentu bergizi. Begitu juga dengan makanan murah, belum tentu bernutrisi. Jadi solusinya yaitu dengan memasak makanan untuk bekal. Anda bisa memperkirakan kandungan nutrisi di dalamnya.

Bekal sehat dan simple

Jika Anda tidak punya banyak waktu karena harus berangkat kerja atau beraktivitas di pagi hari, pilih menu yang sehat dan simple. Misalnya sandwich isi daging tanpa lemak, keju, sayuran. Bawakan juga bekal potongan buah, air putih, susu, biskuit. Setidaknya semua menu ini lebih sehat ini sudah lebih dari cukup dibandingkan dengan memberikan uang jajan.

Pedagang menghalalkan segala cara demi untung

Anda pasti sudah pernah melihat liputan di televisi tentang bagaimana cara para pedagang jajanan di sekolah meraih untung berlipat namun dengan cara yang sangat berbahaya. Modal murah, untung berlimpah. Pemikiran seperti ini yang seringkali membuat pedagang menggunakan pewarna baju untuk campuran makanan dan minuman. Belum lagi jika dagangan tidak habis, pedagang tetap menjualnya esok hari supaya tidak rugi. Supaya awet, mereka menggunakan formalin.

Kandungan berbahaya dari jajanan tidak langsung bereaksi, efeknya terasa di kemudian hari. Seperti penyakit gagal ginjal karena penumpukan bahan kimia berbahaya di dalam tubuh. Juga bisa terkena kanker hati.

Tidak perlu antri

Hal ini terdengar sepele tapi sangat penting. Anda pasti ketika dulu sekolah pernah mengalami harus antri di kantin ketika jam istirahat. Kalau sempat sarapan, mengantri di kantin untuk makan siang tidak menjadi masalah. Kalau tidak sarapan, tentulah menjengkelkan. Hal ini tentu terjadi juga pada si anak. Ketika bel istirahat berbunyi, ia tidak perlu mengantri di kantin dan bisa langsung makan dari bekalnya.

Komunikasi

Kenapa perlu dikomunikasikan? Jika Anda menyiapkan sendiri bekal makanannya, tanyakan pada anak tentang kesukaan mereka. Lalu jadikan sebagai menu bekal. Ini jika Anda punya cukup waktu untuk menyiapkan bekal. Kalau tidak, jika di sekolah ada katering, maka komunikasikan kesukaan anak Anda ke pihak katering sekolah. Sarankan juga menu makanan dan minuman yang lengkap gizi dan nutrisinya. Sempatkan setiap hari untuk menanyakan apakah anak suka atau tidak dengan menu bekal makan siang mereka.

Pilihan terakhir tetap di tangan Anda. Mau dengan mudah memberikan anak uang jajan atau tetap menyempatkan waktu menyiapkan menu untuk bekal makan sekolahnya. Sekarang ini sudah banyak sekali panduan memasak dengan cepat dan sehat di youtube. Mungkin hal ini bisa membantu Anda yang baru belajar masak atau yang harus terburu-buru menyiapkan bekal karena harus berangkat kerja. Apapun keputusan Anda, lakukan demi kesehatan anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *