Berita Terkini Perusahaan di Indonesia (03 Maret 2014)

Pendapatan Sarana Menara Nusantara Naik 41,1%

Jika tahun sebelumnya yaitu tahun 2012, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TWOR) membukukan pendapatan sebesar Rp. 2,2 Triliun, berbeda dengan pendapatan tahun ini yang meningkat 41,1% menjadi sebisar Rp. 3,1 Triliun. Tetapi hal itu tidak diiringi oleh laba perusahaan yang menurun hingga 52,6%. Adapun sumber terbesar pendapatan perseroan tahun lalu disumbang oleh penyewaan menara, yaitu sebesar Rp 3,1 triliun. Pendapatan lain perseroan disumbang oleh sewa pemancar senilai Rp 1,7 miliar. Dan perusahaan yang paling banyak menyumbang yaitu PT Hutchison 3 Indonesia sebesar Rp 1,1 triliun atau 36% dari total pendapatan. Perusahaan lain yang menjadi sumber pendapatan terbesar perseroan adalah PT XL Axiata sebesar Rp 537 miliar atau 17% dan PT Telekomunikasi Selular senilai Rp 490 miliar atau 15%.

Sewatama Bayar Kupon Obligasi ke-5, Rp 23,45 M

Perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan solusi kelistrikan dan merupakan anak perusahaan dari PT. ABM Investama Tbk yaitu PT. Sumberdaya Sewatama, Tbk melakukan pembayaran kupon ke-5, kepada pemilik Obligasi Konvensional dan Sukuk Ijarah PT Sumberdaya Sewatama I, 2012 sebesar Rp 23,45 miliar melalui KSEI. Mengantongi rating PEFINDO id A di tahun 2013, perseroan menawarkan obligasi konvensional dan sukuk ijarah dengan jumlah nominal sebesar Rp 1 triliun dan bunga sebesar 8,6% dan 9,6% dengan periode pembayaran selama 3 dan 5 tahun untuk Sukuk dan Obligasi. Akhir tahun 2013, lini Operations and Maintenance Perseroan mendapatkan kontrak selama 6 tahun untuk menangani total operation and maintenance untuk Pembangkit Listrik Tenaga  Gas  Uap (PLTGU) Gunung Megang, di Sumatera Selatan dengan kapasitas 110 MW Combined-Cycle.

Arwana Bukukan Pertumbuhan Laba Bersih di Atas 50 %

Laba bersih sebesar Rp 235,16 miliar atau tumbuh 50,2% dibandingkan tahun 2012 yang hanya sebesar Rp 156,46 miliar berhasil diraih PT Arwana Citramulia Tbk dan dengan margin laba bersih tahun 2013 tercatat sebesar 17% dibandingkan hanya 14% pada tahun 2012. Pencapaian kinerja keuangan ini tercapai dari pertumbuhan nilai penjualan bersih yang tumbuh sebesar 27 % menjadi Rp 1.418 miliar yang bersumber dari pertumbuhan volume penjualan sebesar 11%, sedangkan biaya penjualan menurun sehingga rasio beban usaha terhadap Penjualan bersih turun dari 13% pada tahun 2012 menjadi 11% di tahun 2013. Penurunan biaya penjualan ini tercapai karena mulai beroperasinya Plant IV di Indralaya, Ogan Ilir – Sumsel yang khusus melayani kebutuhan pasar keramik Sumatera  bagian Selatan. Sementara beban keuangan tahun 2013 mengalami penurunan 45% dari Rp 13,25 miliar menjadi Rp 7,32 miliar. Penurunan ini dimungkinkan karena pengelolaan keuangan yang prudent, selama tahun 2013 telah mempercepat pembayaran angsuran kredit investasi sehingga mampu menurunkan hutang bank jangka panjang dari Rp 66,9 milyar pada tahun 2012 menjadi Rp 37,6 milyar pada akhir tahun 2013.

Induk ANTV Bidik Dana IPO Hingga Rp 1,1 T

Induk usaha ANTV menargetkan perolehan dana sebesar Rp 811 miliar hingga Rp 1,1 triliun dari penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada Februari-Maret 2014. Menawarkan 588 juta (15%) saham kepada publik dengan kisaran harga Rp 1.380-1.930 per saham. Dari jumlah tersebut, sebesar 7,5% di antaranya merupakan saham divestasi milik induk Intermedia Capital, yaitu PT Visi Media Asia Tbk (VIVA). Visi Media akan mengantongi hasil dana IPO tersebut sebesar Rp. 565 Milyar dan Rp. 565 Mikyar akan dikelola oleh PT Ciptadana Securities dan PT Sinarmas Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek (joint lead underwriter).

Masa penawaran awal (book building) IPO Intermedia berlangsung pada 28 Februari-7 Maret 2014. Pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan terbit pada 18 Maret 2014. Masa penawaran umum dijadwalkan pada 20-21 Maret 2014. Sedangkan pencatatan saham (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 27 Maret 2014.

OJK: Iuran Industri Keuangan Positif bagi Perekonomian

Dalam peraturan yang ditandatangani oleh Presiden RI, OJK mulai menarik pungutan kepada perbankan, pasar modal, perasuransian, dana pensiun, lembaga pembiayaan, dan lembaga jasa keuangan lainnya. Penarikan iuran itu berupa biaya perizinan, persetujuan, pendaftaran, pengesahan, dan penelahaan atas rencana aksi korporasi. Di samping itu, pungutan ini ditarik untuk biaya tahunan dalam rangka pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penelitian. Peraturan itu akan berlaku mulai 1 Maret 2014. Dengan ini OJK diharapkan tidak membebankan APBN yang ditargetkan pada 2016 dan diharapkan iuran wajib bagi industri jasa keuangan tersebut akan berdampak positif untuk mendorong perekonomian Indonesia lebih baik.

|

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *