Berita Terkini Perusahaan di Indonesia (02 Oktober 2014)

JP Morgan, Pemegang Terbesar Wesel Bakrie Telecom

JP Morgan Chase Bank National Association tercatat sebagai pemegang terbesar wesel senior PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Salah satu bank terbesar di Amerika Serikat itu mengantongi wesel Bakrie Telecom sebesar US$ 184,6 juta atau sekitar 48,6% dari total wesel yang mencapai US$ 380 juta. Adapunposisi JP Morgan sebagai noteholder diikuti oleh Citibank senilai US$ 141,1 juta atau mewakili 37,1% dari total wesel Bakrie Telecom.Selanjutnya State Street Bank and Trust Company senilai US$ 11,5 juta (3%), The Bank of New York Mellon/Mellon Trust of New England NA senilai US$ 7,4 juta (1,9%), dan Brown Brothers & Harriman sebesar US$ 5,55 juta (1,5%).

Telkom Incar Perusahaan Satelit di Hong Kong dan Singapura

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom/TLKM) semakin agresif pada semester II tahun ini. Perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia milik negara itu kini menjajaki akuisisi perusahaan satelit di Hong Kong dan Singapura.Direktur Utama Telkom Arief Yahya mengungkapkan, perseroan tengah melakukan uji tuntas (due diligence) sejumlah perusahaan satelit. Adapun Telkombelum bisa menyebutkan nama perusahaan yang menjadi target akuisisi. Namun, berdasarkan penelusuran Investor Daily, salah satu perusahaan satelit besar di Hong Kong adalah Asia Satellite Telecommunications Co Ltd (AsiaSat) dan APT Satellite Co Ltd (APSTAR). Sedangkan di Singapura terdapat AST dan Intesat Singapore Pte Ltd.

Sucorinvest: Ada Potensi Perpindahan Investasi ke AS

PT Sucorinvest Asset Management memperkirakan ada potensi perpindahan dana investasi dari negara-negara berkembang ke Amerika Serikat (AS) ketika bank sentral AS (the Fed) menaikkan suku bunga acuannya. Adapun saat ini,elaku pasar keuangan di negara-negara berkembang sebenarnya sudah mengantisipasi kenaikan suku bunga AS itu. Diperkirakan the Fed akan menaikkan suku bunga pada 2015 hingga sebesar 1,375 persen.Kendati demikian, Jemmy Paul mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi kenaikan peringkat investasi oleh salah satu lembaga pemeringkat internasional. Hal itu menyusul adanya harapan perbaikan defisit neraca perdagangan Indonesia setelah terealisasinya kenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Sucorinvest Luncurkan Reksa Dana Saham Anyar

PT Sucorinvest Asset Management (SAM) resmi meluncurkan produk reksa dana terbarunya, yaitu Maxi Fund. Produk baru tersebut merupakan pengembangan dari produk unggulan perseroan sebelumnya, Flexi Fund.Direktur PT Sucorinvest Central Gani Ratih D Item mengatakan produk baru perseroan merupakan reksa dana yang berbasis saham.Cara pengelolaan Maxi Fund berbeda dengan dua produk reksa dana saham lainnya, karena produk baru SAM tersebut tidak didasarkan pada pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG).

Produk baru ini diharapkan dapat mencatatkan dana kelolaan(asset under management/AUM) sebesar Rp 300 miliar pada akhir tahun ini. Sampai saat ini, total AUM perseroan tercatat sebesar Rp 3,5 triliun.Maxi Fund pada dasarnya merupakan pengembangan dari produk unggulan perseroan sebelumnya, yaitu Flexi Fund yang komposisinya 5 persen sampai 75 persen diinvestasikan pada instrumen ekuitas. Pengembangan yang dilakukan perseroan berdasarkan keunggulan yang telah dicatatkan Flexi Fund. Produk tersebut memberikan return sebesar 160 persen pada lima tahun terakhir.

Tunas Baru Lampung Akan Private Placement Senilai Rp 335 Miliar

PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) siap melepas sebanyak 494,2 juta saham baru atau setara 10 persen modal ditempatkan. Emiten minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) ini bakal melakukan penambahan modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (non-HMETD) atauprivate placement.

Menurut data yang dihimpunBeritasatu.com,rata-rata harga penutupan Tunas Baru selama 25 hari perdagangan bursa tercatat sebesar Rp 678,6 per saham. Dengan begitu, Tunas Baru berpeluang meraup dana sekitar Rp 335,3 miliar dari penerbitan saham baru tersebut.Saat ini, sebanyak 30,05 persen saham anggota kelompok usaha Sungai Budi itu dikuasai oleh PT Budi Delta Swakarya. Sementara sebanyak 28,63 persen dimiliki PT Sungai Budi. Adapun Widarto dan Santoso Winata masing-masing menggenggam 0,05 persen, sedangkan investor publik 41,22 persen.

|

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *