Belajarlah Soal Saham dari Buku Legendaris Ini

Belajar bisa dimulai dari mana saja, kapan saja, media apa saja, dan siapa saja. Artinya belajar adalah sebuah proses panjang yang dimulai ketika anda telah memutuskan “Ya, saya akan belajar.” Dalam narasi investasi saham, anda pun juga akan belajar setiap waktu. Barangkali anda bicara dengan ahli atau mentor, membaca buku atau artikel di internet, atau bahkan anda belajar dari kebangkrutan atau kegagalan yang anda alami sendiri.

Barangkali pengalaman gagal atau berhasil adalah guru yang terbaik. Namun sebelum menuju ke sana ada baiknya anda mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan, bukan modal nekat yang tak tahu apa-apa. Jangan pernah ambil keputusan berdasarkan ketidaktahuan, itu akan sangat merugikan. Maka belajar, atau sekadar mencari informasi, adalah hal mutlak yang anda butuhkan.

Kali ini kami mengajak anda untuk melihat lima buku yang direkomendasikan untuk anda baca bila anda ingin belajar soal saham. Jangan lupa, belajar dari buku adalah salah satu alternatif memulai investasi saham yang baik. Mari kita lihat uraiannya.

The Intelligent Investor | Penulis: Benjamin Graham

via www.amazon.com

Banyak investor kelas kakap memandang bahwa buku ini adalah buku terbaik soal berinvestasi. Pandangan mereka ini bukan tanpa alasan, terbit tahun 1949 dengan 20 bab, Graham menuliskan banyak mulai dari dasar berinvestasi hingga menganalisa laporan keuangan perusahaan tercatat.

Poin penting dari buku ini terletak pada filsafat Value Investing yang dia perkenalkan. Untuk menuju kepada filsafat tersebut dia pertama-tama membedakan terlebih dahulu antara spekulan dan investor. Seringkali kita memandang spekulan bukanlah tokoh (subjek) tetapi merupakan sifat dari investor. Namun tidak demikian menurut Graham, kedua hal tersebut adalah hal yang berbeda. Yang jelas Graham tidak melarang kita para investor untuk berspekulasi. Namun dia menegaskan kita untuk jangan pernah membohongi diri sendiri, menggap sedang berinvestasi, padahal melakukan spekulasi saja.

Apa konsekuensinya? Pisahkan dana investasi anda dengan dana spekulasi—kalau anda masih ingin berspekulasi. Ini perlu kita lakukan karena risiko spekulasi ini cukup besar, dana yang kita letakkan bisa saja raib seluruhnya. Pembatasan risiko semacam ini juga termasuk strategi yang cukup cerdas supaya kita bisa tetap berjalan.

Hal yang juga kita tahu adalah perbedaan spekulan dan investor secara fundamental. Beda keduanya bisa dilihat pada sikap yang mereka ambil ketika menghadapi dinamika harga pasar. Spekulan selalu breusaha mengambil untung dari fluktuasi pasar. Sedangkan investor menahan saham yang dia punya pada harga yang pantas. Bagaimanapun fluktuasi pasar ini tetap penting bagi investor. Dia tetap harus mengerti kapan harus membeli atau menjual saham ketika pasar sedang memberikan harga yang murah atau justru mahal. Dua strategi utama yang membedakan investor dari spekulan adalah timing dan pricing.

The Essays of Warren Buffet: Lessons from Corporate America | Penulis: Warren Buffet dan Lawrence Cunningham

via www.journalofaccountancy.com

Secara ringkas, buku ini adalah kumpulan surat yang ditulis Warren Buffet. Siapa yang kenal Buffet? Dia adalah investor kelas kakap yang sering dianggap sebagai investor terbesar abad ini. Beberapa teknik investasi dan gagasan yang dia usulkan adalah sebagai berikut:

  • Beli saham tak beda dengan beli bisnis

Maksudnya adalah jika ingin membeli saham, lihatlah performa bisnis dari perusahaan tersebut. Untuk dapat mengetahuinya, mutlak kita harus melakukan riset. Menurut Buffet kita harus tahu terlebih dahulu bagaimana performa bisnis perusahaan. Beberapa kali dikisahkan dia menolak berinvestasi pada berbagai perusahaan teknologi karena dia tak kenal dengan bisnisnya. Ini seperti prinsip yang tadi disebutkan di pengantar: jangan ambil keputusan berdasarkan ketidaktahuan.

  • Beli perusahaan yang punya keuntungan konsisten

Poin yang ini tampaknya mudah dipahami, sangat berrisiko bagi kita bukan untuk membeli perusahaan yang tidak menunjukkan keuntungan yang baik? Namun berhati-hatilah, karena banyak orang yang terjebak membeli perusahaan yang untung besar pada satu tahun terakhir saja. Pilihlah perusahaan yang dalam jangka panjang, misal 10 tahun, mencapai keuntungan yang konsisten.

  • Saat pasar harga pasar turun, tebarkan jala untuk pilih saham bagus

Prinsip ini dia adopsi dari investor besar lain yang dianggap sebagai gurunya, yaitu Benjamin Graham. Tentu saja untuk bisa melihat kesempatan itu kita tidak boleh melepaskan pandangan kita dari fluktuasi pasar. Hal tersebut seakan mudah dilakukan karena hanya pernyataan saja. Tetapi ketika sampai di lapangan, investor biasanya kesulitan untuk menyeimbangkan antara kepanikan, emosi, menahan, atau sifat serakah yang muncul.

  • Pilihlah untuk investasi jangka panjang

Karena ini soal saham, maka tidak heran dia menyarankan untuk itu. Dia menyarankan untuk membeli saham yang bisa kita pegang hingga 10 tahun. Bahkan kalau bisa simpanlah saham yang bisa sampai seumur hidup, sebagaimana dia menyimpan saham Coca-Cola, Washington Post, dan sebagainya.

[adinserter block=”2″]

  • Pilihlah perusahaan yang punya economic moat

Maksudnya adalah perusahaan yang punya parit sebagai perlindungan ekonomi. Dia mengadopsi ini dari benteng-benteng di Eropa yang dikelilingi parit untuk mencegah musuh masuk ke dalam benteng. Hal ini penting karena setiap hari kompetitor bertambah dan perusahaan harus punya keunggulan untuk bisa tetap bertahan. Keunggulan ini bisa jadi merek yang sangat kuat di benak publik, letak geografis, dan sebagainya.

Common Stocks and Uncommon Profits | Penulis: Philip Fisher

via www.amazon.com

Philip Fisher adalah salah seorang investor kondang di seluruh dunia. Pemikirannya sering diadopsi dan digunakan referensi oleh para investor ketika mereka harus mengambil keputusan penting. Satu hal penting yang dia tekankan adalah penting bagi kita untuk memahami operasional bisnis dan prospeknya untuk menganalisis saham. Senada dengan tokoh-tokoh sebelumnya, untuk ambil keputusan dalam investasi, kita butuh pengetahuan. Sebagai panduan, dia menuliskan 15 kriteria perusahaan yang cukup menarik untuk bisa kita beli sahamnya.

Pemikiran lain yang seringkali dianggap berrisiko adalah membeli, atau lebih tepatnya barangkali: memborong, saham ketika sedang krisis. Bukankah ini sangat berrisiko? Betul, tetapi saat itulah harga saham sedang sangat anjlok. Pasti banyak yang pemilik saham yang rela menjual murah sebelum mereka rugi terlalu banyak. Di sana kita bisa membeli saham dari perusahaan yang bagus berdasarkan kriteria yang ada. Nanti ketika krisis berakhir, harga akan naik dan keuntungan berlipat-lipat akan memenuhi rekening anda.

Learn to Earn, One Up On Wall Street dan Beating the Street | Penulis: Peter Lynch

via www.amazon.com

Peter Lynch termasuk investor yang cukup produktif dalam menulis buku. Secara umum, buku yang dia tulis bertemakan aplikasi dari teori investasi yang dia pelajari. Buku Learn to Earn ditujukan untuk pembaca berusia muda yang ingin mengetahui dasar bisnis; One Up On Wall Street menjelaskan keuntungan melakukan investasi yang dilakukan sendiri; lantas Beating the Street menarasikan tentang keputusan dirinya memilih saham-saham yang bagus.

Meski dia menulis banyak buku, satu hal penting yang ditangkap oleh banyak orang adalah prinsip investasi minimalis yang dia gagas. Dengan kata lain “investasi tanpa ribet.” Bukannya menihilkan kebutuhan kita untuk memelajari hal penting, tetapi menurutnya kita tidak perlu menjadi ahli investasi terlebih dahulu untuk memulai berinvestasi. Pengetahuan itu penting, tetapi cukuplah sebagai dasar untuk melangkah.

Prinsip ini tepat untuk diadopsi oleh kita yang kehabisan waktu dan energi untuk memelototi laporan keuangan sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Menurut Lynch, investor individu pemula bisa lebih baik dari seorang fund manager dalam memilih saham. Bagaimana bisa? Karena investor mengambil kepeutusan berdasarkan pengalaman, bukan semata-mata hitungan di atas kertas. Meski perlu diakui juga bahwa hitungan tersebut penting.

How to Trade in Stocks | Penulis: Jesse Lauriston Livermore

via www.amazon.com

Livermore bisa dikatakan seorang legenda dalam dunia pasar saham. Dia dijuluki sebagai “Speculator King” karena polahnya yang luar biasa di dunia saham. Perhitungan yang sangat tajam, penentuan timing, serta pengendalian emosi yang sempurna membuat dirinya juga mengunduh keuntungann luar biasa besar saat Wall Street bearish dalam crash tahun 1907 dan 1929. Untuk yang terakhir ini dia juga dijuluki sebagai “Great Bear of Wall Street”.

Tentu saja spekulator tadi hanya istilah yang disematkan ke dalam dirinya, karena dia sebenarnya penuh perhitungan ketika memainkan sahamnya. Dikisahkan bahwa pada masa itu dia sudah menerapkan analisa formasi pola pergerakan harga, mendapatkan keuntungan optimal dari pyramiding dan analisa tren pergerakan harga dengan jargon terkenal ‘cut losses, let profits run.’

Metode-metode tersebut masih banyak digunakan sampai sekarang. Misalnya nasihat untuk menghindari saham-saham yang ambigu atau ragu-ragu. Itulah mengapa dia disebut sebagai legenda. Seakan dia telah menciptakan strategi di masa lalu untuk bisa digunakan hingga masa kini.

Nah, itu tadi beberapa buku yang bisa anda baca sebelum memutuskan untuk berkiprah lebih jauh di dunia pasar saham. Mereka adalah pemain saham yang kemudian menulis buku, bukanlah penulis yang lalu ikut bermain saham. Maka pengalaman mereka jangan pernah diragukan lagi. Satu hal penting adalah jangan serta merta percaya dan tunduk dengan nasihat mereka soal saham, meskipun mereka adalah legenda. Pasalnya, kondisi keuangan bisa saja berbeda dari waktu ke waktu, dari negara satu dan negara yang lain. Maka ambillah prinsip-prinsip yang baik, lalu sesuaikan hal itu dengan karakter diri anda dan karakter pasar yang anda masuki. Selamat berinvestasi!

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *