Belajar dari Kondisi Ekonomi Yunani

Sejak ratusan tahun sebelum Masehi, kebudayaan Yunani sudah begitu terkenal di seluruh dunia karena kajian filsafat dan mitologi yang mereka miliki. Namun kini perkembangan induk ilmu dan mitologi yang mendominasi filsafat dunia barat itu rasanya runtuh lantaran kondisi bangkrut yang mereka umumkan tempo hari. Sejak saat itu kata ?angkrut?menjadi kata yang selalu melekat di belakang nama negeri para dewa tersebut.

Dilihat dari segi ekonomi dan kependudukan, Yunani adalah sebuah negara kecil di Zona Euro yang berpenduduk sekitar 11 juta jiwa, dengan pendapatan perkapita sekitar US$22 ribu. Bila dilihat dari perspektif yang lebih luas, misalnya keanggotaan Uni Eropa, Yunani adalah negara kecil yang menyumbangkan kurang lebih 2,6 dari keseluruhan GDP di wilayah tersebut.

Meskipun negara kecil yang menyumbangkan GDP yang kecil pula, kebangkrutan Yunani ini membuat beberapa pemerintahan negara yang termasuk kawasan Uni Eropa menjadi was was. Mengapa demikian? Karena Yunani adalah salah satu anggota Uni Eropa yang menggunakan mata uang Euro dalam transaksi sehari-hari. Ketika salah satu negara yang menggunakan mata uang tersebut mengalami krisis, negara lain yang menggunakan mata uang sama juga terancam mengalami hal yang serupa. Efek ini sering dinamakan dengan efek domino, berdasarkan Teori Efek Domino, yang digunakan oleh banyak ahli ekonomi untuk menjelaskan penyebaran krisis ekonomi di dunia.

Pada sisi lain, negara Yunani sebenarnya memiliki potensi investasi yang cukup menarik bagi para investor. Namun menjadi mudah dipahami ketika muncul ketidakpercayaan para investor terhadap sektor keuangan di Yunani lantaran krisis yang mereka alami ini.

Apa kebijakan yang diambil oleh pemerintah Yunani ketika negaranya bangkrut? Kebijakan ini memberatkan warga di sana. Misalnya, pemerintah melakukan sinering terhadap gaji pegawai negeri, melonjakkan berbagai jenis pajak, menunda pencairan dana pensiun, dan memangkas anggaran militer guna menaikkan cadangan devisa negara. Kebijakan ini mendapatkan protes sangat keras, sebagaimana diberitakan oleh media-media internasional. Berbagai aksi demo dan mogok masal yang dilakukan oleh ratusan ribu pekerja dan pegawai pemerintah yang telah mengakibatkan berbagai sektor di Yunani lumpuh total, puncaknya aksi demo dan mogok masal telah menelan 3 koban jiwa yang tebunuh akibat ledakan dan kebakaran yang terjadi di Bank Marfin Athena. Bahkan, diberitakan juga bahwa hampir 60 perusahaan tutup setiap harinya di sepanjang tahun ini.

Penyebab kebangkrutan Yunani

Kabar bahwa Yunani bangkrut ini adalah kabar penting yang miris dan menakutkan, meski tidak mengejutkan. Mengapa tidak mengejutkan? Aroma kebangkrutan ini sudah tercium sejak beberapa tahun lalu dan sudah mulai dibicarakan oleh para ekonom di Eropa sana. Selain itu data menunjukkan bahwa PDB dari negara para dewa ini turun 25% dalam 6 tahun terakhir, sejak kehidupan ekonomi negara ini hanya bergantung dari utang luar negeri. Hal ini diperparah dengan tingkat pengangguran yang meroket. Tahun 2010 tercatat mencapai 10%, sedangkan bulan tiga tahun 2015 tercatat mencapai 25%.

Menjadi wajar ketika kemudian banyak orang mengambil pilihan untnuk meninggalkan negara ini untuk mencari suaka yang lebih layak untuk ditinggali. Dikabarkan bahwa populasi warga Yunani berkurang hingga 3% sejak 2010 lalu.

Lantas apa persisnya yang menyebabkan Yunani bangkrut? Ditengarai salah satu penyebab kuat yang menyebabkan krisis ini adalah tidak maksimalnya upaya pemberantasan korupsi di Yunani. Kita yang hidup di Indonesia tentu akrab dengan hal-hal demikian bukan? Namun mari kita lihat bagaimana tindakan korupsi dilakukan di Yunani. Sebagai informasi saja, Yunani adalah negara dengan Corruption Perception Index yang berada pada peringkat 71 dari 180 negara.

Istilah yang muncul di Yunani untuk menggambarkan perilaku korupsi ini dinamakan ?em>fakelaki?yang berarti amplop kecil. Maksudnya adalah sebuah kebiasaan, atau dapat dikatakan sistem, untuk memberikan amplop berisi uang kepada pihak tertentu agar permohonan yang dikehendaki dapat terpenuhi.

Misalnya, warga perlu memberikan amplop kecil berisi uang saat mengajukan permohonan di kantor imigrasi. Kemudian, pasien-pasien yang harus dioperasi di Yunani perlu memberikan amplop terlebih dahulu kepada para dokter supaya mereka bisa tenang masuk di kamar operasi. Warga di Yunani juga tidak akan memperoleh ijin mengemudi, walaupun lulus ujian tertulis dan praktik, jika mereka tidak memberikan amplop sejumlah Euro. Lalu sama seperti di Indonesia, warga Yunani perlu memberikan amplop berisikan uang kepada para pejabat pemerintah di Yunani supaya dapat menjamin proses otorisasi, sertifikasi atau izin mendirikan bangunan. Khusus untuk pejabat ini, jumlah uang yang ada di amplop dapat mencapai puluhan ribu Euro. Bahkan sebuah data menunjukkan korupsi pemerintah Yunani pada tahun 2009 mencapai US$1 miliar!

Jadi kita memang disodori kenyataan bahwa korupsi adalah salah satu, atau bahkan akar, penyebab kebangkrutan Yunani. Korupsi ini terjadi secara sistemik di hampir semua lembaga yang berjalan dalam berbagai bentuknya. Menurut sumber yang ada, korupsi terbesar terjadi di kantor perpajakan Yunani yang mengkorup sekitar 30% dari penerimaan pajak. Hal ini terbilang sangat besar, sepertiga pendapatan negara digerogoti oleh koruptor pada berbagai tingkatan yang ada. Untuk masalah yang satu ini kita perlu mengakui bahwa memang sulit untuk diberantas, terutama ketika sudah terjadi di mana-mana. Kita bisa membayangkan bagaimana Yunani kesulitan untuk memulai memerangi dari bagian mana. Itulah mengapa krisis ekonomi menjadi begitu parah di Yunani, sedangkan tidak di negara Uni Eropa lainnya.

Dilihat dari pertumbuhan ekonomi makro negara tersebut, neraca perdagangan Yunani ternyata juga mengalami defisit. Hal ini terlihat dari nilai impor barang yang lebih besar dari ekspornya. Impor Yunani mencapai US$60 miliar, sedangkan ekspornya hanya $1,9 miliar. Defisit neraca perdagangan ini tentu akan mengurangi cadangan devisa Yunani. Belum ditambah dengan hutang Yunani yang menumpuk dan tidak bisa diperpanjang lagi, yang juga dituding sebagai salah satu penyebab krisis parah yang melanda Yunani sejak akhir tahun 2009. Menurut informasi yang beredar, utang Yunani telah mencapai 300 milyar Euro!

Bagaimana dengan pelaksanaan Olimpiade 2004? Dunia menjadi terkejut ketika Yunani mampu menjadi penyelenggara olimpiade dengan sangat baik pada tahun itu. Semua mata terpana dengan acara pembukaan dan penutupan olimpiade yang begitu canggih dan megah. Tentu saja penyelenggaran yang demikian membutuhkan biaya sangat besar.

Penghamburan uang negara ini tentu mengingatkan kita pada proyek-proyek mega dari Bung Karno. Bedanya, strategi yang diambil Proklamator kita lebih tepat, karena proyek mega tersebut digunakan untuk mendapatkan posisi yang bernilai di mata internasional. Yang terjadi di Yunani pada masa olimpiade tersebut lebih tepat dibandingkan dengan pemerintahan Raja Louis XIV di Perancis. Pemerintahan raja ini diruntuhkan lewat Revolusi Perancis tahun 1789. Pendorong revolusi ini tidak lain adlaah pengamburan uang negara yang dilakukan oleh permaisuri raja Louis XVI yakni Marie Antoinette beserta putri-putri istana lainnya di saat rakyat hidup dengan sengsara. Kemarahan rakyat ini semakin memuncak ketika kerajaan meningkatkan tarif pajak kepada rakyat sehingga mengakibatkan rakyat marah kepada pemerintahan.

Jangan sampai Indonesia mengalami nasib yang sama!

Krisis Yunani ini terlihat mirip seperti krisis yang melanda Eropa pada tahun 1931. Krisis ini berawal dari Austria sebagai negara di Eropa yang memiliki kelemahan dalam struktur politik dan ekonomi. Krisis tersebut menjalar dan menular dengan ganas ke negara-negara lain di Eropa. Awalnya Jerman lalu ke Inggris, dan bagaikan sel kanker ganas, krisis akhirnya menyebar ke seluruh dunia.

Belajar dari sejarah krisi ekonomi yang menghajar Eropa waktu itu, negara lain harus waspada. Jika krisis ini tidak ditangani dan ditanggulangi dengan baik, bisa jadi krisis akan segera melanda Italia, Spanyol, dan juga Portugal. Lambat laun dikhawatirkan krisis ini bisa menggerogoti Indonesia juga.

Seperti yang sudah disinggung sedikit di atas, beberapa ekonom menyebut fenomena ini sebagai efek domino. Bila dipikirkan lagi, Indonesia tidak akan langsung terpengaruh oleh kondisi ekonomi Yunani ini. Namun kalau kebangkrutan Yunani memengaruhi apresiasi pada mata uang asia, ini baru akan memengaruhi kondisi ekonomi kita. Daya saing ekspor produk-produk Asia, dan terutama Indonesia, akan berkurang drastis.

Sebagai contoh untuk Indonesia misalnya, dalam enam bulan terakhir ini, nilai tukar rupiah mengalami peningkatan kurang-lebih 5 persen. Ini berarti para eksportir di Indonesia mulai berteriak. Mereka mengatakan, daya saing produk ekpornya semakin berkurang. Sementara impor semakin banyak. Karena dengan peningkatan nilai rupiah maka produk-produk impor menjadi lebih murah. Sehingga banjir impor di dalam negeri.Dalam konteks liberalisasi pasar ini menciptakan kehawatiran, karena dominasi dari produk-produk impor menjadi semakin nyata di pasar dalam negeri Indonesia.

Lantas apa yang perlu kita ketahui dan kita upayakan supaya Indonesia tidak mengalami hal serupa? Atau katakanlah, supaya sejarah 1998 tidak terulang lagi di masa depan?

Rupanya tidak mudah untuk membandingkan Indonesia dengan Yunani. Dari sisi luar, penyebab kebangkrutan Yunani ini adalah utang negara yang begitu besar. Setelah masuk sistem mata uang Euro pada 2001, Yunani gemar memanfaatkan pinjaman berbunga murah untuk membelanjai defisit APBN yang semakin besar. Utang luar negeri Indonesia, terutama utang pemerintah, saat ini relatif masih terkontrol.

Proporsi utang berjangka panjang mencapai 85,3% dari total utang luar negeri Indonesia. Itu sangat berbeda dengan fakta bahwa utang luar negeri Yunani justru didominasi oleh utang jangka pendek. Begitu pula dengan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) di Indonesia sekitar 33,48%, jauh ketimbang kondisi Yunani yang angkanya mencapai lebih dari 170%. Artinya, gangguan rnekonomi Indonesia hari ini bukanlah karena tekanan utang.

Karena itu, kita tentu mestinya sepakat dengan pendapat sebagian besar pakar dan ekonom negeri ini yang menyatakan kita mesti menjaga optimisme Indonesia tidak bakal mengalami kejadian buruk seperti Yunani. Indonesia tidak akan bangkrut. Sangat disayangkan bila masih ada yang menyebarkan isu Indonesia bakal kolaps karena hal itu malah akan membuat masyarakat takut membelanjakan uang mereka. Akibatnya, perekonomian justru makin melambat.

Akan tetapi, kita juga tidak ingin pemerintah lengah. Bagaimanapun, kita harus belajar bahwa kebangkrutan Yunani disebabkan oleh buruknya manajemen utang pemerintah, termasuk tidak adanya transparansi jumlah utang dan penggunaannya. Indonesia tak seharusnya terus terjebak dalam utang yang makin membesar. Apalagi, utang itu selalu digunakan ‘hanya’ untuk menutup defisit anggaran negara. Krisis Yunani mengajari kita agar memiliki konsep yang mumpuni untuk terus mengurangi jumlah utang.