Begini Mindset Orang Kaya, Menengah & Miskin

Menjadi miskin atau kaya memang bukan hal yang bisa ditentukan seorang manusia dengan mudah. Seseorang bisa disebut kaya dengan melalui berbagai cara. Bisa saja seorang mendapatkan kekayaan sejak ia lahir karena memang orang tuanya memiliki usaha/pekerjaan tertentu sehingga menghasilkan kekayaan yang bisa dipercayakan turun temurun pada anak-anaknya. Dan bisa saja orang yang memiliki warisan dengan jumlah banyak tersebut jatuh miskin tiba-tiba karena tidak bisa mengelola keuangannya dengan baik. Intinya, kunci dari seorang bisa menjadi miskin, menengah atau kaya adalah dari bagaimana dia mengelola mindsetnya terutama mengenai kehidupan keuangan yang dialaminya.

Orang Miskin, menganggap bahwa kekayaan itu hanya keberuntungan hingga pada akhirnya, mereka bermain judi untuk mencoba peruntungan mereka dan menjadi kaya dari itu. Sedangkan kelas menengah percaya pada bekerja keras dan menjadi mandiri dan yang mereka inginkan adalah keamanan finansial. Kelas menengah ini bersedia untuk menukar waktunya dengan uang, adapun konsep mendapat penghasilan tanpa membuang waktu adalah konsep yang asing. Orang-orang menengah ini percaya bahwa pekerjaan mereka adalah satu-satunya sumber kemakmuran dan biasanya memiliki satu sumber penghasilan dan memaksimalkan jumlah uang yang dibuat perjam biasanya menjadi tujuan dari orang-orang kelas menengah ini.

Kelas menengah biasanya memikirkan pengeluaran bulanan berdasarkan pendapatan yang didapat juga perbulannya. Ketika mendapat pendapatan tambahan, kelas menengah ini biasanya berpikir untuk menambah cicilan, misalnya untuk mobil baru yang lebih mahal dari mobil sebelumnya, atau gadget atau barang-barang lainnya. Adalah jarang tipe orang kelas menengah yang mencatat pengeluaran tiap tahunnya apalagi menghitung keuntungan yang didapat tiap tahunnya.

Kelas menengah juga sering sekali mengucapkan ungkapan yang mungkin Anda sering dengar juga yaitu “Uang bukanlah segalanya dalam hidup ini, mengapa kita harus terus mengejar uang?” Padahal kenyataannya, gaya hidup mereka dikendalikan oleh keuangan yang kurang dikontrol dengan baik. Kelas menengah ini biasanya tidak percaya pada sistem outsourcing dan cenderung menyukai hal-hal seperti renovasi rumah atau berkebun dan menghias taman sendiri.

Beberapa contoh wiraswasta seperti misalnya realtor, pemain saham, terapis hingga dokter yang memiliki mindset kelas menengah, karena mereka berpikir bahwa mereka akan mendapat uang jika menghabiskan waktu mereka untuk bekerja. Dan Anda akan sering mendengar istilah “tentu saja mereka kaya, mereka itu dokter!” dan seperti yakin bahwa satu-satunya cara untuk menjadi kaya adalah dengan bekerja. Kelas menengah, jika ingin mendapat penghasilan tambahan harus melakukan pekerjaan kedua dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk mendapat uang. Menjadi orang yang berada di kelas menengah, terkadang terpikir bahwa menjadi kaya adalah masalah keadaan. Bekerja keras sudah dilakukan, tapi keadaan masih seperti itu terkadang membuat orang di kelas menengah ini juga ikut-ikutan berjudi.

Sedangkan untuk para milyuner, mereka yakin bahwa menjadi mandiri itu penting tapi yang menjadi pembeda antara orang kaya ini dengan kelas lainnya adalah mereka percaya pada pentingnya memiliki beberapa aliran pendapatan, bukan hanya satu saja. Jika kelas menengah percaya pada keamanan finansial, kelas miliuner ini lebih yakin terhadap kebebasan finansial. Kedua hal tersebut seperti sama, padahal berbeda.

Milyuner percaya bahwa menjadi kaya adalah masalah ilmu pengetahuan dan prediktabilitas. Mereka biasanya akan fokus pada yang
luar biasa dalam satu area, dan melakukan outsourcing pada setiap bidang lainnya. Seorang jutawan kadang-kadang memelihara halaman, mencuci/laundry, dan belanja kebutuhan menggunakan tenaga orang lain (biasanya menyewa tenaga pekerja rumah tangga), dan kelas menengah yang biasanya melakukan semua sendiri akan sering terlihat geli atau bingung pada tindakan ini.

Para jutawan ini berpikir lain. Dimana mereka berpikir bahwa waktu mereka itu sangat berharga dan harus difokuskan pada hal yang penting sebagai investasi. Memiliki usaha kecil, sewa menyewa real estate, atau investasi di bisnis lain adalah barang umum yang akan Anda temukan pada kegiatan finansial para jutawan ini.

Sedangkan para milyuner memiliki dan mengawasi investasi secara ketat beserta tabungan dan cara mereka berbelanja. Jutawan menghasilkan uang untuk kemudian diinvestasikan dan digunakan/dikonsumsi. Sedangkan milyuner tidak berusaha memaksimalkan waktu perjam mereka sendiri, tetapi memaksimalkan pendapatan pasif dan bertujuan mendapatkan sejumlah uang tanpa menghabiskan waktu terutama bekerja pada orang/perusahaan lain. Atau jika memang mereka menghabiskan waktu untuk mendapatkan uang, itu karena mereka melakukan apa yang mereka cintai, dan mereka melakukannya dengan pilihan, bukan karena mereka harus.

Milyuner biasanya memiliki usaha kecil sedangkan billionaires biasanya percaya bahwa mereka harus memiliki beberapa aliran pendapatan dalam satu industri terfokus. Sedangkan jutawan akan memiliki beberapa aliran pendapatan di industri yang berbeda,
dan miliarder biasanya akan memfokuskan aliran pendapatan mereka pada satu hal.

Coba lihat Bill Gates dengan Kantor Microsoft-nya (1 stream) dan Windows adalah (aliran lain) dari Microsoft. Atau McDonalds dengan menambahkan beberapa menu kedalam restorannya sebagai aliran pendapatan lainnya. Atau Google, dimulai dengan pencarian
iklan berbasis (1 stream) dan ekspansi ke iklan konten (aliran lain).

Billionaires memiliki mindset bahwa mereka harus bisa memanfaatkan upaya orang-orang berbakat dengan gelar yang luar biasa. Sedangkan kelas menengah akan menghabiskan hidup mereka berusaha untuk menjadi yang paling cerdas dan paling dipercayai oleh para billionaire, sedangkan miliarder berfokus membangun tim untuk mendapat orang-orang yang lebih pintar daripada diri mereka sendiri.

Billionaires, bisa berada di posisi mereka, biasanya melatih diri dalam memahami orang-orang terkemuka, bukan berusaha menjadi salah satu dari orang terkemuka itu. Dan Anda akan jarang menemukan Miliarder yang jenius, karena mereka (miliarder) biasanya mempekerjakan mereka yang jenius.

So, ini adalah tentang bagaimana membaca situasi. Sejenius apapun Anda, jika mindset Anda adalah kelas miskin atau menengah, pada akhirnya Anda akan berada dan bekerja dibawah mereka yang pandai membaca situasi dan terus menerus melatih diri untuk menjadi lebih baik.

|

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *