Apakah bisnis kecil perlu penasihat keuangan?

Untuk menjawab pertanyaan dalam judul tersebut, anda hanya perlu untuk melihat sebuah hasil penelitian yang dirilis oleh American Express Open Forum. Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 30% dari pemilik bisnis kecil belum memperhitungkan seberapa banyak uang yang mereka butuhkan ketika suatu saat mereka harus berhenti bekerja dan menikmati masa tua mereka.

Melihat data tersebut barangkali anda berpikir bahwa berarti 70% dari pemilik bisnis kecil ini sudah memperhitungkan berapa banyak uang yang mereka butuhkan selepas masa ?ensiun?mereka, dan kemudian permintaan mereka untuk penasihat keuangan jelas akan tinggi. Namun rupanya tidak demikian yang terjadi. Riset tersebut juga menunjukkan bahwa kurang dari 25% dari pemilik itu memiliki rencana formal dan pasti untuk mentransferkan bisnis mereka kepada pemilik yang baru ketia mereka sudah memutuskan untuk pensiun dari bisnis mereka.

Lebih detil lagi, hanya 40% dari para pemilik bisnis kecil ini yang sudah berkonsultasi dengan penasihat keuangan. Dari hasil perhitungan statistik di atas, sudah jelas terbaca bahwa ini adalah persentase yang relatif rendah. Meskipun para pemilik bisnis kecil ini sudah membuat rencana yang dibutuhkan untuk masa depan bisnis mereka, akan menjadi sebuah kesulitan tersendiri bagi mereka untuk berinvestasi dengan strategis di masa depan. Ini terjadi karena mereka hanya berkutat pada diri sendiri ketika harus memutuskan alokasi modal, bagaimana meningkatkan penjualan, bagaimana cara mengurangi beban, dan secara konstan merampungkan tiap permasalahan yang muncul.

Sebagian besar pemilik bisnis kecil menginginkan bisnis mereka di masa depan dipegang oleh anak-anak dan keturunan mereka. Bisnis ini kemudian diatur dan dijalankan oleh keturunan supaya tetap berjalan. Hal ini sangat bisa dipahami, tetapi ketika semua waktu dan energi dari mereka diletakkan pada bisnis lantas siapa yang bisa menajamkan mata mereka pada kondisi keuangan pribadi?

Hampir dipastikan pemilik bisnis kecil ini terlalu sibuk pada pengembangan bisnisnya dan tidak punya waktu untuk mengamati perkembangan rupiah belakangan ini. Selain itu bagaiman perkembangan IHSG belakangan, sudah mencapai poin berapa, dan hal-hal lain yang memengaruhi investasi dan ekonomi makro. Dia juga hampir pasti melewatkan pernyataan pemerintah soal kebijakan-kebijakan ekonomi yang dibangun, bagaimana aturan soal investasi asing, dan sebagainya.

Secara singkat, seorang pemilik bisnis kecil yang cerdas akan mengtahui bahwa mendelegasikan urusan kepada pihak yang ahli akan menghemat waktu yang mereka butuhkan. Maka tidak heran bahwa sebenarnya mereka membutuhkan untuk membayar seorang pakar keuangan untuk mengurusi persoalan finansial dirinya. Bagaimanapun, ini hanyalah langkah pertama yang perlu diambil. Untuk itu mereka perlu melihat terlebih dahulu penasihat keuangan mana yang akan mereka pilih.

Faktor yang paling penting

Sebuah perusahaan finansial Securian Financial Group melakukan sebuah studi mengenai apa saja yang orang rasakan sebagai faktor paling penting ketika memilih seorang penasihat keuangan. Faktor penting itu dapat diringkas menjadi sebuah kata: relationship. Relationship atau hubungan di sini menjadi gagasan besar yang perlu digarap. Untuk menguraikan gagasan kecil lain, berikut ini kami sediakan data yang barangkali membantu:

  • Mengetahui kebutuhan saya: 27%
  • Menghormati/mengetahui merek/perusahaan tempat mereka bekerja: 26%
  • Mudah dalam berkomunikasi: 26%
  • Rekomendasi kolega: 23%
  • Rekomendasi teman/keluarga: 23%
  • Hubungan personal yang sudah ada sebelumnya: 22%

Sekarang cobalah anda perhatikan faktor yang berada di urutan bawah yang sama sekali tidak berhubungan dengan relationship:

  • Biaya pelayanan: 21%
  • Rekomendasi bank atau akuntan: 14%
  • Ahli dalam industri spesifik: 12%
  • Dapat mengidentifikasi SBO: 12%
  • Penawaran produk spesial: 9%
  • Lokasi yang sesuai: 7%

Pertanyaan penting

Kita telah mengetahui bahwa sebuah relationship yang bagus adalah faktor yang paling penting dalam membentuk kesuksesan jangka panjang. Namun hal itu tidak kemudian langsung membuat proses mencari penasihat keuangan ini kemudian menjadi sederhana dan mudah dilakukan. Dalam rangka untuk melakukan itu, cobalah ajukan beberapa pertanyaan penting kepada calon penasihat keuangan anda. Berikut pertanyaannya:

  1. Apakah anda penganut commision-based dari fee-based?

Kami menyarankan anda untuk mencari fee-based, yang berarti penasihat keuangan akan mengenakan biaya atas waktu dan saran berdasarkan jumlah tetap atau persentase dari aset yang dikelola secara triwulanan. Alasan fee based seringkali disebut sebagai pilihan yang lebih lebih baik adalah karena menerapkan transparansi secara penuh. Seorang penasihat keuangan berbasis komisi akan membuat uang pada produk keuangan yang ditawarkan kepada nda, yang mengarah ke hubungan yang lebih impersonal.

  1. Apakah anda mengkhususkan diri dalam bekerja dengan pemilik usaha kecil?
  2. Apakah anda seorang CFP?

Seorang CFP, atau penasihat keuangan yang bersertifikat, harus memenuhi kriteria pendidikan, pemeriksaan, pengalaman dan persyaratan etika.

  1. Bagaimana anda bisa menggunakan me-time yang anda miliki?
  2. Apa jenis teknologi canggih yang anda gunakan untuk menjalankan industri yang anda tekuni?
  3. Bagaimana anda akan menawarkan pelayanan pribadi kepada klien?
  4. Dapatkah Anda membantu merumuskan rencana suksesi bisnis, termasuk pajak, hukum, dan perencanaan asuransi?
  5. Apakah ada orang lain yang bisa mereferensikan anda kepada saya?

Setelah Anda memiliki semua jawaban, pastikan calon penasihat keuangan anda ini berada dalam performa yang baik dengan memeriksa Dewan CFP.

Kesimpulan dari tulisan ini sederna saja: seorang pemilik usaha kecil membutuhkan penasihat keuangan. Dengan mengikuti tips di atas, anda harus meningkatkan peluang anda untuk menemukan penasihat keuangan yang cocok untuk anda.