5 Mitos Kekayaan yang Perlu Anda Tahu

Barangkali kaya dan berlimpah harta memang bukan tujuan dari setiap orang yang bekerja. Bekerja bisa jadi tidak hanya dimaknai sebagai urusan ekonomi, tetapi sebagai cara seseorang untuk mewujudkan eksistensinya. Namun, ketika kita menjadi kaya dan memiliki harta yang melimpah, kita memang akan memiliki kuasa yang lebih besar untuk menentukan pilihan-pilihan yang ada di depan kita. Meski begitu, kita harus berhati-hati terhadap mitos kekayaan yang sering hidup di tengah-tengah masyarakat kita. Apa saja mitos-mitos tersebut?

Keuangan yang mahakuasa

Istilah ini sering digunakan untuk menggantikan sila pertama dari Pancasila. Tentu saja konteksnya adalah bercanda dan cenderung bersifat sindiran keras bagi para pejabat negara serta wakil rakyat yang tunduk pada pengusaha-pengusaha berduit. Dalam konteks kehidupan kita sehari-hari, keuangan yang mahakuasa ini adalah mitos yang seringkali ditunjukkan oleh orang berduit yang merasa bisa melakukan apa saja dan mendapatkan apa saja yang dia inginkan dengan menggunakan kekayaannya. Jelas ini adalah mitos yang berbahaya. Uang memang seringkali dikaitkan dengan kekuasaan, tapi uang bukan satu-satunya alat untuk berkuasa dan membuat kita bisa melakukan segalanya. Ada pepatah mengatakan, ?nda bisa menggunakan uang untuk membeli seekor anjing, tetapi anda tidak bisa membeli kibasan ekornya.?Apa artinya? Anjing hanya mengibaskan ekor ketika bahagia. Itulah yang dimaksud, uang sebanyak apapun tidak akan bisa membeli kebahagiaan. Itulah mengapa kita perlu waspada dan sepakat, bahwasanya memiliki uang bukanlah berarti bisa melakukan dan mendapatkan apa saja yang kita inginkan. Kita harus melatih diri kita untuk memiliki ciri dan kemampuan yang dimiliki orang yang sukses untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Baca Juga:

Baca juga: 10 Ciri-Ciri Orang yang Akan Sukses

Hemat pangkal kaya

Kita tentu sering mendengar kata-kata ini ketika masih bersekolah di sekolah dasar. Guru-guru kita sering menekankan hal ini di dalam kelas. Dalam konteks mengajari anak-anak untuk tidak memboroskan uang dengan jajan dan membeli mainan tiap hari, barangkali istilah ini tepat untuk digunakan. Namun ketika nasihat tadi ditarik dalam konteks orang dewasa, tentu saja hal ini menjadi mitos yang perlu kita ragukan kebenarannya. Mengapa demikian? Menghemat pengeluaran berarti memilih dengan tepat mana kebutuhan mana keinginan. Selain itu juga dengan memilih barang yang sesuai dengan kebutuhan dan kualitas, tidak terjebak oleh merek-merek terkenal berharga mahal yang sebenarnya memiliki fungsi yang sama dengan barang lain. Pertanyaannya, bagaimana mungkin penghematan-penghematan seperti itu membuat kita kaya? Memang tidak, penghematan itu barangkali hanya mengurangi pengeluaran tetapi tidak menambah kekayaan kita.

Menabung pangkal kaya

Nasihat ini juga sering disampaikan oleh guru-guru kita. Kita diajak untuk menabung, menyisihkan uang saku yang diberikan oleh orangtua kita untuk keperluan-keperluan yang tidak kita rencanakan. Nasihat itu baik untuk menahan kita untuk tidak boros dan hidup seperlunya. Lagi-lagi, ketika kita tarik ke konteks yang sekarang, apakah memang benar demikian? Apakah menabung memang membuat kita kaya? Tentu saja jawabannya tidak.

Jika kita menabung uang Rp100 juta, nilai itu akan mengecil tiap tahun karena tergerus inflasi. Rp100 juta yang dulu bisa digunakan untuk membeli macam-macam, beberapa tahun lagi tidak akan bisa karena inflasi akan membuat harga barang menjadi lebih mahal. Sedangkan jika uang Rp100 juta itu kita belikan emas batangan, misalnya, lima tahun lagi harganya akan naik dengan cukup tinggi. Kita tentu tahu bahwa harga emas akan selalu naik, layaknya harga tanah dan rumah. Jadi, investasilah yang lebih mungkin untuk membuat kita kaya, bukan (sekadar) menabung.

Baca: Mengapa Anda Harus Melirik Investasi Emas Batangan?

Orang kaya = pendidikan tinggi

Kita sering mendengar mitos bahwa orang kaya selalu memiliki pendidikan tinggi. Memang seringkali yang kita lihat adalah seperti itu, bukan? Katakanlah Hary Tanoesoedibjo, pengusaha di Indonesia yang memiliki jaringan televisi yang disebut-sebagai terbesar di Asia Tenggara. Pada tahun 1988 dia meraih gelar Bachelor of Commerce (Honours) dari Carleton University, Ottawa, Kanada. Setahun berikutnya, 1989, dia mendapatkan gelar Master of Business Administration dari Ottawa University, Ottawa, Kanada. Jadi, seringkali kita memang melihat bahwa orang kaya itu dihasilkan dari keluarga kaya yang mampu bersekolah hingga tinggi, lalu menduduki posisi atau membangun perusahaan yang membuatnya semakin kaya. Namun, benarkah demikian?

Tanpa meragukan bahwa pola-pola itu memang ada, tapi itu bukanlah suatu keniscayaan. Itu adalah mitos. Mitos itu tidak berlaku untuk Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti, misalnya. Dia adalah seorang pengusaha yang sangat sukses, dengan status lulusan SMP. Berawal dari pekerjaannya sebagai nelayan, kini dia memiliki perusahaan penerbangan Susi Air. Lantas apa yang membuatnya berhasil meraih kekayaan? Tentu saja pikiran yang memang cerdas dan selalu aktif, kemauan dan daya tahan yang sangat tinggi untuk meraih sesuatu, dan tentu saja keberanian dan percaya diri untuk meyakini pandangannya.

Sesudah kaya, tidak perlu bekerja

Seringkali kita mendengar logika yang mirip seperti ini. Orang-orang akan berusaha mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya, lalu setelah itu bisa segera pensiun untuk duduk santai menikmati kekayaan itu. Atau ada juga yang getol menginvestasikan uangnya untuk membuat dia memiliki pendapatan pasif. Artinya, dia mendapatkan uang secara rutin setiap bulannya tanpa harus bekerja. Apakah benar hal seperti ini?

Kadang kita perlu menganggap ini sebagai mitos. Mengapa? Karena orang bekerja bukan hanya karena uang, bukan hanya untuk menjadi kaya. Sekali lagi, orang bekerja itu juga untuk eksistensi dirinya di hadapan manusia yang lain. Dengan bekerja, dia akan memacu diri untuk menambah pengetahuan supaya memiliki kualitas yang lebih baik lagi. Dengan bekerja, dia memaksa diri untuk berhubungan baik dengan orang lain yang menjadi rekanan kerjanya, apapun keburukan sifat yang dimiliki oleh orang itu. Jadi, bekerja adalah hidup itu sendiri, bukan semata-mata mengejar kekayaan. Kekayaan adalah sarana kita untuk memperoleh kehidupan lebih baik.

Baca juga: 10 Cara Menjadi Kaya