10 Tempat Wisata Oke di Yogyakarta

Anda sedang akan berwisata ke Yogyakarta? Sebuah pilihan yang tepat untuk merilekskan tubuh dan pikiran anda dari kesibukan anda sehari-hari. Yogyakarta adalah salah satu kota yang sering dijadikan tempat wisata baik olah turis asing maupun lokal. Kota ini dinilai memiliki beragam pilihan wisata, mulai dari sejarah, budaya, kesenian, maupun keindahan alam yang jangan sampai anda lewatkan. Biaya wisata di kota ini juga relatif murah dengan pilihan wisata yang luar biasa memanjakan mata anda.

Nah, kali ini kami akan membagikan 10 tempat wisata oke di Yogyakarta. Untuk mempermudah pencarian anda, kami membaginya menjadi lima macam tempat wisata yang masing-masing kami beri dua pilihan terbaik untuk anda.

Pertama, anda bisa mengunjungi tempat wisata dalam kota Yogyakarta. Keuntungannya adalah anda tidak perlu melakukan perjalanan jauh karena letaknya berdekatan, dan biasanya memang dekat dengan tempat-tempat penginapan bagi wisatawan. Berikut dua tempat yang kami rekomendasikan:

  1. Taman Sari

Taman Sari seringkali disebut sebagai istana air (water castle) karena jaman dahulu memang dikelilingi oleh segaran(danau buatan) dengan wewangian dari bunga-bunga yang sengaja ditanam di pulau buatan di sekitarnya. Tempat yang sangat indah ini dahulu digunakan oleh putri-putri untuk mandi dan bercengkerama di sela-sela gemericik air. Pangeran Mangkubumi, yang diberi gelar Sultan Hamengku Buwono I adalah raja yang memerintahkan untuk membangun istana air ini. Dia meminta seorang arsitek berkebangsaan Portugis dan Bupati Madiun untuk membangun istana ini. Ada tiga bagian dalam kolam pemandian: Umbul Kawitan (kolam untuk putra-putri Raja), Umbul Pamuncar (kolam untuk para selir), dan Umbul Panguras (kolam untuk Raja). Di atas kolam tersebut ada gapura dan area yang hanya diperbolehkan untuk raja dan keluarganya. Namun kini wisatawan diperbolehkan untuk masuk ke tempat tersebut. Dari atas tersebut raja dapat menyaksikan tari-tarian wanita. Di Taman Sari ini anda akan menemukan barang-barang peninggalan raja yang menyimpan cerita yang menarik untuk dibayangkan pada masanya.

  1. Alun Alun Kidul

Tidak jauh dari Taman Sari anda dapat pergi ke Alun Alun Kidul pada malam hari. Alun Alun Kidul ini sebenarnya adalah halaman belakang dari Kraton (Istana), sedangkan halaman depannya adalah Alun Alun Lor. Anda pasti pernah mendengar masangin (masuk dua beringin). Ya, di sinilah tempatnya. Lapangan luas yang di tengah-tengahnya ada dua pohon beringin tua. Anda ditantang untuk berjalan melewati dua beringin itu dengan mata tertutup kain. Cerita yang berkembang adalah jika anda berhasil melewati dua beringin tersebut, permohonan anda akan terkabul. Hampir setiap malam tempat ini ramai dikunjungi oleh wisatawan yang penasaran ingin mencoba permainan ini. Tidak sedikit wisatawan yang berbelok arah sebelum bisa melewati dua beringin tersebut. Keceriaan tampak dari wajah para wisatawan yang melakukan hal ini. Nah, di sekeliling Alun Alun Kidul ini anda bisa menemui mobil kayuh dengan lampu-lampu yang menarik mata. Anda bisa menaiki mobil ini bersama dengan keluarga atau teman wisata anda. Dengan mobil itu anda berkeliling Alun Alun Kidul dengan biaya yang relatif murah. Setelah itu anda bisa memilih berbagai macam jajanan yang ada di sekeliling Alun Alun Kidul. Keramaian wisatawan, keindahan langit malam, dan dendang lagu dari pengamen-pengamen bertalenta akan menghadirkan kenangan yang berkesan bagi anda.

Kedua, anda akan kami ajak untuk mengenal dua tempat wisata outdoor atau alam bebas yang menjadi rekomendasi kami:

  1. Gua Pindul

Gua ini adalah salah satu gua yang merupakan rangkaian dari 7 gua dengan aliran sungai bawah tanah yang ada di Desa Bejiharjo, Karangmojo, Gunung Kidul. Anda akan diajak berbasah-basah ria dengan cara menyusuri sungai dalam gua dengan menggunakan perahu karet. Jangan khawatir mengenai keselamatan, karena setiap wisatawan diwajibkan mengenakan pelampung dan didampingi oleh pemandu dalam satu kelompok wisatawan. Sensasi menyusuri gua ini akan anda dapatkan selama kurang lebih satu jam dengan panjang 300 meter. Waktu terbaik untukcave tubingdi Gua Pindul adalah pagi hari sekitar pukul 09.00 atau 10.00 WIB. Selain karena airnya tidak terlalu dingin, jika cuaca sedang cerah pada jam-jam tersebut akan muncul cahaya surga yang berasal dari sinar matahari yang menerobos masuk melewati celah besar di atap gua.

  1. Air Terjun Sri Gethuk

Air Terjun ini terletak di Dusun Menggoran, Bleberan, Gunung Kidul. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Gua Pindul. Untuk mencapai tempat ini Anda harus naik kendaraan melewati areal hutan kayu putih milik PERHUTANI dengan kondisi jalan yang bervariasi mulai dari aspal bagus hingga jalan makadam. Berwisata ke air terjun ini lebih baik dimulai ketika sebelum siang agar anda bisa merasakan kesejukan air yang sempurna. Di sisi air terjun anda akan disuguhi pemandangan tebing-tebing kapur yang mengingatkan kita akan kebesaran Sang Pencipta. Berdasarkan cerita yang dipercayai masyarakat, air terjun tersebut merupakan tempat penyimpanan kethuk yang merupakan salah satu instrumen gamelan milik Jin Anggo Meduro. Oleh karena itu disebut dengan nama Air Terjun Sri Gethuk. Konon, pada saat-saat tertentu masyarakat Dukuh Menggoran masih sering mendengar suara gamelan mengalun dari arah air terjun.

Bangsa Mesir punya piramida dan sphinx, bangsa Babylonia punya taman gantung yang tersohor, dan bangsa kita punya candi-candi yang luar biasa megah. Maka, pada kategori ketiga ini kami merekomendasikan dua candi yang sayang untuk anda lewatkan ketika berkunjung ke Yogyakarta.

  1. Candi Ijo

Candi Ijo dibangun sekitar abad ke-9, di sebuah bukit yang dikenal dengan Bukit Hijau atau Gumuk Ijo yang ketinggiannya sekitar 410 m di atas permukaan laut. Karena ketinggiannya, maka bukan saja bangunan candi yang bisa dinikmati tetapi juga pemandangan alam di bawahnya berupa teras-teras seperti di daerah pertanian dengan kemiringan yang curam. Meski bukan daerah yang subur, pemandangan alam di sekitar candi sangat indah untuk dinikmati. Kompleks candi terdiri dari 17 struktur bangunan yang terbagi dalam 11 teras berundak. Teras pertama sekaligus halaman menuju pintu masuk merupakan teras berundak yang membujur dari barat ke timur. Bangunan pada teras ke-11 berupa pagar keliling, delapan buah lingga patok, empat bangunan yaitu candi utama, dan tiga candi perwara. Peletakan bangunan pada tiap teras didasarkan atas kesakralannya. Bangunan pada teras tertinggi adalah yang paling sakral. Dari tempat ini anda akan menemukan kebesaran leluhur bangsa yang luar biasa. Tempat memuja sekaligus bersyukur karena bisa menikmati keindahan dari atas bukit.

  1. Candi Istana Ratu Boko

Menjelang sore, bergegaslah menuju candi ini, letaknya tidak jauh dari Candi Ijo. Istana ini terletak di 196 meter di atas permukaan laut. Areal istana seluas 250.000 m2terbagi menjadi empat, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur. Bagian tengah terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban. Sementara, bagian tenggara meliputi Pendopo, Balai-Balai, 3 candi, kolam, dan kompleks Keputren. Kompleks gua, Stupa Budha, dan kolam terdapat di bagian timur. Sedangkan bagian barat hanya terdiri atas perbukitan. Omong-omong, mengapa kami merekomendasikan menjelang sore? Karena, bersiaplah, jika waktunya tepat anda akan menikmati pemandangan matahari terbenam terindah yang pernah anda saksikan. Matahari terbenam diiringi siluet gapura candi yang akan membuat anda tersenyum dan kagum akan kebesaran leluhur kita.

Selain kota pelajar, Yogyakarta juga dikenal sebagai kota budaya. Berikut dua tempat yang menjadi rekomendasi kami:

  1. Ramayana Ballet

Ini adalah pertunjukan tari yang sangat luar biasa dan mengagumkan. Bisa dikatakan hampir tidak ada kesenian tari di dunia yang mampu menandingi pertunjukan tari ini. Anda bisa menontonnya di kompleks Candi Prambanan, tidak terlalu jauh dari Candi Istana Ratu Boko. Atau anda juga bisa menonton di Purawisata, Yogyakarta. Biasanya pertunjukan tari ini dimulai pada malam hari. Gelap malam, hawa dingin, kemolekan penari, dan keindahan cerita akan menawarkan kekaguman yang sulit untuk tidak anda ceritakan kepada kerabat, saudara, dan kawan anda. Pertunjukan ini mampu menyatukan ragam kesenian Jawa berupa tari, drama dan musik dalam satu panggung dan satu momentum untuk menyuguhkan kisah Ramayana, epos legendaris karya Walmiki yang ditulis dalam bahasa Sanskerta. Tak ada dialog yang terucap dari para penari, satu-satunya penutur adalah sinden yang menggambarkan jalan cerita lewat lagu-lagu dalam bahasa Jawa dengan suaranya yang khas.

  1. Jazz Mben Senen

Setiap hari Senin pukul 20.00 sampai tengah malam bergegaslah ke Bentara Budaya, dekat kawasan Kotabaru. Anda akan menikmati suguhan musik Jazz yang diselenggarakan oleh Komunitas Musik Jazz Jogja. Pertunjukan ini diadakan di halaman, dengan konsep yang terbuka, siapa saja boleh main asal bisa mengikuti skill para pemusik yang lain. Menariknya, anda tidak perlu membeli tiket untuk menikmati pertunjukan ini! Ya, anda hanya perlu memberikan sumbangan sukarela ke dalam sebuah kotak yang nanti akan diputarkan ke pengunjung di tengah-tengah acara. Tentu saja anda akan merasakan sensasi yang unik ketika datang ke tempat ini. Jazz biasanya adalah musik kelas menengah atas yang dipertunjukkan di gedung megah, tapi kali ini musik jazz akan sedikit bersaing dengan suara knalpot dan masyarakat tanpa perlu memandang siapa mereka. Ketika menonton acara ini anda akan merasakan pancaran energi seni yang luar biasa hebat dari para seniman musik di Yogyakarta.

Setiap kota pasti memiliki sejarah perjuangan yang unik, begitu juga dengan Yogyakarta. Berikut dua tempat wisata bersejarah yang kami rekomendasikan untuk anda:

  1. Kotagede

Barangkali anda mengenal Kotagede sebagai pusat kerajinan perak saja. Padahal tidak hanya itu saja, tempat ini menyimpan cerita sejarah kerajaan Mataram Islam yang menjadi cikal bakal Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Kotagede adalah bekas ibukota kerajaan Mataram Islam. Mulai 1601, kerajaan ini menguasai hampir seluruh Pulau Jawa (kecuali Banten dan Batavia) dan mencapai puncak kejayaannya di bawah pimpinan raja ke-3, yaitu Sultan Agung (cucu Panembahan Senapati). Pada tahun 1613, Sultan Agung memindahkan pusat kerajaan ke Karta (dekat Plered) dan berakhirlah era Kotagede sebagai pusat kerajaan Mataram Islam. Beberapa peninggalan sejarah yang bisa kita temukan di sana adalah Pasar Kotagede, kompleks makam pendiri kerajaan, masjid Kotagede, rumah tradisional, reruntuhan benteng istana, dan masih banyak lagi karya-karya arsitektural yang mengingatkan kita tentang kejayaan masa lalu kita.

  1. Pabrik Gula Madukismo

Selain dapat mengetahui proses pembuatan gula pasir, anda akan mengetahui cerita sejarah yang menarik di balik pabrik gula ini. Anda akan diajak jalan-jalan ke beberapa tempat produksi di pabrik ini dengan naik kereta api tua. Biasanya anda memang harus mengikuti program wisata yang ditawarkan oleh pihak sana. Setelah keliling pabrik selesai, anda masih bisa melakukan napak tilas melewati rel-rel kereta yang dulu digunakan untuk mengangkut tebu dari desa-desa di wilayah Bantul ke lokasi pabrik sambil melihat pemandangan sawah yang hijau. Di wilayah sebelah timur pabrik, anda juga bisa menemui gerbong-gerbong pengangkut tebu yang kini juga sudah tidak terpakai. Berdasarkan cerita yang beredar, besi-besi bekas dari lokasi pabrik ini pernah diangkut ke Thailand untuk membangun Jembatan Sungai Kwai, jembatan penghubung Thailand dan Burma yang merupakan lokasi pertempuran seru pada masa Perang Dunia ke 2 dan pernah diangkat dalam filmThe Bridge of the River Kwai. Tentu saja ini menjadi cerita yang menarik bagi wisatawan, terutama orang Thailand.