BBM naik, kenapa inflasi tinggi dan Dollar ikut naik

Saat ini sedang hangat berita tentang akan adanya kenaikan harga BBM di bulan Juni 2008. Trend harga minyak dunia yang terus naik, menyebabkan pemerintah Indonesia mau tidak mau harus menyesuaikan keadaan dengan jalan menaikkan harga BBM di dalam negri.

Sebenarnya, bukan kenaikan harga BBM yang dipermasalahkan rakyat kebanyakan, tapi kenaikan harga barang secara umum (inflasi) akan cukup tinggi dan masyarakat kebanyakan akan menderita hingga terjadinya equilibrium baru.

Masyarakat Indonesia masih belum lupa, bahwa kenaikan harga BBM baru saja terjadi pada tahun 2005 dengan tingkat kenaikan harga yang cukup signifikan. Memerlukan waktu yang cukup lama untuk mencapai tingkat equilibrium baru. Bahkan hingga saat ini, equilibrium baru tersebut belum terjadi secara menyeluruh. Namun sebelum masyarakat mencapai tingkat equilibrium baru tersebut secara menyeluruh, masyarakat kembali dihadapkan pada kenaikan harga BBM yang akan segera kita hadapi bersama.

Menggelitik pertanyaan, mengapa ketika harga minyak dunia naik, kurs USD ikut naik, dan harga-harga barang dan jasa dalam negri ikut naik secara signifikan ? Bahkan kenaikan harga di Indonesia tela terjadi sebelum kenaikan harga BBM dimulai.

Kita bahas satu per satu, yakni kenaikan kurs USD terhadap nilai tukar IDR.
Ketika harga minyak dunia naik, maka bukan hanya Indonesia saja yang terkena dampaknya, tapi kebanyakan negara importir minyak, termasuk negara maju. Dalam hal ini Amerika juga terkena dampaknya. Sudah tentu di Amerika juga terjadi kenaikan harga barang, karena biaya transportasi yang meningkat. Banyak penduduk di Amerika terpaksa menderita akibat kenaikan harga ini. Tidak semua penduduk di Amerika kaya raya. Banyak sekali peduduk yang juga hidupnya sedang-sedang saja dan banyak juga yang miskin. Intinya, penduduk menengah ke bawah akan menderita. Sedangkan kelas menengah ke bawah ini termasuk yang paling banyak jumlahnya di Amerika.

Menurut hukum permintaan, jika terjadi banyak pemintaan, maka harga akan naik.
Jadi Pemerintah Amerika berusaha mengurangi permintaan akan barang dan jasa, dengan cara menarik uang beredar dari masyarakat. Hal ini dilakukan dengan jalan menaikkan suku bunga bank dengan harapan penduduk di Amerika akan menunda pembelian mereka dan menyimpan uangnya di bank. Dengan berkurangnya uang beredar, maka permintaan akan barang dan jasa berkurang, dan harga akan turun. Berarti inflasi juga akan turun dan akan meringankan beban penduduk Amerika.

Tapi, karena suku bunga USD naik, maka banyak orang berlomba-lomba menyimpan uangnya di bank. Para korporasi, pengelola dana pensiun dan banyak perusahaan pengelola kekayaan / aset di luar Amerika, termasuk mereka yang berada di Indonesia akan mengkonversi dana mereka kembali dalam USD dan menyimpan uangnya dalam bentuk USD, baik di dalam negri Amerika ataupun di bank-bank di seluruh dunia. Sesuai hukum permintaan, jika terjadi banyak permintaan akan USD, maka harga USD akan naik. Jadi itu sebabnya mengapa ketika harga minyak dunia naik, kurs USD terhadap IDR juga naik.

Lalu mengapa ketika harga BBM dalam negri naik, maka terjadi inflasi yang cukup tinggi ? Bahkan kenaikan harga-harga barang dan jasa telah terjadi lebih dulu sebelum kenaikan harga  BBM benar-benar terjadi.

Banyak penduduk di Indonesia berpikir, bahwa dengan terjadinya kenaikan harga BBM, maka biaya transportasi akan meningkat yang berujung pada kenaikan harga barang dan jasa. Itu tidak salah. Tapi jika demikian, lalu mengapa harga-harga sudah naik lebih dulu sebelum terjadi kenaikan harga BBM ? Karena banyak penduduk ingin menikmati harga lama sebelum terjadinya kenaikan harga baru suatu barang. Maka banyak penduduk membeli barang lebih dulu sebelum terjadi kenaikan harga.

Masalahnya, yang berpikir demikian itu ada lebih dari 100 juta penduduk Indonesia. Alhasil, ada lebih dari 100 juta penduduk yang membeli barang secara bersamaan. Sesuai hukum permintaan, ketika terjadi banyak permintaan, maka harga akan naik. Jadi, harga-harga sudah naik lebih dulu, karena terjadi adanya banyak permintaan, bukan karena kenaikan harga BBM tu sendiri. Di sini terlihat faktor psikologis penduduk Indonesia yang rentan akan issue kenaikan harga BBM.

Dan ketika harga BBM benar-benar naik, maka dampak kenaikan harga barang scara umum (inflasi) akan luar biasa sekali terhadap kehidupan masyarakat banyak di Indonesia. Jadi yang patut dikaji dalam hal ini adalah bagaimana mengurangi faktor psikologis masyarakat terhadap kenaikan harga BBM, karena kenaikan harga BBM itu sendiri sebenarnya tidaklah terlalu besar. Jika setiap orang tidak heboh dengan issue kenaikan harga BBM, maka setiap orang akan berlaku sama dalam melakukan konsumsi barang dan jasa. Jika setiap orang mampu menunda / mengurangi pembelian tersebut, akan terjadi penurunan permintaan. Walaupun kenaikan harga tidak dapat dicegah, namun kita dapat meminimalkan kenaikan harga barang dan jasa tersebut.

Mari, kita mulai mengurangi faktor psikologis tersebut dari masing-masing diri kita sendiri. Jika kita mulai dari diri kita sendiri dan jika masing-masing dari 100 juta lebih penduduk Indonesia dapat mengurangi dampak faktor psikologis tersebut, maka kita semua sebenarnya telah membantu mengurangi beban masyarakat banyak, dan kita juga telah membantu diri kita sendiri. Mari, .. kita mulai dengungkan dari mulut ke mulut, dalam arisan-arisan dan dalam setiap kegiatan perkumpulan yang ada, kita dengungkan pengurangan dampak faktor psikologis ini. (Harry Gozali)

Leave a Reply